<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" version="2.0">
  <channel>
    <title>DSpace Collection:</title>
    <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3867</link>
    <description />
    <pubDate>Wed, 29 Apr 2026 12:38:05 GMT</pubDate>
    <dc:date>2026-04-29T12:38:05Z</dc:date>
    <item>
      <title>Pengaruh Pemanfaatan Dana Bantuan Operasional Kesehatan terhadap Upaya Kesehatan Anak melalui Posyandu di Indonesia Berdasarkan Data IFLS Tahun 2014</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3915</link>
      <description>Title: Pengaruh Pemanfaatan Dana Bantuan Operasional Kesehatan terhadap Upaya Kesehatan Anak melalui Posyandu di Indonesia Berdasarkan Data IFLS Tahun 2014
Authors: Priyatiningsih, Nia; Nurwahyuni, Atik
Abstract: Dana Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) merupakan upaya pemerintah Indonesia dalam mengurangi angka kematian bayi baru lahir dan balita. Tahun 2017 angka kematian bayi baru lahir mencapai 15 per 1000 kelahiran hidup dan 32 per 1000 kelahiran hidup pada balita. Dana BOK digunakan sebagai biaya operasional tenaga kesehatan/kader dalam melaksanakan kegiatan promotif dan preventif di luar gedung. Penelitian ini bertujuan menjelaskan pengaruh dana BOK dalam upaya kesehatan anak melalui posyandu. Penelitian ini menggunakan studi data sekunder IFLS tahun 2014, dengan desain studi cross-sectional dan pendekatan ekonometri model logit. Responden dalam penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak berusia 0–59 bulan, jumlah responden sebanyak 4.417. Proses pengolahan data menggunakan aplikasi STATA. Hasil penelitian menunjukkan anak yang dibawa ke posyandu berhubungan signifikan dengan p-value&lt;0,1 terhadap status pendidikan ibu, status ekonomi dan Dana BOK. Status pendidikan memiliki p-value=0,087, status ekonomi memiliki p-value=0,019, dan dana BOK memiliki p-value=0,0001. Dana BOK tidak berpengaruh langsung terhadap kesehatan anak, tetapi pemanfaatkan Dana BOK oleh tenaga kesehatan/kader dapat memberi kesadaran ibu yang memiliki balita untuk menjaga kesehatan anak melalui posyandu</description>
      <pubDate>Sun, 01 Sep 2019 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3915</guid>
      <dc:date>2019-09-01T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Efektivitas Ekstrak Kulit Buah Limau Kuit (Citrus Amblycarpa) sebagai Larvasida Aedes Aegypti Instar III</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3914</link>
      <description>Title: Efektivitas Ekstrak Kulit Buah Limau Kuit (Citrus Amblycarpa) sebagai Larvasida Aedes Aegypti Instar III
Authors: Ishak, Nuning Irnawulan; Kasman; Chandra
Abstract: Berbagai dampak negatif penggunaan larvasida kimia mendorong penelitian mengenai larvasida alami&#xD;
salah satunya adalah ekstrak limau kuit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas ekstrak kulit limau kuit sebagai larvasida alami terhadap kematian larva Aedes aegypti. Penelitian ini menggunakan desain true experiment dengan rancangan post test only control group. Objek penelitian adalah ekstrak kulit buah limau kuit. Besar sampel penelitian adalah 450 ekor jentik instar III dengan menggunakan teknik Simple Random Sampling dan diberi perlakuan dengan berbagai konsentrasi ekstrak kulit limau kuit (2ml/100ml, 3ml/100ml, 4ml/100ml, dan 5ml/100 ml) selama 10 jam. Kontrol positif menggunakan abate 0,01 gr/100ml. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua kelompok perlakuan dapat mematikan 100% larva. Pada konsentrasi 4,0 ml/100ml dan 5,0 ml/100ml mengalami kematian 100% setelah 6 jam pengukuran dan kelompok kontrol positif mengalami kematian 100% setelah 4 jam pengukuran. Analisis data menggunakan uji Kruskal Wallis dan analisis probit. Hasil analisis probit menunjukkan bahwa nilai LT50 konsentrasi 5,0% adalah 2,58 jam dan nilai LT99 adalah 5,86 jam. Hasil uji Kruskal Wallis menunjukkan tidak terdapat perbedaan secara signifikan (p&gt;0,05) rerata kematian jentik antar kelompok perlakuan dengan kelompok kontrol. Pemberian ekstrak kulit buah limau kuit dapat menjadi alternatif larvasida alami yang dapat digunakan masyarakat.</description>
      <pubDate>Sun, 01 Sep 2019 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3914</guid>
