<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
  <channel>
    <title>DSpace Collection:</title>
    <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6928</link>
    <description />
    <pubDate>Sat, 18 Apr 2026 21:23:28 GMT</pubDate>
    <dc:date>2026-04-18T21:23:28Z</dc:date>
    <item>
      <title>Pengaruh Intervensi Apoteker terhadap Tingkat Bahaya Drug-RelatedProblems pada Pasien Geriatrik Rawat Inap</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6949</link>
      <description>Title: Pengaruh Intervensi Apoteker terhadap Tingkat Bahaya Drug-RelatedProblems pada Pasien Geriatrik Rawat Inap
Authors: Krishna Setiawati, Margarita; Munif Yasin, Nanang; Putu Pramantara, I Dewa
Abstract: ABSTRAKPasien geriatrik berisiko tinggi mengalami Drug-Related Problems(DRPs) yang berkaitan dengan multimorbiditas,  serta  perubahan  fisiologik  dan  farmakologik  oleh  karena  proses  penuaan.  Apoteker berperan  penting  dalam  mengoptimalkan  efektivitas  dan  keamanan  terapi  obat  pasien.  Penelitian  ini bertujuan  mengetahui  pengaruh  intervensi  apoteker  dalam  menurunkan  tingkat  bahaya  DRPs  dan mengetahui faktor yang berhubungan dengan penurunan tingkat bahaya DRPs pada pasien geriatrik rawat inap.  Penelitian  ini  merupakan  penelitian quasi experimentaldengan  rancangan one-group  pretest  and posttest.  Penelitian  dilakukan  di  Rumah  Sakit  Panti  Rapih  periode  Maret -April  2021,  dengan  kriteria inklusi pasien usia ≥ 60 tahun, kasus penyakit dalam, dan teridentifikasi DRPs. Kriteria eksklusi pasien dirawat  di  ruang  intensif  dan  perawatan  Covid-19. Apoteker  melakukan  pengkajian  terapi  obat  serta mengidentifikasi  dan  menyelesaikan  DRPs.  Tingkat  bahaya  DRPs  dibandingkan  antara  sebelum  dan sesudah  intervensi  apoteker.  Penentuan  tingkat  bahaya  dilakukan  melalui professional  adjustment berdasarkan The  Harm  Associated  with  Medication  Error  Classification  tools,  kemudian  dianalisis menggunakan  uji Wilcoxon dengan  taraf  kepercayaan  95%.  Faktor  usia,  jumlah  obat  yang  diterima, komorbiditas, dan penerimaan intervensi diteliti hubungannya dengan penurunan tingkat bahaya DRPs menggunakan uji multivariat regresi logistik. Total subjek penelitian berjumlah 28 pasien, dengan total 47 DRPs.  DRPs  terbanyak  adalah  efek  samping  obat  (27,66%).  Dari  total  intervensi,  sebanyak  77,36% intervensi  diterima  dengan  implementasi  penuh.  Intervensi  apoteker  mampu  menurunkan  secara signifikan  tingkat  bahaya  DRPs,  baik  potensial  maupun  aktual  bahaya  (p  &lt;  0,05).  Faktor  penerimaan intervensi dan jumlah obat yang diterima pasien memiliki hubungan yang signifikan dengan penurunan tingkat  bahaya  DRPs  (p  &lt;  0,05). Penelitian  ini  menunjukkan  bahwa  kolaborasi  multidisiplin  diperlukan dalam pelayanan pasien geriatrik.Kata Kunci : tingkat bahaya drug-related problems;intervensi Apoteker;geriatrik</description>
      <pubDate>Mon, 27 Sep 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6949</guid>
      <dc:date>2021-09-27T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>mplementasi Standar  Pelayanan Kefarmasian di ApotekKota Kupang</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6946</link>
      <description>Title: mplementasi Standar  Pelayanan Kefarmasian di ApotekKota Kupang
Authors: Meliana Waty Parera, Maria; Munif Yasin, Nanang; Ari Kristina, Susi
Abstract: ABSTRAKPelaksanaan  pelayanan  kefarmasian  sesuai  standar  yang  berlaku  sangat  mendukung  peran apoteker  dalam  mewujudkan  pelayanan  kefarmasian  yang  berkualitas  guna  melindungi  pasien  dan masyarakat   serta   memberikan   jaminan kepastian   hukum   bagi   tenaga   kefarmasian.   Penelitian   ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi standar pelayanan kefarmasian di apotek oleh apoteker di Kota  Kupang. Jenis  penelitian  yang  digunakan  adalah  deskriptif.  Pengumpulan  data  menggunakan kuesioner yang disadur dari PMK RI No.73 Tahun 2016 tentang Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek. Populasi pada penelitian ini adalah semua apotek di Kota Kupang yang berjumlah 90 apotek berdasarkan data Dinas Kesehatan, dengan ijin apotek yang masih berlaku. Responden adalah apoteker yang memiliki surat ijin praktek yang masih berlaku baik sebagai APA maupun Aping di apotek dan bersedia mengikuti survey. Sebanyak 66 responden mengembalikan kuesioner dan 64 dinyatakan lengkap serta memenuhi syarat  untuk  dianalisis.  Analisa  data  menggunakan  analisis  univariat  dengan  SSPS  tipe  25  selanjutnya dideskripsikan dalam narasi. Data disajikan dalam bentuk tabel evaluasi penerapan PMK RI No.73 Tahun 2016.   Hasil   penelitian   menunjukkan   bahwa   sebanyak   53,75   %   apotek   di   Kota   Kupang   telah mengimplementasi standar pelayanan kefarmasian di apotek sesuai dengan PMK RI No.73 Tahun 2016, sedangkan   46,25%   belum   menerapkan   standar   pelayanan   dengan   baik.   Apotek   yang   melakukan pengelolaan sediaan farmasi, alkes dan BMHP sesuai standar sebesar 66,1% dan pelayanan farmasi klinik sebesar 41,4%.Kesimpulan menunjukkan bahwa implementasi standar pelayanan kefarmasian di apotek belum dilaksanakan secara optimal oleh apoteker di Kota Kupang.Kata Kunci : standar pelayanan kefarmasian; implementasi; apotek; Kota Kupang</description>
      <pubDate>Wed, 28 Jul 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6946</guid>
      <dc:date>2021-07-28T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Adaptation and validation of the Beliefs about Medicines Questionnaire (BMQ) in HIV out-patients in Indonesia</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6939</link>
      <description>Title: Adaptation and validation of the Beliefs about Medicines Questionnaire (BMQ) in HIV out-patients in Indonesia
Authors: Irawati Sianturi, Elfride; Gunawan, Elsye; Perwitasari, Dyah A.
