<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
  <channel>
    <title>DSpace Collection:</title>
    <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6772</link>
    <description />
    <pubDate>Tue, 14 Apr 2026 20:24:13 GMT</pubDate>
    <dc:date>2026-04-14T20:24:13Z</dc:date>
    <item>
      <title>Evaluation of the Use  of Antidiabetic  Drugs  in  Patients  of Back-Referral Program at the Demak District Pharmacy</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6784</link>
      <description>Title: Evaluation of the Use  of Antidiabetic  Drugs  in  Patients  of Back-Referral Program at the Demak District Pharmacy
Authors: Wulan Nago Pitasari, Nawang; Murti Andayani, Tri; Wijayanti, Tri
Abstract: ABSTRACTDrugs  are  one  of  the  important  components  of  the  Back-Referral  Program  (BRP),  hence  the guarantee of the availability of BRP drugs in pharmacies is a factor in the success of BRP implementation. The purpose of this study was to determine the consumption of antidiabetic drugs using ATC/DDD and 90% DU methods, to analyze the cost of consuming antidiabetic drugs, and to determine the suitability of antidiabetic  drugs  with  the  National  Formulary.  This  study  was  an  observational  study  with  a  cross-sectional design and retrospective data collection. The study was conducted at 6 BRP pharmacies, namely Pharmacy A, Pharmacy B, Pharmacy C, Pharmacy D, Pharmacy E, and Pharmacy F in the area of Demak Regency. The antidiabetic drug consumption data was obtained from BRP patient prescriptions from July 2020 to June 2021. The cost data were obtained based on prices in the JKN drug e-catalog system at BRP pharmacies in the area of Demak Regency. In analyzing the data, the researcher calculated DU at 90%, the cost of drugs included in the DU segment at 90%, and the suitability of drugs with the National Formulary. The results showed that the highest consumption of antidiabetic drugs in Back-Referral Program  (BRP) pharmacies in the area of Demak Regency was glimepiride (54.72%) and metformin (31.01%). The highest cost of consuming antidiabetic drugs per DDD was insulin (Rp.17,639.73), the lowest cost was glimepiride (Rp.65.35),  the  total  cost  of  antidiabetic  drugs  was  Rp.53,509,090,  and  the  incompatible  drug  with National  Formulary  was  pioglitazone.  In  general,  the  highest  consumption  of  antidiabetic  drugs  at  six Back-Referral Program (BRP)  pharmacies in the area of Demak Regency, which was included in the DU segment 90%, were glimepiride and metformin, and the suitability of drugs with the National Formulary has not reached 100%.Kata Kunci:ATC/DDD; DU 90%; Diabetes mellitus; Back-Referral Program (BRP)</description>
      <pubDate>Thu, 30 Jun 2022 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6784</guid>
      <dc:date>2022-06-30T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Evaluasi   Rasionalitas   Penggunaan   Antibiotik   Pada   Pasien dengan Infeksi Saluran Kemih di Rumah Sakit X di Surakarta</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6782</link>
      <description>Title: Evaluasi   Rasionalitas   Penggunaan   Antibiotik   Pada   Pasien dengan Infeksi Saluran Kemih di Rumah Sakit X di Surakarta
Authors: Wardhana Amrullah, Adhi; Eka Dewi Aditya Purwaningsih, Avianti; Rahardjoputro, Rolando
Abstract: ABSTRAKStudi  dilakukan  dengan  mengevaluasi  kerasionalan  antibiotik  sebagai  indikator  kerasionalan pemberian  antibiotik  dengan  tujuan  mengetahui  tingkat  rasionalitas  pola  peresepan  antibiotik  untuk infeksi   saluran   kemih. Metode   analisis   kerasionalan   peresepan   antibiotik   dalam   penelitian   ini menggunakan metode Gyssens sebagai salah satu metode dalam penelitian medis yang digunakan untuk menentukan   kerasionalan   pemberian   antibiotik.   Penelitian   ini   merupakan   penelitian   deskriptif observasional  dengan  metode cross-sectional.  Data  diperoleh  dari  penelusuran  rekam  medik  secara retrospektif  bulan  Januari –Desember  2020  di  bagian  rekam  medis  Rumah  Sakit  di  Surakarta.  Hasil penelitian menunjukkan jumlah pasien dengan infeksi saluran kemih yang dirawat di rumah sakit selama tahun 2020 sebanyak 104 pasien dan jumlah pasien yang mendapatkan peresepan antibiotik sebanyak 80 pasien.  Hasil  analisis  rasionalitas  menunjukkan  bahwa  antibiotik  yang  digunakan  pada  pasien  infeksi saluran kemih sebanyak 27 kasus (33,75%) penggunaan antibiotik termasuk kategori 0 (nol) yang artinya penggunaan  antibiotik  rasional.  Ketidakrasionalan  penggunaan  antibiotik  terjadi  pada  kategori  III-A sebanyak 40 kasus (50%), II-B 11 kasus (13,75%), dan kombinasi II B dengan III A 2 kasus (2,5%).Kata Kunci:Antibiotik; Gyssens; Infeksi Saluran Kemih; Rasionalitas</description>
      <pubDate>Thu, 30 Jun 2022 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6782</guid>