      <dc:date>2019-09-01T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Faktor Risiko Anemia pada Wanita Pemetik Teh</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3913</link>
      <description>Title: Faktor Risiko Anemia pada Wanita Pemetik Teh
Authors: Setyorini, Eryasih; Anwar, Faisal; Riyadi, Hadi; Khomsan, Ali
Abstract: Anemia dikenal sebagai masalah kesehatan masyarakat selama bertahun-tahun, berdasarkan hasil Riskesdas 2018 diketahui prevalensi anemia sebesar 48,9%. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko yang memengaruhi terjadinya anemia pada wanita pemetik teh di daerah Pengalengan Bandung, Jawa Barat. Desain penelitian adalah cross-sectional dengan 148 subjek Wanita Usia Subur (WUS) berusia antara 18-45 tahun yang sudah menikah dan tidak sedang hamil yang dipilih secara purposive di Kebun Purbasari, Talun Santosa dan Sedep. Penelitian ini merupakan bagian dari penelitian yang didanai oleh Neys-van Hoogstraten Foundation (NHF). Data yang diperoleh adalah karakteristik subjek (usia, besar keluarga, lama dan tingkat pendidikan), pengeluaran pangan dan non pangan keluarga/bulan, status gizi dan komposisi tubuh, dan status anemia. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar pekerja wanita pemetik teh berusia 40-44 tahun, dengan jumlah keluarga ≤4 orang dan 72,3% dengan tingkat pendidikan rendah (89,9% berpendidikan maksimal SD). Rata-rata pengeluaran non pangan lebih besar daripada pengeluaran pangan. Berdasarkan berbagai indikator komposisi tubuh, secara umum pekerja wanita pemetik teh dalam kondisi berat badan berlebih (56,8%), lingkar lengan atas normal (98,6%). Rata-rata total lemak tubuh &gt;32,1%, visceral fat normal (≤9%), lingkar pinggang berisiko ≥80 cm, dan RPP ≥0,8 cm sebesar 81,1%. Prevalensi anemia pada wanita pemetik teh sebesar 42,6%. Overweight merupakan faktor yang paling berisiko terhadap anemia karena penimbunan lemak dapat menurunkan penyerapan zat besi sehingga jumlah hemoglobin menurun dan eritrosit mengecil. Umur sebagai faktor protektif. Anemia dapat dicegah melalui edukasi gizi, pola hidup sehat, dan pengendalian faktor penyebab serta predisposisinya.</description>
      <pubDate>Sun, 01 Sep 2019 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3913</guid>
      <dc:date>2019-09-01T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
    <item>
      <title>Efektivitas Dual-Task Training Motorik-Kognitif dalam Menurunkan Risiko Jatuh pada Lansia</title>
      <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3912</link>
      <description>Title: Efektivitas Dual-Task Training Motorik-Kognitif dalam Menurunkan Risiko Jatuh pada Lansia
Authors: Purnamasari, Nahdiah; Bachtiar, Farahdina; Puspitha, Arnis
Abstract: Proses penuaan menyebabkan kemunduran dari berbagai aspek tubuh baik secara fisik, mental, maupun psikologis yang secara tidak langsung mengancam kemandirian lansia serta membuat mereka rentan terhadap kejadian jatuh. Latihan kombinasi Dual-Task motorik-kognitif menggabungkan latihan fisik dan kognitif secara bersama-sama dan menginduksi efek sinergis ketika digabungkan dalam satu intervensi. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pemberian latihan dual-task terhadap risiko jatuh pada lansia. Metode yang digunakan adalah pre-eksperimental dengan one group pre-test post-test design dengan lama waktu perlakuan selama 4 minggu dengan frekuensi 3 kali seminggu. Sebelum dan setelah perlakuan, responden diukur tingkat keseimbangan dan risiko jatuhnya menggunakan Berg Balance Scale (BBS), Timed-Up and Go Test (TUGT), serta Tinetti Balance Assesment Tool. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan keseimbangan lansia setelah pemberian 12 kali latihan berdasarkan alat ukur BBS (p&lt;0.001) dan TUGT (p=0.079). Risiko jatuh terlihat mengalami penurunan setelah 12 kali perlakuan (p&lt;0.001). Penurunan risiko jatuh paling tinggi terjadi setelah 6 kali perlakuan pertama (p=0.011). Disimpulkan bahwa latihan dual-task motorik-kognitif ini secara signifikan berpengaruh dalam penurunan risiko jatuh pada lansia.</description>
      <pubDate>Sun, 01 Sep 2019 00:00:00 GMT</pubDate>
      <guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3912</guid>
      <dc:date>2019-09-01T00:00:00Z</dc:date>
    </item>
  </channel>
</rss>

