<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
  <channel>
    <title>DSpace Collection:</title>
    <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6950</link>
    <description />
    <pubDate>Wed, 08 Apr 2026 23:25:09 GMT</pubDate>
    <dc:date>2026-04-08T23:25:09Z</dc:date>
    <item>
      <title>Kepatuhan  terhadap  Protokol  Kesehatan  oleh  Tenaga  Teknis Kefarmasian di Apotek</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6968</link>
      <description>Title: Kepatuhan  terhadap  Protokol  Kesehatan  oleh  Tenaga  Teknis Kefarmasian di Apotek
Authors: Muin, Fathul; Wahyuni Widayanti, Anna; Suryo Prabandari, Yayi
Abstract: ABSTRAKTenaga Teknis Kefarmasian sebagai salah satu tenaga kesehatan memiliki risiko yang tinggi untuk tertular  virus  COVID-19  karena  sering  melakukan  kontak  langsung  dengan  masyarakat  yang  sakit  dan keluarga pasien COVID-19 yang berkunjung ke Apotek. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kepatuhan  TTK  terhadap  protokol  kesehatan  pencegahan  COVID-19  dan  hubungannya  dengan  tingkat pengetahuan, lingkungan-organisasi dan efikasi diri. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptifyang menggunakan  kuesionar  tingkat  kepatuhan  dan  kuesioner  faktor  yang  berpangaruh  terhadap  tingkat kepatuhan  sebagai  instrumen.  Data  dikumpulkan  dari  partisipan  yang  dipilih  secara simple  random samplingpada  Tenaga  Teknis  Kefarmasian  di  Apotek  wilayah  Kabupaten  Sleman.  Sebanyak98  Tenaga Teknis Kefarmasian berpartisipasi dalam penelitian ini. Tingkat kepatuhan dibagi menjadi kategori rendah, sedang dan tinggi. Sebagian besar responden berada pada tingkat kepatuhan sedang (61,2%), diikuti oleh tingkat kepatuhan tinggi (35,7%) danhanya 3,1% responden dengan tingkat kepatuhan rendah. Analisis data   dilakukan   dengan   metode   potong-lintang   dan   uji   statistikdengan   aplikasi   SPSS   dengan membandingkan   ketiga   faktor   terhadap   tingkat   kepatuhan.   Hasil   penelitian   menunjukkan   faktor lingkungan-organisasi dan efikasi diri menunjukkanhasil yang signifikan yaitu p&lt;0,05 dan nilai Pearson Correlation masing-masing 0,393 dan  0,350. Faktor tingkat pengetahuan menunjukkan hasilyang tidak signifikan yaitu p&gt;0,05 dengan nilai Pearson Correlationsebesar 0,152. Terdapat hubungan antara faktor lingkungan-organisasi dan efikasi diri terhadaptingkat kepatuhan Tenaga Teknis Kefarmasianterhadap penerapan protokol kesehatan COVID-19. Faktortingkat pengetahuan tidak memiliki korelasi terhadap tingkat kepatuhan Tenaga Teknis Kefarmasian pada penerapan protokol kesehatan pencegahan COVID-19.Kata Kunci : Tenaga Teknis Kefarmasian; COVID-19;protokol kesehatan;efikasi diri</description>
      <pubDate>Thu, 30 Dec 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6968</guid>
      <dc:date>2021-12-30T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>274DOI : 10.22146/jmpf.69095|JMPF Vol 11(4), 2021JMPF Vol. 11 No. 4: 274-285ISSN-p : 2088-8139ISSN-e : 2443-2946Analisis Mutu Pengelolaan Obat di Puskesmas Kota Tegal</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6967</link>
      <description>Title: 274DOI : 10.22146/jmpf.69095|JMPF Vol 11(4), 2021JMPF Vol. 11 No. 4: 274-285ISSN-p : 2088-8139ISSN-e : 2443-2946Analisis Mutu Pengelolaan Obat di Puskesmas Kota Tegal
Authors: Cholilah, Cholilah; Triwijayanti, Triwijayanti; Satibi, Satibi
Abstract: ABSTRAKPuskesmas  adalah  fasilitas  yang  menyelenggarakan  upaya  kesehatan  ditingkat  pertama  guna mencapai derajat   kesehatan,   namun   pada   pelaksanaannya   masih   terkendala   dalam   mewujudkan pelayanan kefarmasian yang terstandar. Tujuan penelitian untuk mengetahui mutu pengelolaan obat di Puskesmas  Kota  Tegal. Penelitian  ini  merupakan  penelitian  deskriptif  non  eksperimental.Penelitian dilakukan pada seluruh puskesmas yang berjumlah 8puskesmas di Kota Tegal. Pengambilan data secara prospectivedan retrospectivedengan  penelusuran  dokumen  guna  mendapatkan  data  sekunder  serta dilakukan  pengamatan  langsung,  wawancara  tenaga  kefarmasian,  kepala  puskesmas  dan  kepala  seksi farmasi untuk mendapatkan data primer. Indikator pengelolaan obat selanjutnya dilakukan analisisdata secara deskriptif dengan menghitung nilai dari indikator dengan rumus kemudian dibandingkan dengan standar dan antarpuskesmas.Indikator pengelolaan obat yang digunakan 28 dan yang memenuhi standar 10.  Hasil indikatorantara  lain  kesesuaian  item  dengan  pola  penyakit  76,39%,  ketepatan  perencanaan 321,10%,  ketepatan  jumlah  permintaan  169,84%, penyimpanan  narkotika 72,92%,  penyimpanan  obat tanpa kontaminasi 98,97%, penyimpanan obat high alert68,15%, penyimpanan obat LASA 87,5%, ITOR 1,87 kali/tahun, ketersediaan obat 36,08 bulan, item obat kurang 14,01%, item obat aman 37,94%, item stok  berlebih  41,76%,  obat  tidak  diresepkan  4,59%  dan nilai  obat  ED  3,85%.  Hasil  ini  menunjukkan indikator pengelolaan obat di puskesmas Kota Tegal belum efisiendan perlu perbaikan mulai dari tahap perencanaan  sampai  pengendalian.  Indikator  yang  masih  perlu  perbaikan  antara  lain  ITOR  dan  semua indikator ketersediaan obat. Hal-hal yang perlu dilakukan untuk memperbaiki indikator yang belum efisien antara  lain  menambah  jumlah  dan  kualitas  SDM  farmasi  di  Puskesmas,  meningkatkan  pengawasan penggunaan  dan  pengendalian  obat,  membangun  komunikasi  dan  budaya  berorganisasi  yang  baik  di Puskesmas.Kata Kunci : Puskesmas;Pengelolaan Obat;Kota Tegal</description>