      <dc:date>2022-06-30T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Knowledge,   Attitude, and Medicine Taking Behavior of Lymphatic Filariasis Patients in Two Villages in West Kotawaringin Regency</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6777</link>
      <description>Title: Knowledge,   Attitude, and Medicine Taking Behavior of Lymphatic Filariasis Patients in Two Villages in West Kotawaringin Regency
Authors: Suryatinah, Yuniarti; Rahayu, Nita
Abstract: ABSTRACTKotawaringin Barat Regency had carried out the lymphatic filariasis mass drug administration (LF MDA) and was declared to have passed the 3rd Transmission Assessment Survey (TAS) in 2016. One of the  success  factors  of  the  3rdTAS  is  the  compliance  or  adherence  to  taking  the  preventive  drugs.  The purpose of this article was to analyze the relationship between knowledge and attitude of adherence to taking filariasis prevention drugs in two villages in West Kotawaringin Regency. The study was conducted in 2017 using an observational design with a cross-sectional approach. The samples used were 273 people ≥ 15 years. The instrument used was a questionnaire of knowledge, attitudes, and behavior related to LF MDA. Respondent characteristics and knowledge description were analyzed descriptively. Then chi square test was carried out to determine the relationship between sex, age, education, knowledge, and attitudes towards drug-taking behavior. The results of the study found that the percentage of respondents in West Kotawaringin  Regency  who  had  good  knowledge  was  58.2%,  the  number  of  respondents  with  good attitudes was 66.7%, and 89.4% of them behaved obediently in taking preventivedrugs filariasis. Sex (p= 0.794), age (p= 0.372), education (p= 0.263), knowledge (p = 0.536), and attitude (p = 0.765) did not have significant relevance with the adherence behavior to taking filariasis prevention drugs. The conclusion of the study is that there are other factors other than sex, age, education, knowledge, and attitude that can affect the behavior of adherence to taking filariasis prevention drugs in two villages in West Kotawaringin Regency.Keywords:Attitude; Behavior; Knowledge; LF MDA</description>
      <pubDate>Thu, 30 Jun 2022 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6777</guid>
      <dc:date>2022-06-30T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Efek Pemberian Metformin dan Metformin+Glimepiride Terhadap Kadar HbA1c Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6776</link>
      <description>Title: Efek Pemberian Metformin dan Metformin+Glimepiride Terhadap Kadar HbA1c Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2
Authors: Apriliany, Fitri; Cholisah, Elis; Erlianti, Karina
Abstract: ABSTRAKDiabetes adalah penyakit metabolik kronik dan penatalaksanaan DM dimulai dengan melakukan pola  hidup  sehat  bersamaan  dengan  pemberian  terapi  obat  antidiabetes.  Metformin  adalah  obat  lini pertama  dalam  penatalaksanaan  DM.  Pemberian  terapi  kombinasi  diberikan  jika  kadar  gula  darah  dan kadar  HbA1c  tidak  dapat  terkontrol  dengan  terapi  tunggal.  Olehkarena  itu  tujuan  penelitian  ini  adalah untuk mengetahui efek pemberian metformin dan metformin+glimepiride dalam mengontrol penurunan kadar  HbA1c.  Kriteria  inklusi  penelitian  ini  adalah  pasien  dengan  diagnosa  diabetes,  mendapat  terapi antidiabetik  oral  minimal  6  bulan,  memiliki  rekam  medik lengkap.  Kriteria  eksklusi  meliputi  pasien  DM yang  mendapat  terapi  insulin,  pasien  TBC  dan  wanita  hamil  atau  menyusui.  Data  sosiodemografi, gambaran  pola  peresepan  dan  Ketercapaian  kadar  HbA1c  digambarkan  secara  deskriptif.  Analisis  data menggunakan  uji Wilcoxon.Responden  pada  penelitian  ini  sebanyak  69  pasien  yangdidominasi  oleh wanita (71%). Jenis terapi yang digunakan adalah metformin (59,4%) dan metformin+glimepiride (40,6%). Ketercapaian kadar HbA1c metformin+glimepiride (67,9%), metformin (48,8%). Selisih penurunan kadar HbA1c  dengan  metformin  diperoleh  hasil-0,31%±0,38  mg/dL  dan  metformin+glimepirid -0,33%±0,54 mg/dL (p = 0,000). Hal ini menjelaskan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada metformin tunggal pada   penurunan   kadar   HbA1c   dan   penambahan   glimepiride   (metformin+glimepiride)   terhadap penurunan kadar HbA1c pada pasien DM tipe 2 yang sudah gagal di terapi dengan metformin.Implikasi penelitian  ini  adalah  sebagai  masukan  untuk  panduan  pedoman  tatalaksana  yang  komprehensif  yang dapat digunakan dalam upaya menurunkan prevalensi DM. Tata kelola yang baik sangat diperlukan untuk mencapai outcome terapi. Kata Kunci:ABSTRAKDiabetes adalah penyakit metabolik kronik dan penatalaksanaan DM dimulai dengan melakukan pola  hidup  sehat  bersamaan  dengan  pemberian  terapi  obat  antidiabetes.  Metformin  adalah  obat  lini pertama  dalam  penatalaksanaan  DM.  