<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <channel rdf:about="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6392">
    <title>DSpace Collection: 269 - 357</title>
    <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6392</link>
    <description>269 - 357</description>
    <items>
      <rdf:Seq>
        <rdf:li rdf:resource="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6405" />
        <rdf:li rdf:resource="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6404" />
        <rdf:li rdf:resource="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6403" />
        <rdf:li rdf:resource="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6402" />
      </rdf:Seq>
    </items>
    <dc:date>2026-04-23T06:31:16Z</dc:date>
  </channel>
  <item rdf:about="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6405">
    <title>Analisis tingkat masa kerja terhadap motivasi kerja tenaga kesehatan pada masa pandemi Covid-19</title>
    <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6405</link>
    <description>Title: Analisis tingkat masa kerja terhadap motivasi kerja tenaga kesehatan pada masa pandemi Covid-19
Authors: Sudirman, Sudirman; AB, Subardin; Fajrah, Sitti; HR, Fitri Arni; Susianawat, Desak Eka; Fitiriani, Fitiriani; Purwiningsih, Sri
Abstract: Pendahuluan: Pandemi Covid-19 meningkatkan beban kerja, masa kerja sangat menentukan beban kerja yang diterima tenaga kesehatan di Puskesmas, beban kerja memiliki risiko kesalahan kerja yang tinggi karena tuntutan standar yang harus dipenuhi. Motivasi tinggi petugas kesehatan berkontribusi pada keberhasilan kinerja mereka, terciptanya motivasi kerja yang baik, akan meningkatkan prestasi kerja petugas kesehatan. Tujuan: Untuk menganalisis hubungan dan pengaruh tingkatan masa kerja terhadap tingkat motivasi kerja petugas kesehatan dimasa pandemi Covid-19. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan pendekatan crossectional, melalui proses observasional. Populasi penelitian adalah seluruh petugas kesehatan yang bekerja di Puskesmas Anutoluwu sebanyak 47 orang. Sampel sebanyak 47 orang. Analisis data yang digunakan yaitu Chi-Square dan Uji F. asil: Penelitian menunjukkan bahwa tingkatan masa kerja petugas kesehatan memeiliki hubungan yang signifikan terhadap tingkat motivasinya (p-value = 0.050), sementara pengaruh tingkatan masa kerja terhadap motivasi petugas kesehatan tidak secara langsung saling mempengaruhi di mana nilai F = 3.88 (&lt; nilai F tabel 4.05) dengan tingkat signifikan yang tidak kuat (sig.= 0.55). Simpulan: Mayoritas petugas kesehatan di Puskesmas Anutoluwu, Kecamatan Petasia Barat, Kabupaten Morowali Utara adalah perempuan dan memiliki status masa kerja senior, tingkatan masa kerja memiliki hubungan dengan kinerja petugas kesehatan, tetapi tidak berpengaruh secara langsung.</description>
    <dc:date>2023-07-01T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6404">
    <title>Riwayat penyakit infeksi dan kejadian stunting pada balita usia 24 – 60 bulan</title>
    <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6404</link>
    <description>Title: Riwayat penyakit infeksi dan kejadian stunting pada balita usia 24 – 60 bulan
Authors: Horidah, Siti; Prameswar, Riski Dwi; Erlinawati, Noor Diah; Sasmito, Priyo; Muntasir, Muntasir
Abstract: Pendahuluan: Masalah kekurangan gizi terutama stunting pada balita di Kota Bandung cukup tinggi yaitu 6,63%. Penyebab utama stunting adalah kekurangan gizi. Kekurangan asupan gizi dapat disebabkan oleh riwayat penyakit infeksi. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan riwayat penyakit infeksi dengan kejadian stunting pada balita umur 24-60 bulan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain Cross Sectional. Populasi pada penelitian ini adalah balita berumur 24–60 bulan, sampel penelitian sebanyak 41 balita, diambil menggunakan teknik simple random sampling. Kriteria Inklusi sampel penelitian adalah balita yang berumur 24-60 bulan, tinggal di wilayah kerja Puskesmas Cipadung. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Analisis data menggunakan uji chi-square. Hasil: Pada penelitian ini balita yang mengalami stunting sebanyak 29.3%. Terdapat hubungan antara riwayat diare dengan kejadian stunting pada balita (p=0,037), dan juga terdapat hubungan antara riwayat ISPA dengan kejadian stunting pada balita (p=0,038). Simpulan: Kejadian stunting dapat disebabkan oleh adanya riwayat penyakit infeksi seperti riwayat penyakit diare dan riwayat penyakit ISPA. Saran: Disarankan kepada tenaga kesehatan agar dapat membatu memberikan penyuluhan kesehatan khususnya tentang pencegahan penyakit infeksi seperti diare dan ISPA.</description>