      <pubDate>Thu, 02 Dec 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6967</guid>
      <dc:date>2021-12-02T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Pemanfaatan   Geospasial   Melalui Health   and   Demographic Surveillance  System (HDSS)  Pada  Pasien  Tuberkulosis  Dalam Manajemen Obat</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6965</link>
      <description>Title: Pemanfaatan   Geospasial   Melalui Health   and   Demographic Surveillance  System (HDSS)  Pada  Pasien  Tuberkulosis  Dalam Manajemen Obat
Authors: Ayu Puspandari, Diah; Setiyaningsih, Hermawati; Atsna, Zafria; Murti Andayani, Tri
Abstract: ABSTRAKTuberculosis (TB) is an infectious disease that causes a high mortality rate. Currently, Indonesia is the  largest  contributor  to  TB  cases  in  the  world.  In  2019,  the  estimated  number  of  cases  was  845,000 cases, while case enrollment was 562,000. Thus, the Gap in the Case finding is high. As a result, innovation is needed in setting strategies to develop Regulations related to the national TB program, one of which is geospatial. This study aimed to provide an overview of geospatial utilization through HDSS intuberculosis patients  about  drug  management.  Geospatial  is  an  epidemiological  approach  that  can  be  used  to determine  policies  in  accordance  with  conditions  in  an  area.  The  research  type  is  a  quantitative  study using secondary data from the Health and Demography Surveillance System (HDSS) of Sleman in 2016 and the  Integrated  TB  Information  System  (SITT)  of  Sleman  Regency  in  2016.  The  analysis  used  descriptive analysis and geospatial mapping used Stata 15 and R software. Geospatial data shows that TB cases are concentrated  in  densely  populated  areas,  such  as  Depok,  Mlati,  Ngaglik,  and  Gamping  sub-districts.  In addition, geospatial shows us the distance between the distribution of cases and the availability of health service facilities (puskesmas). The spread of cases is mostly found in the area around the health facilities, and  low  cases  are  in  areas  far  from  the  health  facilities.  This  condition  possibly  happens  because  case tracking is less affordable. Knowing the number and distribution of TB cases and the distribution of health care facilities can be used as a basis in the policy-making process, planning of the need for TB drugs, drug distribution, and priority interventions for TB services in a cost-efficiency.Kata Kunci : Tuberculosis;TB drug;Health and Demography Surveillance System;Sleman</description>
      <pubDate>Tue, 21 Dec 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6965</guid>
      <dc:date>2021-12-21T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Parental Use of the Internet to Navigate Online   Health Information for Their Children: An Indonesian Context</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6962</link>
      <description>Title: Parental Use of the Internet to Navigate Online   Health Information for Their Children: An Indonesian Context
Authors: Utami Ramadaniati, Hesty; Andayani, Nurita; Yumni Azizah, Zata
Abstract: ABSTRACTInternet-resourced  health information becomes increasingly common amongst parents before doctor consultation. This study aimed to explore the demographics of online health information-seeking parents the type of information on children’s healthcare needs and the relationship between the demographics  and  the  online  sources.  A  cross-sectional  study  was  conducted  at  two  Primary  Health Centers  (PHC)  in  Jakarta.  The  respondents  were  parents  of  acutely  ill  children  seeking  online  health information before visiting PHC. A validated questionnaire was distributed to the respondents. Parents’ demographics  and  type  of  information  were  analyzed  descriptively.  The  relationship  between  the demographics and the information source was tested using the Chi-Square test. 478 respondents were participating  in  this  study  where  most  of  the  respondents  were  mothers  (75.1%),  aged  26-35  years (57.7%), and had 1-2 children (70.7%). Most of them were high-school graduates (64.9%) and unemployed (49.6%). Google (61.5%) was predominantly the most frequently used digital media, followed by websites run by  doctors (21.9%).  The most sought information included illness causes, transmission probability, treatment, and medicines’ side effects. There was no significant relationship between any demographics and the types of online sources. In conclusion, illness-related basic information is used by most parents to be informed before seeing doctors. The link between parents’ characteristics and the selection of digital media could not be determined.Keywords: correlation; HbA1c; fasting plasma glucose; participant characteristic</description>
      <pubDate>Wed, 15 Dec 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6962</guid>
      <dc:date>2021-12-15T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
  </channel>
</rss>