Abstract: ABSTRACT&#xD;
This study aimed to translate and cross-cultural adapt the version of the Beliefs about Medicines&#xD;
Questionnaire (BMQ) into Indonesia language, and explored its psychometric properties, and establish&#xD;
preliminary norms. We followed the guideline for forward-backward translation and 201 HIV out-patients&#xD;
were recruited. They all completed BMQ-general and BMQ-specific scales that were previously culturally&#xD;
adapted and translated into the Indonesian language. All participants were patients visiting a referral&#xD;
hospital in Papua Province, Indonesia. One-third of participants were indigenous Papuans, and the&#xD;
majority were female. The overall Cronbach's alpha of BMQ was acceptable (0.80) however each domain&#xD;
of BMQ was lower than the original study. The Cronbach alpha value for each section of BMQ-Indonesian&#xD;
version was as follows: BMQ Specific-Necessity 0.56; BMQ Specific-Concerns 0.50; BMQ General-Overuse&#xD;
0.65; and BMQ General-Harm 0.53. The reasons for the distinction between this study to original may be&#xD;
complex and HIV associates with the problem in neurological and cognitive symptoms at a later stage.&#xD;
Since the Cronbach alpha in this study was within the range of the original study the BMQ-Indonesian&#xD;
version is applicable to be used in Indonesia, especially among HIV patients but caution is still needed in&#xD;
this questionnaire.&#xD;
Keywords: cross-cultural; BMQ; HIV; Indigenous; Indonesia</description>
      <pubDate>Mon, 27 Sep 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6939</guid>
      <dc:date>2021-09-27T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Antidiabetic Regimen and Factors Associated with Glycemic Control in Patients with Type 2 Diabetes mellitus in Public Health Centers in Jakarta: A Cross-Sectional Study</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6936</link>
      <description>Title: Antidiabetic Regimen and Factors Associated with Glycemic Control in Patients with Type 2 Diabetes mellitus in Public Health Centers in Jakarta: A Cross-Sectional Study
Authors: Wulandari, Nora; Maifitrianti, Maifitrianti; Muthi’ah, Fadilla; Nur Disya, Nava
Abstract: ABSTRACT&#xD;
The glycemic control of diabetes mellitus patients is affected by many factors, including its&#xD;
antidiabetic regimen. The purpose of this study was to describe the antidiabetic regimen used in patients&#xD;
with T2DM in the public health centers in Jakarta and to evaluate factors associated with glycemic control.&#xD;
A cross-sectional study was conducted in thirteen public health centers in Jakarta with HbA1C of ≤ 7%&#xD;
indicating good glycemic control and &gt; 7% poor glycemic control. Factors that were potentially associated&#xD;
with glycemic control were performed univariate analysis test. Association between antidiabetic regimen&#xD;
and glycemic control were done by Pearson chi-square test and Fisher exact test. Sulfonylureas and&#xD;
biguanides as a combination were the most frequent (63.5%) prescribed in patients, while metformin was&#xD;
the most widely used antidiabetic of all prescriptions (49,43%). Univariate analysis showed that age,&#xD;
duration of T2DM, route of administration, number of antidiabetics, and number of other daily regular&#xD;
drugs significantly (P&lt;0.05) related to glycemic control. Sulfonylurea and biguanide as monotherapy&#xD;
appeared associated with good glycemic control. However, further analysis is still needed to confirm&#xD;
whether it was affected by the antidiabetic regimens as other factors might be involved.&#xD;
Keywords: Type 2 Diabetes Mellitus; Antidiabetic regimen; Associated factors</description>
      <pubDate>Wed, 29 Sep 2021 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6936</guid>
      <dc:date>2021-09-29T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
  </channel>
</rss>