Pemberian  terapi  kombinasi  diberikan  jika  kadar  gula  darah  dan kadar  HbA1c  tidak  dapat  terkontrol  dengan  terapi  tunggal.  Olehkarena  itu  tujuan  penelitian  ini  adalah untuk mengetahui efek pemberian metformin dan metformin+glimepiride dalam mengontrol penurunan kadar  HbA1c.  Kriteria  inklusi  penelitian  ini  adalah  pasien  dengan  diagnosa  diabetes,  mendapat  terapi antidiabetik  oral  minimal  6  bulan,  memiliki  rekam  medik lengkap.  Kriteria  eksklusi  meliputi  pasien  DM yang  mendapat  terapi  insulin,  pasien  TBC  dan  wanita  hamil  atau  menyusui.  Data  sosiodemografi, gambaran  pola  peresepan  dan  Ketercapaian  kadar  HbA1c  digambarkan  secara  deskriptif.  Analisis  data menggunakan  uji Wilcoxon.Responden  pada  penelitian  ini  sebanyak  69  pasien  yangdidominasi  oleh wanita (71%). Jenis terapi yang digunakan adalah metformin (59,4%) dan metformin+glimepiride (40,6%). Ketercapaian kadar HbA1c metformin+glimepiride (67,9%), metformin (48,8%). Selisih penurunan kadar HbA1c  dengan  metformin  diperoleh  hasil-0,31%±0,38  mg/dL  dan  metformin+glimepirid -0,33%±0,54 mg/dL (p = 0,000). Hal ini menjelaskan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada metformin tunggal pada   penurunan   kadar   HbA1c   dan   penambahan   glimepiride   (metformin+glimepiride)   terhadap penurunan kadar HbA1c pada pasien DM tipe 2 yang sudah gagal di terapi dengan metformin.Implikasi penelitian  ini  adalah  sebagai  masukan  untuk  panduan  pedoman  tatalaksana  yang  komprehensif  yang dapat digunakan dalam upaya menurunkan prevalensi DM. Tata kelola yang baik sangat diperlukan untuk mencapai outcome terapi. Kata Kunci:Diabetes; Efek; Glimepirid; HbA1c; Metformin ABSTRAKDiabetes adalah penyakit metabolik kronik dan penatalaksanaan DM dimulai dengan melakukan pola  hidup  sehat  bersamaan  dengan  pemberian  terapi  obat  antidiabetes.  Metformin  adalah  obat  lini pertama  dalam  penatalaksanaan  DM.  Pemberian  terapi  kombinasi  diberikan  jika  kadar  gula  darah  dan kadar  HbA1c  tidak  dapat  terkontrol  dengan  terapi  tunggal.  Olehkarena  itu  tujuan  penelitian  ini  adalah untuk mengetahui efek pemberian metformin dan metformin+glimepiride dalam mengontrol penurunan kadar  HbA1c.  Kriteria  inklusi  penelitian  ini  adalah  pasien  dengan  diagnosa  diabetes,  mendapat  terapi antidiabetik  oral  minimal  6  bulan,  memiliki  rekam  medik lengkap.  Kriteria  eksklusi  meliputi  pasien  DM yang  mendapat  terapi  insulin,  pasien  TBC  dan  wanita  hamil  atau  menyusui.  Data  sosiodemografi, gambaran  pola  peresepan  dan  Ketercapaian  kadar  HbA1c  digambarkan  secara  deskriptif.  Analisis  data menggunakan  uji Wilcoxon.Responden  pada  penelitian  ini  sebanyak  69  pasien  yangdidominasi  oleh wanita (71%). Jenis terapi yang digunakan adalah metformin (59,4%) dan metformin+glimepiride (40,6%). Ketercapaian kadar HbA1c metformin+glimepiride (67,9%), metformin (48,8%). Selisih penurunan kadar HbA1c  dengan  metformin  diperoleh  hasil-0,31%±0,38  mg/dL  dan  metformin+glimepirid -0,33%±0,54 mg/dL (p = 0,000). Hal ini menjelaskan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada metformin tunggal pada   penurunan   kadar   HbA1c   dan   penambahan   glimepiride   (metformin+glimepiride)   terhadap penurunan kadar HbA1c pada pasien DM tipe 2 yang sudah gagal di terapi dengan metformin.Implikasi penelitian  ini  adalah  sebagai  masukan  untuk  panduan  pedoman  tatalaksana  yang  komprehensif  yang dapat digunakan dalam upaya menurunkan prevalensi DM. Tata kelola yang baik sangat diperlukan untuk mencapai outcome terapi. Kata Kunci:Diabetes; Efek; Glimepirid; HbA1c; Metformin ABSTRAKDiabetes adalah penyakit metabolik kronik dan penatalaksanaan DM dimulai dengan melakukan pola  hidup  sehat  bersamaan  dengan  pemberian  terapi  obat  antidiabetes.  Metformin  adalah  obat  lini pertama  dalam  penatalaksanaan  DM.  Pemberian  terapi  kombinasi  diberikan  jika  kadar  gula  darah  dan kadar  HbA1c  tidak  dapat  terkontrol  dengan  terapi  tunggal.  Olehkarena  itu  tujuan  penelitian  ini  adalah untuk mengetahui efek pemberian metformin dan metformin+glimepiride dalam mengontrol penurunan kadar  HbA1c.  Kriteria  inklusi  penelitian  ini  adalah  pasien  dengan  diagnosa  diabetes,  mendapat  terapi antidiabetik  oral  minimal  6  bulan,  memiliki  rekam  medik lengkap.  Kriteria  eksklusi  meliputi  pasien  DM yang  mendapat  terapi  insulin,  pasien  TBC  dan  wanita  hamil  atau  menyusui.  Data  sosiodemografi, gambaran  pola  peresepan  dan  Ketercapaian  kadar  HbA1c  digambarkan  secara  deskriptif.  