<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
  <channel>
    <title>DSpace Collection:</title>
    <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4231</link>
    <description />
    <pubDate>Thu, 09 Apr 2026 05:31:26 GMT</pubDate>
    <dc:date>2026-04-09T05:31:26Z</dc:date>
    <item>
      <title>STRUCTURE-ACTIVITY RELATIONSHIPS AND SURFACE IMMOBILIZATION OF POLYCATIONIC ANTIMICROBIALS</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4236</link>
      <description>Title: STRUCTURE-ACTIVITY RELATIONSHIPS AND SURFACE IMMOBILIZATION OF POLYCATIONIC ANTIMICROBIALS
Authors: Widodo, Mohamad; Anggitta Raharjani, Sophie
Abstract: ABSTRACT&#xD;
Antimicrobial agents have been the subject of scientific interest for the last few decades. However, the emergence of a novel coronavirus and pandemic that ensued has brought a new sense of urgency to the field of antibacterial research. The most urgent needs to mitigate the pandemic are self-disinfecting health equipment and antimicrobial protective equipment such as gowns for healthcare workers and face masks for the general public. At a time of high demand for antimicrobial products, understanding the mechanisms involved in antimicrobial polymers will be a benefit. In this review, the definition of antimicrobials and their classification according to the mode of action, as well as their chemical structure, were explained and used to build the fundamental understanding about antimicrobials and the working principles behind their action. The discussion continued with factors that affect the antimicrobial activity, which is the focus of the review. The first part of the review deals with free antimicrobial polymers in solution. The effect of molecular weight, counterions, spacer length and alkyl chain to the efficacy of antimicrobial polymers are highlighted and discussed at length. Focus in the second part shifts towards surface-immobilized antimicrobial polymers and their methods of immobilization.&#xD;
Keywords: polymeric antimicrobial, antimicrobial structure, surface immobilization</description>
      <pubDate>Thu, 25 Jun 2020 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4236</guid>
      <dc:date>2020-06-25T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>PEMANFAATAN DAUN RAMI SEBAGAI BAHAN ZAT WARNA ALAM DAN FUNGSIONALISASINYA PADA PENCELUPAN KAIN KAPAS DAN SUTERA</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4235</link>
      <description>Title: PEMANFAATAN DAUN RAMI SEBAGAI BAHAN ZAT WARNA ALAM DAN FUNGSIONALISASINYA PADA PENCELUPAN KAIN KAPAS DAN SUTERA
Authors: Nugraha, Jakariya; Yuniar Rakhmatiara, Emma
Abstract: ABSTRAK&#xD;
Ekstrak daun rami dapat dimanfaatkan sebagai bahan zat warna alam pada proses pencelupan tekstil karena mengandung senyawa flavonoid. Dalam penelitian ini telah dilakukan studi tentang pencelupan kain kapas dan sutera dengan zat warna alam dari hasil ekstraksi daun rami. Studi ini bertujuan untuk mempelajari kemungkinan pemanfaatan daun rami sebagai zat warna alam dan sebagai zat anti oksidan pada tekstil. Metode penelitian meliputi ekstraksi daun rami, pencelupan metode perendaman dan post-mordanting. Evaluasi kualitas hasil pencelupan meliputi ketuaan warna (K/S), kecerahan warna (L*), arah warna (a*, b*), ketahanan luntur warna terhadap pencucian, gosokan, dan cahaya, serta pengujian proteksi kain terhadap sinar UV atau Ultraviolet Protection Factor (UPF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun rami dapat mencelup bahan tekstil dengan ketuaan warna pada sutera lebih baik daripada kain kapas. Kecerahan warna berbanding terbalik dengan ketuaan warna, dan arah warna yang dihasilkan adalah merah dan kuning. Kualitas pencelupan memiliki ketahanan luntur terhadap pencucian dengan nilai perubahan warna untuk kapas 3-4 dan sutera 4, sedangkan penodaan warna untuk kedua kain tersebut 4-5. Nilai penodaan warna karena gosokan bervariasi dari 3-4, 4, dan 4-5 pada masing-masing kain sampel dengan gosokan kering lebih baik daripada gosokan basah. Nilai ketahanan luntur warna terhadap sinar matahari relatif buruk yaitu 2 untuk kain kapas dan 2-3 untuk kain sutera, namun pada kain yang di post-mordanting menggunakan FeSO4 mempunyai nilai tiga tingkat lebih tinggi daripada variasi lainnya. Pencelupan dengan zat warna hasil ekstraksi daun rami menggunakan bahan post-mordanting FeSO4 efektif meningkatkan nilai UPF hingga UPF 10,6 pada kain kapas dan UPF 25 untuk kain sutera.&#xD;
