<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
  <channel>
    <title>DSpace Collection: 887 - 981</title>
    <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6504</link>
    <description>887 - 981</description>
    <pubDate>Thu, 09 Apr 2026 04:19:32 GMT</pubDate>
    <dc:date>2026-04-09T04:19:32Z</dc:date>
    <item>
      <title>Continuous glucose monitoring for hypoglycemia and diabetic ketoacidosis risk reduction among diabetic patient using insulin: A literature review</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6527</link>
      <description>Title: Continuous glucose monitoring for hypoglycemia and diabetic ketoacidosis risk reduction among diabetic patient using insulin: A literature review
Authors: Rohmah, Assyfa Siti; Herawati, Tuti
Abstract: Pendahuluan: Hipoglikemia dan diabetic ketoacidosis (DKA) merupakan dua komplikasi paling sering terjadi pada pasien diabetes. Pemantauan kadar glukosa darah sebagai pencegahan komplikasi akut menjadi bagian penting dalam manajemen diabetes. Di era teknologi yang semakin maju, penggunaan teknologi dapat digunakan sebagai pemantauan glukosa darah yaitu continuous glucose monitoring (CGM). Tujuan: Untuk memberikan gambaran efektivitas penggunaan alat CGM sebagai manajemen diabetes untuk menurunkan kejadian hipoglikemia dan DKA pada pasien diabetes yang mendapat terapi insulin. Metode: Penelitian literature review untuk melakukan identifikasi melalui basis data dari semua artikel berkaitan dengan topik efektivitas continuous glucose monitoring (CGM). Pencarian literatur menggunakan boolean search dengan population “Diabetes Type 1” OR “Diabetes Patient” OR “Diabetes Type II”, Intervention “Flash Glucose Monitoring” OR “Continuous Glucose Monitoring” OR “Real Time Glucose Monitoring”, dan outcome: “Hypoglycemia” OR “Diabetic Ketoacidosis” OR “Complications” OR “Diabetes Management”. Hasil: Mengidentifikasi sebanyak 360.710 artikel dan mendapatkan 15 artikel yang sesuai dimana 7 artikel membahas CGM dapat menurunkan kejadian hipoglikemia, 7 artikel membahas pemasangan CGM berkaitan dengan penurunan HbA1C, dan 2 artikel membuktikan CGM berkaitan dengan penurunan kejadian DKA. Simpulan: Penggunaan CGM efektif dan efisien membantu perawat dalam melakukan pemantauan kadar glukosa darah selama di ruang rawat inap dalam manajemen penanganan pasien diabetes sehingga lebih mudah dalam mendeteksi kemungkinan terjadinya hipoglikemia dan pencegahan DKA akibat hiperglikemia berkelanjutan. Saran: Diharapkan penelitian selanjutnya dapat membandingkan efektivitas penggunaan alat CGM berdasarkan dari berbagai jenis atau modelnya.</description>
      <pubDate>Thu, 01 Feb 2024 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6527</guid>
      <dc:date>2024-02-01T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Efektifitas precede-proceed model dalam meningkatkan kualitas hidup pasien penyakit kronis</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6522</link>
      <description>Title: Efektifitas precede-proceed model dalam meningkatkan kualitas hidup pasien penyakit kronis
Authors: Dewiyuliana, Dewiyuliana; Junizar, Junizar; Juliana, Juliana; Rahmiati, Cut