Analisis  data menggunakan  uji Wilcoxon.Responden  pada  penelitian  ini  sebanyak  69  pasien  yangdidominasi  oleh wanita (71%). Jenis terapi yang digunakan adalah metformin (59,4%) dan metformin+glimepiride (40,6%). Ketercapaian kadar HbA1c metformin+glimepiride (67,9%), metformin (48,8%). Selisih penurunan kadar HbA1c  dengan  metformin  diperoleh  hasil-0,31%±0,38  mg/dL  dan  metformin+glimepirid -0,33%±0,54 mg/dL (p = 0,000). Hal ini menjelaskan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada metformin tunggal pada   penurunan   kadar   HbA1c   dan   penambahan   glimepiride   (metformin+glimepiride)   terhadap penurunan kadar HbA1c pada pasien DM tipe 2 yang sudah gagal di terapi dengan metformin.Implikasi penelitian  ini  adalah  sebagai  masukan  untuk  panduan  pedoman  tatalaksana  yang  komprehensif  yang dapat digunakan dalam upaya menurunkan prevalensi DM. Tata kelola yang baik sangat diperlukan untuk mencapai outcome terapi. Kata Kunci:Diabetes; Efek; Glimepirid; HbA1c; Metformin ABSTRAKDiabetes adalah penyakit metabolik kronik dan penatalaksanaan DM dimulai dengan melakukan pola  hidup  sehat  bersamaan  dengan  pemberian  terapi  obat  antidiabetes.  Metformin  adalah  obat  lini pertama  dalam  penatalaksanaan  DM.  Pemberian  terapi  kombinasi  diberikan  jika  kadar  gula  darah  dan kadar  HbA1c  tidak  dapat  terkontrol  dengan  terapi  tunggal.  Olehkarena  itu  tujuan  penelitian  ini  adalah untuk mengetahui efek pemberian metformin dan metformin+glimepiride dalam mengontrol penurunan kadar  HbA1c.  Kriteria  inklusi  penelitian  ini  adalah  pasien  dengan  diagnosa  diabetes,  mendapat  terapi antidiabetik  oral  minimal  6  bulan,  memiliki  rekam  medik lengkap.  Kriteria  eksklusi  meliputi  pasien  DM yang  mendapat  terapi  insulin,  pasien  TBC  dan  wanita  hamil  atau  menyusui.  Data  sosiodemografi, gambaran  pola  peresepan  dan  Ketercapaian  kadar  HbA1c  digambarkan  secara  deskriptif.  Analisis  data menggunakan  uji Wilcoxon.Responden  pada  penelitian  ini  sebanyak  69  pasien  yangdidominasi  oleh wanita (71%). Jenis terapi yang digunakan adalah metformin (59,4%) dan metformin+glimepiride (40,6%). Ketercapaian kadar HbA1c metformin+glimepiride (67,9%), metformin (48,8%). Selisih penurunan kadar HbA1c  dengan  metformin  diperoleh  hasil-0,31%±0,38  mg/dL  dan  metformin+glimepirid -0,33%±0,54 mg/dL (p = 0,000). Hal ini menjelaskan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada metformin tunggal pada   penurunan   kadar   HbA1c   dan   penambahan   glimepiride   (metformin+glimepiride)   terhadap penurunan kadar HbA1c pada pasien DM tipe 2 yang sudah gagal di terapi dengan metformin.Implikasi penelitian  ini  adalah  sebagai  masukan  untuk  panduan  pedoman  tatalaksana  yang  komprehensif  yang dapat digunakan dalam upaya menurunkan prevalensi DM. Tata kelola yang baik sangat diperlukan untuk mencapai outcome terapi. Kata Kunci:Diabetes; Efek; Glimepirid; HbA1c; Metformin ABSTRAKDiabetes adalah penyakit metabolik kronik dan penatalaksanaan DM dimulai dengan melakukan pola  hidup  sehat  bersamaan  dengan  pemberian  terapi  obat  antidiabetes.  Metformin  adalah  obat  lini pertama  dalam  penatalaksanaan  DM.  Pemberian  terapi  kombinasi  diberikan  jika  kadar  gula  darah  dan kadar  HbA1c  tidak  dapat  terkontrol  dengan  terapi  tunggal.  Olehkarena  itu  tujuan  penelitian  ini  adalah untuk mengetahui efek pemberian metformin dan metformin+glimepiride dalam mengontrol penurunan kadar  HbA1c.  Kriteria  inklusi  penelitian  ini  adalah  pasien  dengan  diagnosa  diabetes,  mendapat  terapi antidiabetik  oral  minimal  6  bulan,  memiliki  rekam  medik lengkap.  Kriteria  eksklusi  meliputi  pasien  DM yang  mendapat  terapi  insulin,  pasien  TBC  dan  wanita  hamil  atau  menyusui.  Data  sosiodemografi, gambaran  pola  peresepan  dan  Ketercapaian  kadar  HbA1c  digambarkan  secara  deskriptif.  Analisis  data menggunakan  uji Wilcoxon.Responden  pada  penelitian  ini  sebanyak  69  pasien  yangdidominasi  oleh wanita (71%). Jenis terapi yang digunakan adalah metformin (59,4%) dan metformin+glimepiride (40,6%). Ketercapaian kadar HbA1c metformin+glimepiride (67,9%), metformin (48,8%). Selisih penurunan kadar HbA1c  dengan  metformin  diperoleh  hasil-0,31%±0,38  mg/dL  dan  metformin+glimepirid -0,33%±0,54 mg/dL (p = 0,000). Hal ini menjelaskan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada metformin tunggal pada   penurunan   kadar   HbA1c   dan   penambahan   glimepiride   (metformin+glimepiride)   terhadap penurunan kadar HbA1c pada pasien DM tipe 2 yang sudah gagal di terapi dengan metformin.Implikasi penelitian  ini  adalah  sebagai  masukan  untuk  panduan  pedoman  tatalaksana  yang  komprehensif  yang dapat digunakan dalam upaya menurunkan prevalensi DM. Tata kelola yang baik sangat diperlukan untuk mencapai outcome terapi. Kata Kunci:Diabetes; Efek; Glimepirid; HbA1c; Metformin ABSTRAKDiabetes adalah penyakit metabolik kronik dan penatalaksanaan DM dimulai dengan melakukan pola  hidup  sehat  bersamaan  dengan  pemberian  terapi  obat  antidiabetes.  Metformin  adalah  obat  lini pertama  dalam  penatalaksanaan  DM.  