<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
  <channel>
    <title>DSpace Collection:</title>
    <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/7004</link>
    <description />
    <pubDate>Thu, 09 Apr 2026 03:40:54 GMT</pubDate>
    <dc:date>2026-04-09T03:40:54Z</dc:date>
    <item>
      <title>Rasionalitas  Terapi  Antibiotik  Empiris  Pada  Pasien  Geriatri Dengan Community-Acquired Pneumonia di RSMardi Rahayu</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/7018</link>
      <description>Title: Rasionalitas  Terapi  Antibiotik  Empiris  Pada  Pasien  Geriatri Dengan Community-Acquired Pneumonia di RSMardi Rahayu
Authors: Noviana Aryadi, Kristi; Probosuseno, Probosuseno; Ikawati, Zullies
Abstract: ABSTRAKCommunity-acquired Pneumonia(CAP) adalah penyakit infeksi akut yang mengenai jaringan (paru-paru)   tepatnya   di   alveoli   yang   didapat   di   masyarakat.   Insiden   pneumonia   meningkat   seiring bertambahnya usia karena perubahan fisiologis dan status imunologiyang terkait dengan penuaan dan adanya  komorbiditas  pada  usia  lanjut.  Pneumonia  merupakan  penyakit  infeksi  terbesar  di  RS  Mardi Rahayu   pada   tahun   2020   sampai   dengan   2022.   Pemilihan   antibiotik   empiris   yang   tidak   tepat menyebabkan  resistensi  antibiotik  dan penggunaannya  yang  terlalu  lama  dapat  meningkatkan  lama perawatan sehingga biaya perawatan meningkat. Analisis rasionalitas penggunaan antibiotik empiris yang spesifik  pada  pasien  geriatri  denganCAPdi  RS  Mardi  Rahayu  belum  pernah  dilakukan.  Penelitian  ini bertujuan mengetahui rasionalitas terapi antibiotik empiris pada pasien geriatri dengan CAP. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif dan analitik observasional dengan metode cross-sectional.Analisis terhadap   rasionalitas   terapi   antibiotik   empiris   menggunakan   metode Gyssens. Hasil   penelitian menunjukkan jumlah pasien geriatri yang didiagnosaCAPyang dirawat inap di RS Mardi Rahayu periode Januari -Desember 2022 yang memenuhi kriteria inklusi adalah 139 pasien dengan jumlah 158 regimen antibiotik.  Hasil  analisis  rasionalitas  menunjukkan  bahwa  sebanyak 95  regimen  antibiotik  (60,1%)  termasuk  kategori  0  (nol)  yang  artinya  penggunaan  antibiotik  rasional.  Ketidakrasionalan  penggunaan antibiotik terjadi pada 63 regimen pada kategori IV-A sebanyak 40 kasus (25,3%), IV-B sebanyak 9 kasus (5,7%), IV-C sebanyak 2 kasus (1,2%), III-A sebanyak 9 kasus (5,7%), III-B sebanyak 20 kasus (12,6%) dan II-A sebanyak 2 kasus (1,2%).Kata Kunci: antibiotik;Community-acquired Pneumonia; geriatri; empiris; rasionalitas</description>
      <pubDate>Mon, 25 Sep 2023 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/7018</guid>
      <dc:date>2023-09-25T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Perbandingan  Luaran  Klinis  Favipiravir  dan  Remdesivir  pada Pasien   Covid-19   Derajat   Sedang   di   RS   Akademik   UGM Yogyakarta</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/7015</link>
      <description>Title: Perbandingan  Luaran  Klinis  Favipiravir  dan  Remdesivir  pada Pasien   Covid-19   Derajat   Sedang   di   RS   Akademik   UGM Yogyakarta
Authors: Hadiatussalamah, Hadiatussalamah; Murti Andayani, Tri; Puspita Sari, Ika
Abstract: ABSTRAKPenelitian mengenai antiviral yang efektif untuk COVID-19 masih terus dilakukan hingga saatini. Favipiravir  dan  remdesivir  merupakan  antiviral  yang  telah  direkomendasikan  di  Indonesia.  Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan luaran klinis favipiravir dan remdesivir pada pasien COVID-19  derajat  sedang.  Penelitian  ini  merupakan  penelitian cohort  retrospective yang  dilakukan  di  RS Akademik UGM Yogyakarta menggunakan data rekam medis elektronik pasien COVID-19 derajat sedang yang  dirawat  inap  sejak  Juni  2021-Maret  2022.  Masing-masing  kelompok  terapi  terdiri  dari  88  subjek. Luaran  klinis  berupa  kondisi  membaik  dan  belum  membaik  dinilai  menggunakan  skala  ordinal  7  poin progresivitas  dan  penyembuhan  COVID-19  dari  WHO.  Analisis Chi-square dan  regresi logistik  berganda dilakukan   untuk   mengetahui   hubungan   variabel   penelitian.   Subjek   penelitian   dengan   persentase terbanyak  usia  18-59  tahun  (70,5%),  jenis  kelamin  laki-laki  (53,4%),  tidak  obesitas  (64,2%).  Penyakit penyerta yang paling banyak adalah diabetes melitus (33%) dan hipertensi (30%). Kelompok favipiravir memberikan luaran klinis yang lebih baik daripada remdesivir. Proporsi pasien membaik pada kelompok favipiravir sebesar 50,0% dan 35,3% pada kelompok remdesivir dengan perbedaan yang bermakna secara statistik (p-value = 0,048). Tidak terdapat  perbedaan yang bermakna terkait angka kejadian yang  tidak diinginkan  pada  kedua  kelompok  penelitian  (p-value &gt;  0,05). Adverse  drug  event yang  paling  banyak terjadi adalah mual (35,2%), muntah (14,2%) dan heartburn(11,4%).Kata kunci: COVID-19; antiviral; luaran klinis; favipiravir; remdesivir</description>
      <pubDate>Mon, 24 Jul 2023 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/7015</guid>