Abstract: Pendahuluan: Peningkatan kasus penyakit kronis menyebabkan semakin tingginya angka kematian di dunia. Penyakit kronis disebabkan perilaku masyarakat, faktor lingkungan, peningkatan penggunaan teknologi, pengaruh sosial budaya yang dapat mempengaruhi kualitas hidup penderita. Penyakit kronis dapat mempengaruhi kesehatan individu, keluarga serta masyarakat dan pemerintahan. Precede-proceed model merupakan suatu pendekatan dalam bentuk pendekatan, yang dapat mempengaruhi individu untuk beraktivitas dengan menyesuaikan dengan kondisinya, pemenuhan dalam pengobatan dan semangat dalam menjalani pengobatan sehingga mampu meningkatkan kualitas hidup penderita penyakit kronis. Tujuan: Untuk melihat keefektifan precede-proceed model dalam meningkatkan kualitas hidup penderita dengan penyakit kronis. Metode: Penelitian quasi eksperimen dengan pendekatan pre-test dan post-test design. Populasi dalam penelitian ini adalah penderita penyakit kronis, dengan sampel sebanyak 17 responden yang dipilih secara random sampling. Kriteria inklusi meliputi responden yang bersedia menjadi responden, pasien yang mengalami penyakit kronis lebih dari 6 bulan, kesadaran compos mentis, nilai kualitas hidupnya rendah, sedangkan yang menjadi kriteria eksklusi merupakan responden yang tidak bersedia menjadi responden, ada gangguan penglihatan dan pendengaran. Pelaksanaan precede-proceed model ini dilaksanakan dalam 7 tahapan yang berlangsung selama 7 minggu. Instrumen yang digunakan untuk menilai kualitas hidup pasien berupa Whoqol-Brief. Pengujian hipotesis menggunakan statistik Paired sampel T-test. Hasil: Menunjukkan bahwa jenis kelamin yang paling dominan dalam penelitian ini adalah perempuan dengan persentase mencapai 76.47%, usia yang paling dominan dalam penelitian ini adalah lanjut usia dengan persentase mencapai 52.94%, tingkat pendidikan paling banyak menengah dengan persentase 58.82% dan jenis penyakit kronis yang paling banyak adalah penyakit diabetes mellitus dengan persentase 35.29%. Model precede-proceed dapat meningkatkan kualitas hidup penderita dengan penyakit kronis (p=0.00). Simpulan: Precede-proceed model merupakan suatu pendekatan dalam meningkatkan pengetahuan penderita penyakit kronis dengan pelayanan kesehatan melalui dukungan dari pasien, keluarga dan masyarakat.</description>
      <pubDate>Thu, 01 Feb 2024 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6522</guid>
      <dc:date>2024-02-01T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Efektivitas terapi guided imagery terhadap tingkat stres pada mahasiswa tingkat akhir dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6519</link>
      <description>Title: Efektivitas terapi guided imagery terhadap tingkat stres pada mahasiswa tingkat akhir dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah
Authors: Syah, Afni Yan; Delianti, Nosi
Abstract: Pendahuluan: Mahasiswa merupakan individu yang sedang belajar di perguruan tinggi yang memiliki tugas dalam menyelesaikan studinya, dalam jangka waktu yang telah ditetapkan, dan akan mengakhiri masa kuliahnya dengan menyusun karya tulis ilmiah (KTI) sebagai syarat kelulusan. Proses penyusunan KTI ini bukan hal yang sederhana bagi mahasiswa. Mahasiswa diharuskan untuk mandiri, kritis, menulis secara ilmiah, melakukan survei lapangan, dan menerapkan ilmu yang dipelajari selama proses perkuliahan. Mahasiswa merasa bahwa dari penyusunan KTI diluar kemampuannya, sehingga mereka mudah mengalami stres. Penanganan stres dapat dilakukan dengan terapi guided imagery yang merupakan metode relaksasi untuk mengkhayalkan tempat dan kejadian berhubungan dengan rasa relaksasi yang menyenangkan. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas terapi guided imagery terhadap tingkat stres pada mahasiswa tingkat akhir dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah. Metode: Menggunakan penelitian quasy eksperimen dengan pendekatan pretest dan postest control group design. Teknik pengambilan sampel dengan nonprobability sampling jenis purposive sampling sebanyak 68 responden dan dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 34 partisipan kelompok eksperimen dan 34 kelompok kontrol. Instrumen yang digunakan untuk mengukur tingkat stres pada mahasiswa tingkat akhir berupa Perceived Stress Scale (PSS-10). Uji statistik yang digunakan yaitu uji Paired Sample T-test. Hasil: Mendapatkan p-value = 0.000 (p&lt;0.05) pada kelompok eksperimen yang berarti ada pengaruh terapi guided imagery terhadap tingkat stres pada mahasiswa tingkat akhir dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah. Hal ini dapat dilihat dari penurunan tingkat stres rerata pada kelompok eksperimen 4.88 dan pada kelompok kontrol 0.23. Simpulan: Terapi guided imagery efektif terhadap tingkat stres pada mahasiswa tingkat akhir dalam menyelesaikan KTI. Saran: Dalam hal ini perlu adanya dukungan dari keluarga dan pihak kampus agar dapat mengatasi stres pada mahasiswa tingkat akhir secara tepat.</description>
      <pubDate>Thu, 01 Feb 2024 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6519</guid>
      <dc:date>2024-02-01T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Korelasi stres subjektif dan strategi koping mahasiswa keperawatan di masa pandemi Covid-19</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6518</link>
      <description>Title: Korelasi stres subjektif dan strategi koping mahasiswa keperawatan di masa pandemi Covid-19
Authors: Lainsamputty, Ferdy; Wuisang, Metty
Abstract: Pendahuluan: Stres umum didapati pada mahasiswa keperawatan, khususnya yang berada di tahun terakhir. Apabila tidak tertangani dengan baik, dalam jangka panjang maka akan mengganggu kesehatan fisik dan proses pembelajaran klinik menjadi terhambat. Kondisi ini diperparah dengan keadaan pandemi yang meningkatan resiko mahasiswa tertular penyakit infeksius selama praktik klinik. Berbagai faktor juga berpotensi berhubungan dengan strategi koping mahasiswa keperawatan. Tujuan: Untuk menguji korelasi antara stres dan strategi koping mahasiswa keperawatan di masa pandemi Covid-19, beserta faktor-faktor yang berhubungan dengannya. Metode: Desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross-sectional digunakan dalam penelitian ini yang melibatkan 104 mahasiswa keperawatan. Alat ukur yang digunakan yaitu Depression Anxiety Stres Scale-42 (DASS-42) dan Coping Strategies Inventory-Short Form (CSI-SF). Uji statistik menggunakan Independent T-Test, One-way ANOVA, serta Korelasi Pearson. Hasil: Terdapat perbedaan skor rata-rata komponen strategi koping keterlibatan (t=-3.01; p=0.01) dan ketidakterlibatan (t=-0.26; p=0.01) berdasarkan penggunaan alat pelindung diri (APD). Ada perbedaan skor komponen strategi koping keterlibatan berdasarkan pengetahuan dan pencegahan tentang Covid-19 (t=-2.45; p=0.02). Ada korelasi yang signifikan antara umur dengan ketidakterlibatan (r=-0.32; p&lt;0.01) dan ketidakterlibatan berfokus emosi (r=-0.41; p&lt;0.001). Stres berkorelasi signifikan dengan komponen ketidakterlibatan berfokus emosi (r=0.33; p&lt;0.01). Simpulan: Mahasiswa yang berusia lebih tua, pengguna APD memiliki pengetahuan dan pencegahan terkait Covid-19 yang cukup, serta mengalami stres yang lebih parah cenderung menggunakan strategi koping yang lebih baik. Saran: Mahasiswa agar dapat mengelola stres dan menggunakan strategi koping yang positif. Pengkajian terhadap kondisi psikologis mahasiswa dapat dipertimbangkan untuk terus dilakukan selama studi. Penelitian selanjutnya dapat mengembangkan intervensi terhadap penggunaan strategi koping yang tepat pada mahasiswa keperawatan.</description>
      <pubDate>Thu, 01 Feb 2024 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6518</guid>
      <dc:date>2024-02-01T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
  </channel>
</rss>