Pemberian  terapi  kombinasi  diberikan  jika  kadar  gula  darah  dan kadar  HbA1c  tidak  dapat  terkontrol  dengan  terapi  tunggal.  Olehkarena  itu  tujuan  penelitian  ini  adalah untuk mengetahui efek pemberian metformin dan metformin+glimepiride dalam mengontrol penurunan kadar  HbA1c.  Kriteria  inklusi  penelitian  ini  adalah  pasien  dengan  diagnosa  diabetes,  mendapat  terapi antidiabetik  oral  minimal  6  bulan,  memiliki  rekam  medik lengkap.  Kriteria  eksklusi  meliputi  pasien  DM yang  mendapat  terapi  insulin,  pasien  TBC  dan  wanita  hamil  atau  menyusui.  Data  sosiodemografi, gambaran  pola  peresepan  dan  Ketercapaian  kadar  HbA1c  digambarkan  secara  deskriptif.  Analisis  data menggunakan  uji Wilcoxon.Responden  pada  penelitian  ini  sebanyak  69  pasien  yangdidominasi  oleh wanita (71%). Jenis terapi yang digunakan adalah metformin (59,4%) dan metformin+glimepiride (40,6%). Ketercapaian kadar HbA1c metformin+glimepiride (67,9%), metformin (48,8%). Selisih penurunan kadar HbA1c  dengan  metformin  diperoleh  hasil-0,31%±0,38  mg/dL  dan  metformin+glimepirid -0,33%±0,54 mg/dL (p = 0,000). Hal ini menjelaskan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada metformin tunggal pada   penurunan   kadar   HbA1c   dan   penambahan   glimepiride   (metformin+glimepiride)   terhadap penurunan kadar HbA1c pada pasien DM tipe 2 yang sudah gagal di terapi dengan metformin.Implikasi penelitian  ini  adalah  sebagai  masukan  untuk  panduan  pedoman  tatalaksana  yang  komprehensif  yang dapat digunakan dalam upaya menurunkan prevalensi DM. Tata kelola yang baik sangat diperlukan untuk mencapai outcome terapi. Kata Kunci:Diabetes; Efek; Glimepirid; HbA1c; Metformin ABSTRAKDiabetes adalah penyakit metabolik kronik dan penatalaksanaan DM dimulai dengan melakukan pola  hidup  sehat  bersamaan  dengan  pemberian  terapi  obat  antidiabetes.  Metformin  adalah  obat  lini pertama  dalam  penatalaksanaan  DM.  Pemberian  terapi  kombinasi  diberikan  jika  kadar  gula  darah  dan kadar  HbA1c  tidak  dapat  terkontrol  dengan  terapi  tunggal.  Olehkarena  itu  tujuan  penelitian  ini  adalah untuk mengetahui efek pemberian metformin dan metformin+glimepiride dalam mengontrol penurunan kadar  HbA1c.  Kriteria  inklusi  penelitian  ini  adalah  pasien  dengan  diagnosa  diabetes,  mendapat  terapi antidiabetik  oral  minimal  6  bulan,  memiliki  rekam  medik lengkap.  Kriteria  eksklusi  meliputi  pasien  DM yang  mendapat  terapi  insulin,  pasien  TBC  dan  wanita  hamil  atau  menyusui.  Data  sosiodemografi, gambaran  pola  peresepan  dan  Ketercapaian  kadar  HbA1c  digambarkan  secara  deskriptif.  Analisis  data menggunakan  uji Wilcoxon.Responden  pada  penelitian  ini  sebanyak  69  pasien  yangdidominasi  oleh wanita (71%). Jenis terapi yang digunakan adalah metformin (59,4%) dan metformin+glimepiride (40,6%). Ketercapaian kadar HbA1c metformin+glimepiride (67,9%), metformin (48,8%). Selisih penurunan kadar HbA1c  dengan  metformin  diperoleh  hasil-0,31%±0,38  mg/dL  dan  metformin+glimepirid -0,33%±0,54 mg/dL (p = 0,000). Hal ini menjelaskan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada metformin tunggal pada   penurunan   kadar   HbA1c   dan   penambahan   glimepiride   (metformin+glimepiride)   terhadap penurunan kadar HbA1c pada pasien DM tipe 2 yang sudah gagal di terapi dengan metformin.Implikasi penelitian  ini  adalah  sebagai  masukan  untuk  panduan  pedoman  tatalaksana  yang  komprehensif  yang dapat digunakan dalam upaya menurunkan prevalensi DM. Tata kelola yang baik sangat diperlukan untuk mencapai outcome terapi. Kata Kunci:Diabetes; Efek; Glimepirid; HbA1c; Metformin ABSTRAKDiabetes adalah penyakit metabolik kronik dan penatalaksanaan DM dimulai dengan melakukan pola  hidup  sehat  bersamaan  dengan  pemberian  terapi  obat  antidiabetes.  Metformin  adalah  obat  lini pertama  dalam  penatalaksanaan  DM.  Pemberian  terapi  kombinasi  diberikan  jika  kadar  gula  darah  dan kadar  HbA1c  tidak  dapat  terkontrol  dengan  terapi  tunggal.  Olehkarena  itu  tujuan  penelitian  ini  adalah untuk mengetahui efek pemberian metformin dan metformin+glimepiride dalam mengontrol penurunan kadar  HbA1c.  Kriteria  inklusi  penelitian  ini  adalah  pasien  dengan  diagnosa  diabetes,  mendapat  terapi antidiabetik  oral  minimal  6  bulan,  memiliki  rekam  medik lengkap.  Kriteria  eksklusi  meliputi  pasien  DM yang  mendapat  terapi  insulin,  pasien  TBC  dan  wanita  hamil  atau  menyusui.  Data  sosiodemografi, gambaran  pola  peresepan  dan  Ketercapaian  kadar  HbA1c  digambarkan  secara  deskriptif.  