      <dc:date>2023-07-24T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Measurement  of  Medication  Adherence  Behavior  in  Type  2 Diabetes   Mellitus   Patients   Using   Probabilistic   Medication Adherence Scale (ProMAS)</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/7012</link>
      <description>Title: Measurement  of  Medication  Adherence  Behavior  in  Type  2 Diabetes   Mellitus   Patients   Using   Probabilistic   Medication Adherence Scale (ProMAS)
Authors: Ayu Rahmawati, Dini; Wahyuni Widayanti, Anna; Ari Kristina, Susi
Abstract: ABSTRACTDiabetes mellitus is a chronic disease that requires long-term treatment, which affects medication adherence. Adherence measurement can be done using a questionnaire like the Probabilistic Medication Adherence Scale (ProMAS). This study aims to determine the relationship between demographic factors and  medication  adherence  scores  in  patients  with  diabetes  mellitus.  The  research  uses  a  quantitative research approach with a cross-sectional design. The convenience sampling method was used to select 112 respondents between January-April 2023 at various primary healthcare facilities in the Special Region of Yogyakarta. The ProMAS scoring results were based on the highest rankings, with 42.8% of respondents having a moderate-to-high adherence level, 41.1% of respondents having a high adherence level, 15.2% of respondents having a moderate-low adherence level, and 0.9% of respondents having a low adherence level.  Diabetes  mellitus  patients  in  Yogyakarta  show  a  high  level  of  medication  adherence.  The  most frequent  non-adherent behaviourwas  found  in  4  questions:  respondents  forgot  to  take  or  inject medication (61.61%); respondents took or injected medication (one of them) slower than usual schedule (55.36%); respondents did not always take or inject medication at the same time every day (62.5%); and respondents forgot to take or inject medication at least once in the past month (58.04%). The statistical analysis indicates no relationship between demographic characteristics, the total number of medications, and the total frequency of medication with adherence levels. This indicates that diabetes mellitus patients with low or high adherence levels are unaffected by the above factors.Keyword: Diabetes Mellitus; Medication Adherence; Probabilistic Medication Adherence Scale</description>
      <pubDate>Tue, 18 Jul 2023 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/7012</guid>
      <dc:date>2023-07-18T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Kajian Efek Samping Obat Kemoterapi Dosetaksel Pada Kanker Payudara di RS Bhayangkara Kediri</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/7009</link>
      <description>Title: Kajian Efek Samping Obat Kemoterapi Dosetaksel Pada Kanker Payudara di RS Bhayangkara Kediri
Authors: Wijayanti, Nunuk; Rahmawati, Fita; Pramugyono, Pramugyono
Abstract: ABSTRAKDosetaksel merupakan salah satu obat kemoterapi pada kanker payudara. Pemberian kemoterapi dapat menimbulkan berbagai efek samping. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran efek samping obat non hematologi dan hematologi dari penggunaan kemoterapi dosetaksel. Efek samping non hematologi yang diamati   meliputi   gangguan   dermatologi,   gangguan   endokrin   dan   metabolik,   dan   gangguan terkait gastrointestinal.   Sedangkan   efek   samping   hematologi   yang   diamati  meliputi  anemia,   trombositopenia, leukopenia, dan neutropenia. Penelitian menggunakan desain cross sectionaldengan pengambilan data secara prospektif pada 45 pasien yang menjalani kemoterapi regimen dosetaksel dengan dosis 100mg/m2di Rumah Sakit Bhayangkara Kediri pada bulan Januari 2022 –Maret 2023. Pengambilan data dilakukan melalui catatan rekam  medik  kemudian  identifikasi  efek  samping  obat  dilakukan  melalui  diskusi  apoteker  dengan  klinisi konsultan  bidang  onkologi.  Evaluasi  data  dilakukan secara  deskriptif  dalam  bentuk  pesentase.  Kejadian  efek samping  non  hematologi  yang  paling  banyak  terjadi  adalah  rambut  rontok  mencapai  80%  dikuti  dengan kejadian  reaksi  hipersensitivitas  kulit sebesar  73,3%  dan  perubahan  kuku  mencapai  48,9%.  Pada  tingkat keparahan  ringan  (grade  1),  reaksi  hipersensitivitas  kulit  adalah  kejadian  tertinggi  sejumlah  73,3%  diikuti dengan  kejadian  rambut  rontok  sebesar  64,4%.  Efek  samping  hematologi  terbesar  adalah  anemia.  Pasien mengalami anemia dengan grade 1 sebanyak 37.3% dan 2,2% terjadi pada grade 2. Efek samping dosetaksel yang terjadi pada penelitian ini secara keseluruhan masuk dalam kategori ringan (grade 1) dan sedang (grade 2). Sebagian besar pasien masih dapat mentoleransi gejala efek samping yang timbul.Pemantauan terhadap efek samping obat dan pengelolaan gejala yang timbul dengan segera diperlukan untuk mengurangi keparahan dan peningkatan kualitas hidup pasien. Kata Kunci: dosetaksel; efek samping; kemoterapi</description>
      <pubDate>Thu, 27 Jul 2023 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/7009</guid>
      <dc:date>2023-07-27T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
  </channel>
</rss>