Kata kunci: ekstrak daun rami, flavonoid, pencelupan, UPF</description>
      <pubDate>Mon, 08 Jun 2020 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4235</guid>
      <dc:date>2020-06-08T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>PENINGKATAN SIFAT MOISTURE MANAGEMENT DAN SOIL RELEASE PADA KAIN TENUN POLIESTER MENGGUNAKAN SENYAWA KOPOLIMER HIDROFILIK</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4234</link>
      <description>Title: PENINGKATAN SIFAT MOISTURE MANAGEMENT DAN SOIL RELEASE PADA KAIN TENUN POLIESTER MENGGUNAKAN SENYAWA KOPOLIMER HIDROFILIK
Authors: Wibi Sana, Arif; Olival Alif, Silvani; Sukardan, M Danny; Yuniar Rakhmatiara, Emma; Titis Mustikawati, Ana
Abstract: ABSTRAK&#xD;
Kemampuan moisture management dan soil release merupakan dua faktor penting yang dapat mempengaruhi tingkat kenyamanan dan kemudahan perawatan pada pakaian. Penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki sifat moisture management dan soil release pada kain poliester sehingga lebih nyaman saat dipakai dan mudah melepaskan kotoran saat dicuci. Metode penelitian ini adalah dengan melakukan proses penyempurnaan pada kain tenun poliester menggunakan senyawa kopolimer hidrofilik, meliputi tahapan perendaman (dipping), pemerasan (padding), pengeringan (drying), dan pemanasawetan (curing). Untuk memperoleh kondisi proses terbaik, dilakukan percobaan dengan memvariasikan beberapa parameter, yaitu konsentrasi senyawa kopolimer hidrofilik (10 g/L; 20 g/L; 30 g/L; 40 g/L), suhu pemanasawetan (150 °C; 160 °C; 170 °C) dan waktu pemanasawetan (0,5 menit; 1 menit; dan 1,5 menit). Evaluasi dilakukan melalui pengujian menggunakan alat moisture management tester (MMT) dan uji soil release. Hasil uji menunjukan bahwa terjadi peningkatan sifat moisture management dan soil release pada kain poliester setelah diberi perlakuan dengan senyawa kopolimer hidrofilik. Kondisi proses optimum diperoleh pada konsentrasi 30 g/L, suhu pemanasawetan160 °C, dan waktu pemanasawetan 1 menit.&#xD;
Kata kunci: kopolimer hidrofilik, moisture management, poliester, soil release</description>
      <pubDate>Mon, 08 Jun 2020 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4234</guid>
      <dc:date>2020-06-08T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>STUDI PENINGKATAN DAYA SERAP KAIN POLIESTER DENGAN MENGGUNAKAN ENZIM LIPASE</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4233</link>
      <description>Title: STUDI PENINGKATAN DAYA SERAP KAIN POLIESTER DENGAN MENGGUNAKAN ENZIM LIPASE
Authors: Haryanto, Agung; Noerati, Noerati
Abstract: ABSTRAK&#xD;
Poliester memiliki keunggulan dibandingkan dengan serat sintetis lainnya diantaranya memiliki kekuatan yang tinggi, tidak mudah mulur, tidak mudah kusut apabila dicuci, dan memiliki ketahanan abrasi, namun juga memiliki kekurangan dalam sifat hidrofobiknya, hal ini disebabkan oleh moisture regain yang rendah yaitu 0,4%. Salah satu teknik yang dapat diaplikasikan untuk meningkatkan sifat hidrofilik dari kain poliester dengan tanpa mengakibatkan kerusakan pada bahan adalah dengan menggunakan enzim lipase. Penelitian ini membahas mengenai pengaruh variasi konsentrasi enzim lipase (berupa crude enzim lipase) dalam upaya peningkatan daya serap kain poliester. Variasi konsentrasi enzim yang digunakan yaitu 40%, 60%, 80%, dan 100% on weight fabric (owf). Setelah proses enzimatik kain poliester dilakukan evaluasi, terhadap pengurangan berat bahan, waktu serap (standar AATCC 79 yang diamati menggunakan mikroskop digital), serta analisis gugus fungsi poliester melalui FTIR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa enzim lipase berpengaruh pada peningkatan daya serap. Kain poliester tanpa perlakuan enzim memiliki daya serap 19 detik dan daya serap meningkat secara signifikan menjadi 4 detik pada konsentrasi enzim lipase 60%. Peningkatan daya serap ini lebih baik dibandingkan pada konsentrasi enzim lipase lainnya, yaitu pada konsentrasi enzim lipase 40% (5,3 detik), 80% (4,7 detik), dan 100% (4,7 detik).&#xD;
Kata kunci: enzim lipase, crude enzim lipase, modifikasi poliester, daya serap, AATCC 79</description>
      <pubDate>Mon, 08 Jun 2020 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4233</guid>
      <dc:date>2020-06-08T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
  </channel>
</rss>