Analisis  data menggunakan  uji Wilcoxon.Responden  pada  penelitian  ini  sebanyak  69  pasien  yangdidominasi  oleh wanita (71%). Jenis terapi yang digunakan adalah metformin (59,4%) dan metformin+glimepiride (40,6%). Ketercapaian kadar HbA1c metformin+glimepiride (67,9%), metformin (48,8%). Selisih penurunan kadar HbA1c  dengan  metformin  diperoleh  hasil-0,31%±0,38  mg/dL  dan  metformin+glimepirid -0,33%±0,54 mg/dL (p = 0,000). Hal ini menjelaskan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada metformin tunggal pada   penurunan   kadar   HbA1c   dan   penambahan   glimepiride   (metformin+glimepiride)   terhadap penurunan kadar HbA1c pada pasien DM tipe 2 yang sudah gagal di terapi dengan metformin.Implikasi penelitian  ini  adalah  sebagai  masukan  untuk  panduan  pedoman  tatalaksana  yang  komprehensif  yang dapat digunakan dalam upaya menurunkan prevalensi DM. Tata kelola yang baik sangat diperlukan untuk mencapai outcome terapi. Kata Kunci:Diabetes; Efek; Glimepirid; HbA1c; Metformin ABSTRAKDiabetes adalah penyakit metabolik kronik dan penatalaksanaan DM dimulai dengan melakukan pola  hidup  sehat  bersamaan  dengan  pemberian  terapi  obat  antidiabetes.  Metformin  adalah  obat  lini pertama  dalam  penatalaksanaan  DM.  Pemberian  terapi  kombinasi  diberikan  jika  kadar  gula  darah  dan kadar  HbA1c  tidak  dapat  terkontrol  dengan  terapi  tunggal.  Olehkarena  itu  tujuan  penelitian  ini  adalah untuk mengetahui efek pemberian metformin dan metformin+glimepiride dalam mengontrol penurunan kadar  HbA1c.  Kriteria  inklusi  penelitian  ini  adalah  pasien  dengan  diagnosa  diabetes,  mendapat  terapi antidiabetik  oral  minimal  6  bulan,  memiliki  rekam  medik lengkap.  Kriteria  eksklusi  meliputi  pasien  DM yang  mendapat  terapi  insulin,  pasien  TBC  dan  wanita  hamil  atau  menyusui.  Data  sosiodemografi, gambaran  pola  peresepan  dan  Ketercapaian  kadar  HbA1c  digambarkan  secara  deskriptif.  Analisis  data menggunakan  uji Wilcoxon.Responden  pada  penelitian  ini  sebanyak  69  pasien  yangdidominasi  oleh wanita (71%). Jenis terapi yang digunakan adalah metformin (59,4%) dan metformin+glimepiride (40,6%). Ketercapaian kadar HbA1c metformin+glimepiride (67,9%), metformin (48,8%). Selisih penurunan kadar HbA1c  dengan  metformin  diperoleh  hasil-0,31%±0,38  mg/dL  dan  metformin+glimepirid -0,33%±0,54 mg/dL (p = 0,000). Hal ini menjelaskan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada metformin tunggal pada   penurunan   kadar   HbA1c   dan   penambahan   glimepiride   (metformin+glimepiride)   terhadap penurunan kadar HbA1c pada pasien DM tipe 2 yang sudah gagal di terapi dengan metformin.Implikasi penelitian  ini  adalah  sebagai  masukan  untuk  panduan  pedoman  tatalaksana  yang  komprehensif  yang dapat digunakan dalam upaya menurunkan prevalensi DM. Tata kelola yang baik sangat diperlukan untuk mencapai outcome terapi. Kata Kunci:Diabetes; Efek; Glimepirid; HbA1c; Metformin ABSTRAKDiabetes adalah penyakit metabolik kronik dan penatalaksanaan DM dimulai dengan melakukan pola  hidup  sehat  bersamaan  dengan  pemberian  terapi  obat  antidiabetes.  Metformin  adalah  obat  lini pertama  dalam  penatalaksanaan  DM.  Pemberian  terapi  kombinasi  diberikan  jika  kadar  gula  darah  dan kadar  HbA1c  tidak  dapat  terkontrol  dengan  terapi  tunggal.  Olehkarena  itu  tujuan  penelitian  ini  adalah untuk mengetahui efek pemberian metformin dan metformin+glimepiride dalam mengontrol penurunan kadar  HbA1c.  Kriteria  inklusi  penelitian  ini  adalah  pasien  dengan  diagnosa  diabetes,  mendapat  terapi antidiabetik  oral  minimal  6  bulan,  memiliki  rekam  medik lengkap.  Kriteria  eksklusi  meliputi  pasien  DM yang  mendapat  terapi  insulin,  pasien  TBC  dan  wanita  hamil  atau  menyusui.  Data  sosiodemografi, gambaran  pola  peresepan  dan  Ketercapaian  kadar  HbA1c  digambarkan  secara  deskriptif.  Analisis  data menggunakan  uji Wilcoxon.Responden  pada  penelitian  ini  sebanyak  69  pasien  yangdidominasi  oleh wanita (71%). Jenis terapi yang digunakan adalah metformin (59,4%) dan metformin+glimepiride (40,6%). Ketercapaian kadar HbA1c metformin+glimepiride (67,9%), metformin (48,8%). Selisih penurunan kadar HbA1c  dengan  metformin  diperoleh  hasil-0,31%±0,38  mg/dL  dan  metformin+glimepirid -0,33%±0,54 mg/dL (p = 0,000). Hal ini menjelaskan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada metformin tunggal pada   penurunan   kadar   HbA1c   dan   penambahan   glimepiride   (metformin+glimepiride)   terhadap penurunan kadar HbA1c pada pasien DM tipe 2 yang sudah gagal di terapi dengan metformin.Implikasi penelitian  ini  adalah  sebagai  masukan  untuk  panduan  pedoman  tatalaksana  yang  komprehensif  yang dapat digunakan dalam upaya menurunkan prevalensi DM. Tata kelola yang baik sangat diperlukan untuk mencapai outcome terapi. Kata Kunci:Diabetes; Efek; Glimepirid; HbA1c; Metformin ABSTRAKDiabetes adalah penyakit metabolik kronik dan penatalaksanaan DM dimulai dengan melakukan pola  hidup  sehat  bersamaan  dengan  pemberian  terapi  obat  antidiabetes.  Metformin  adalah  obat  lini pertama  dalam  penatalaksanaan  DM.  Pemberian  terapi  kombinasi  diberikan  jika  kadar  gula  darah  dan kadar  HbA1c  tidak  dapat  terkontrol  dengan  terapi  tunggal.  Olehkarena  itu  tujuan  penelitian  ini  adalah untuk mengetahui efek pemberian metformin dan metformin+glimepiride dalam mengontrol penurunan kadar  HbA1c.  Kriteria  inklusi  penelitian  ini  adalah  pasien  dengan  diagnosa  diabetes,  mendapat  terapi antidiabetik  oral  minimal  6  bulan,  memiliki  rekam  medik lengkap.  Kriteria  eksklusi  meliputi  pasien  DM yang  mendapat  terapi  insulin,  pasien  TBC  dan  wanita  hamil  atau  menyusui.  Data  sosiodemografi, gambaran  pola  peresepan  dan  Ketercapaian  kadar  HbA1c  digambarkan  secara  deskriptif.  Analisis  data menggunakan  uji Wilcoxon.Responden  pada  penelitian  ini  sebanyak  69  pasien  yangdidominasi  oleh wanita (71%). Jenis terapi yang digunakan adalah metformin (59,4%) dan metformin+glimepiride (40,6%). Ketercapaian kadar HbA1c metformin+glimepiride (67,9%), metformin (48,8%). Selisih penurunan kadar HbA1c  dengan  metformin  diperoleh  hasil-0,31%±0,38  mg/dL  dan  metformin+glimepirid -0,33%±0,54 mg/dL (p = 0,000). Hal ini menjelaskan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada metformin tunggal pada   penurunan   kadar   HbA1c   dan   penambahan   glimepiride   (metformin+glimepiride)   terhadap penurunan kadar HbA1c pada pasien DM tipe 2 yang sudah gagal di terapi dengan metformin.Implikasi penelitian  ini  adalah  sebagai  masukan  untuk  panduan  pedoman  tatalaksana  yang  komprehensif  yang dapat digunakan dalam upaya menurunkan prevalensi DM. Tata kelola yang baik sangat diperlukan untuk mencapai outcome terapi. Kata Kunci:Diabetes; Efek; Glimepirid; HbA1c; Metformin ABSTRAKDiabetes adalah penyakit metabolik kronik dan penatalaksanaan DM dimulai dengan melakukan pola  hidup  sehat  bersamaan  dengan  pemberian  terapi  obat  antidiabetes.  Metformin  adalah  obat  lini pertama  dalam  penatalaksanaan  DM.  Pemberian  terapi  kombinasi  diberikan  jika  kadar  gula  darah  dan kadar  HbA1c  tidak  dapat  terkontrol  dengan  terapi  tunggal.  Olehkarena  itu  tujuan  penelitian  ini  adalah untuk mengetahui efek pemberian metformin dan metformin+glimepiride dalam mengontrol penurunan kadar  HbA1c.  Kriteria  inklusi  penelitian  ini  adalah  pasien  dengan  diagnosa  diabetes,  mendapat  terapi antidiabetik  oral  minimal  6  bulan,  memiliki  rekam  medik lengkap.  Kriteria  eksklusi  meliputi  pasien  DM yang  mendapat  terapi  insulin,  pasien  TBC  dan  wanita  hamil  atau  menyusui.  Data  sosiodemografi, gambaran  pola  peresepan  dan  Ketercapaian  kadar  HbA1c  digambarkan  secara  deskriptif.  Analisis  data menggunakan  uji Wilcoxon.Responden  pada  penelitian  ini  sebanyak  69  pasien  yangdidominasi  oleh wanita (71%). Jenis terapi yang digunakan adalah metformin (59,4%) dan metformin+glimepiride (40,6%). Ketercapaian kadar HbA1c metformin+glimepiride (67,9%), metformin (48,8%). Selisih penurunan kadar HbA1c  dengan  metformin  diperoleh  hasil-0,31%±0,38  mg/dL  dan  metformin+glimepirid -0,33%±0,54 mg/dL (p = 0,000). Hal ini menjelaskan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada metformin tunggal pada   penurunan   kadar   HbA1c   dan   penambahan   glimepiride   (metformin+glimepiride)   terhadap penurunan kadar HbA1c pada pasien DM tipe 2 yang sudah gagal di terapi dengan metformin.Implikasi penelitian  ini  adalah  sebagai  masukan  untuk  panduan  pedoman  tatalaksana  yang  komprehensif  yang dapat digunakan dalam upaya menurunkan prevalensi DM. Tata kelola yang baik sangat diperlukan untuk mencapai outcome terapi. Kata Kunci:Diabetes; Efek; Glimepirid; HbA1c; Metformin ABSTRAKDiabetes adalah penyakit metabolik kronik dan penatalaksanaan DM dimulai dengan melakukan pola  hidup  sehat  bersamaan  dengan  pemberian  terapi  obat  antidiabetes.  Metformin  adalah  obat  lini pertama  dalam  penatalaksanaan  DM.  Pemberian  terapi  kombinasi  diberikan  jika  kadar  gula  darah  dan kadar  HbA1c  tidak  dapat  terkontrol  dengan  terapi  tunggal.  Olehkarena  itu  tujuan  penelitian  ini  adalah untuk mengetahui efek pemberian metformin dan metformin+glimepiride dalam mengontrol penurunan kadar  HbA1c.  Kriteria  inklusi  penelitian  ini  adalah  pasien  dengan  diagnosa  diabetes,  mendapat  terapi antidiabetik  oral  minimal  6  bulan,  memiliki  rekam  medik lengkap.  Kriteria  eksklusi  meliputi  pasien  DM yang  mendapat  terapi  insulin,  pasien  TBC  dan  wanita  hamil  atau  menyusui.  Data  sosiodemografi, gambaran  pola  peresepan  dan  Ketercapaian  kadar  HbA1c  digambarkan  secara  deskriptif.  Analisis  data menggunakan  uji Wilcoxon.Responden  pada  penelitian  ini  sebanyak  69  pasien  yangdidominasi  oleh wanita (71%). Jenis terapi yang digunakan adalah metformin (59,4%) dan metformin+glimepiride (40,6%). Ketercapaian kadar HbA1c metformin+glimepiride (67,9%), metformin (48,8%). Selisih penurunan kadar HbA1c  dengan  metformin  diperoleh  hasil-0,31%±0,38  mg/dL  dan  metformin+glimepirid -0,33%±0,54 mg/dL (p = 0,000). Hal ini menjelaskan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada metformin tunggal pada   penurunan   kadar   HbA1c   dan   penambahan   glimepiride   (metformin+glimepiride)   terhadap penurunan kadar HbA1c pada pasien DM tipe 2 yang sudah gagal di terapi dengan metformin.Implikasi penelitian  ini  adalah  sebagai  masukan  untuk  panduan  pedoman  tatalaksana  yang  komprehensif  yang dapat digunakan dalam upaya menurunkan prevalensi DM. Tata kelola yang baik sangat diperlukan untuk mencapai outcome terapi. Kata Kunci:Diabetes; Efek; Glimepirid; HbA1c; Metformin ABSTRAKDiabetes adalah penyakit metabolik kronik dan penatalaksanaan DM dimulai dengan melakukan pola  hidup  sehat  bersamaan  dengan  pemberian  terapi  obat  antidiabetes.  Metformin  adalah  obat  lini pertama  dalam  penatalaksanaan  DM.  Pemberian  terapi  kombinasi  diberikan  jika  kadar  gula  darah  dan kadar  HbA1c  tidak  dapat  terkontrol  dengan  terapi  tunggal.  Olehkarena  itu  tujuan  penelitian  ini  adalah untuk mengetahui efek pemberian metformin dan metformin+glimepiride dalam mengontrol penurunan kadar  HbA1c.  Kriteria  inklusi  penelitian  ini  adalah  pasien  dengan  diagnosa  diabetes,  mendapat  terapi antidiabetik  oral  minimal  6  bulan,  memiliki  rekam  medik lengkap.  Kriteria  eksklusi  meliputi  pasien  DM yang  mendapat  terapi  insulin,  pasien  TBC  dan  wanita  hamil  atau  menyusui.  Data  sosiodemografi, gambaran  pola  peresepan  dan  Ketercapaian  kadar  HbA1c  digambarkan  secara  deskriptif.  Analisis  data menggunakan  uji Wilcoxon.Responden  pada  penelitian  ini  sebanyak  69  pasien  yangdidominasi  oleh wanita (71%). Jenis terapi yang digunakan adalah metformin (59,4%) dan metformin+glimepiride (40,6%). Ketercapaian kadar HbA1c metformin+glimepiride (67,9%), metformin (48,8%). Selisih penurunan kadar HbA1c  dengan  metformin  diperoleh  hasil-0,31%±0,38  mg/dL  dan  metformin+glimepirid -0,33%±0,54 mg/dL (p = 0,000). Hal ini menjelaskan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada metformin tunggal pada   penurunan   kadar   HbA1c   dan   penambahan   glimepiride   (metformin+glimepiride)   terhadap penurunan kadar HbA1c pada pasien DM tipe 2 yang sudah gagal di terapi dengan metformin.Implikasi penelitian  ini  adalah  sebagai  masukan  untuk  panduan  pedoman  tatalaksana  yang  komprehensif  yang dapat digunakan dalam upaya menurunkan prevalensi DM. Tata kelola yang baik sangat diperlukan untuk mencapai outcome terapi. Kata Kunci:Diabetes; Efek; Glimepirid; HbA1c; Metformin ABSTRAKDiabetes adalah penyakit metabolik kronik dan penatalaksanaan DM dimulai dengan melakukan pola  hidup  sehat  bersamaan  dengan  pemberian  terapi  obat  antidiabetes.  Metformin  adalah  obat  lini pertama  dalam  penatalaksanaan  DM.  Pemberian  terapi  kombinasi  diberikan  jika  kadar  gula  darah  dan kadar  HbA1c  tidak  dapat  terkontrol  dengan  terapi  tunggal.  Olehkarena  itu  tujuan  penelitian  ini  adalah untuk mengetahui efek pemberian metformin dan metformin+glimepiride dalam mengontrol penurunan kadar  HbA1c.  Kriteria  inklusi  penelitian  ini  adalah  pasien  dengan  diagnosa  diabetes,  mendapat  terapi antidiabetik  oral  minimal  6  bulan,  memiliki  rekam  medik lengkap.  Kriteria  eksklusi  meliputi  pasien  DM yang  mendapat  terapi  insulin,  pasien  TBC  dan  wanita  hamil  atau  menyusui.  Data  sosiodemografi, gambaran  pola  peresepan  dan  Ketercapaian  kadar  HbA1c  digambarkan  secara  deskriptif.  Analisis  data menggunakan  uji Wilcoxon.Responden  pada  penelitian  ini  sebanyak  69  pasien  yangdidominasi  oleh wanita (71%). Jenis terapi yang digunakan adalah metformin (59,4%) dan metformin+glimepiride (40,6%). Ketercapaian kadar HbA1c metformin+glimepiride (67,9%), metformin (48,8%). Selisih penurunan kadar HbA1c  dengan  metformin  diperoleh  hasil-0,31%±0,38  mg/dL  dan  metformin+glimepirid -0,33%±0,54 mg/dL (p = 0,000). Hal ini menjelaskan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan pada metformin tunggal pada   penurunan   kadar   HbA1c   dan   penambahan   glimepiride   (metformin+glimepiride)   terhadap penurunan kadar HbA1c pada pasien DM tipe 2 yang sudah gagal di terapi dengan metformin.Implikasi penelitian  ini  adalah  sebagai  masukan  untuk  panduan  pedoman  tatalaksana  yang  komprehensif  yang dapat digunakan dalam upaya menurunkan prevalensi DM. Tata kelola yang baik sangat diperlukan untuk mencapai outcome terapi. Kata Kunci:Diabetes; Efek; Glimepirid; HbA1c; Metformin</description>
      <pubDate>Thu, 30 Jun 2022 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6776</guid>
      <dc:date>2022-06-30T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
  </channel>
</rss>