    <dc:date>2023-07-01T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6403">
    <title>Analisis faktor yang berhubungan dengan kejadian diabetes melitus tipe 2</title>
    <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6403</link>
    <description>Title: Analisis faktor yang berhubungan dengan kejadian diabetes melitus tipe 2
Authors: Lasmawat, Eggy; Putri, Devita Febriani; Nuryani, Dina Dwi
Abstract: Pendahuluan: Diabetes melitus (DM) merupakan penyebab kematian ketujuh di dunia. Sekitar 90 persen kasus DM hampir dialami oleh setiap negara dan kebanyakan tergolong DM tipe 2. Indonesia menempati urutan ketujuh penderita diabetes dengan jumlah mencapai 10,7 juta penduduk. Pada provinsi lampung, Kota Bandar Lampung merupakan kota tertinggi kedua kasus DM tipe 2 setelah Kota Metro. Prevalensi DM tipe 2 Di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin mencapai 0,9 persen tahun 2019, 5,1 persen tahun 2020 dan 6,8 persen tahun 2020 dan menduduki posisi 3 teratas di ruang rawat jalan. Faktor risiko Riwayat keluarga DM, pengetahuan, status gizi, aktivitas fisik, merokok dan Konsumsi buah dan sayur erat kaitannya dengan kejadian DM tipe 2. Tujuan: Mengetahui faktor yang berhubungan dengan kejadian DM tipe 2 pada pasien poliklinik penyakit dalam Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin. Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien di poliklinik penyakit dalam Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling. Hasil: Didapatkan hubungan yang bermakna antara riwayat DM Pada keluarga (p-value 0,000), pengetahuan (pvalue 0,000), Status Gizi (p-value 0,000), aktivitas fisik (p-value 0,000), dengan kejadian DM tipe 2. Tidak ada hubungan yang bermakna antara Konsumsi Buah dan Sayur (p-value 0,186) dan merokok (p-value 0,219). Variabel yang paling dominan pengaruhnya adalah riwayat DM pada keluarga dengan OR 21,393 disusul oleh obesitas dengan OR 16,3 terhadap kejadian DM tipe 2 di Rumah Sakit Pertamina Bintang Amin. Saran: Disarankan bagi masyarakat yang memiliki riwayat keluarga penderita diabetes hendaknya memeriksakan kadar gula darahnya agar dapat melakukan pencegahan sedini mungkin terhadap kejadian DM tipe 2.</description>
    <dc:date>2023-07-01T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6402">
    <title>Gender dan resiko kecenderungan body dysmorphic disorder pada remaja akhir</title>
    <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6402</link>
    <description>Title: Gender dan resiko kecenderungan body dysmorphic disorder pada remaja akhir
Authors: Yunalia, Endang Mei; ISuharto, dola Perdana Sulistyoning; Samudera, Wahyu Sukma; Fatehah, Nurul
Abstract: Pendahuluan: Masa remaja merupakan masa dimana perkembangan pada aspek fisik dan psikologis berkembang dengan pesat. Penilaian negatif dari orang lain terhadap aspek fisik dan penampilan merupakan salah satu hal yang dapat menimbulkan distress bagi remaja. Salah satu bentuk distress yang mungkin terjadi yaitu remaja merasa tidak puas dengan kondisi fisik ataupun penampilannya dan membandingkan keadaan fisiknya dengan keadaan fisik orang lain hingga mempengaruhi kemampuan fungsional atau yang disebut dengan body dysmorphic disorder. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan jenis kelamin dengan resiko kecenderungan body dysmorphic disorder pada remaja akhir. Metode: Penelitian ini adalah penelitian analitik korelasional dengan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 191 responden yang dipilih menggunakan teknik cluster sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner kecenderungan body dysmorphic disorder yang telah dilakukan uji validitas dan reliabilitas dengan nilai Alpha Cronbach’s α = 0.722. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan Uji Chi-Square. Hasil: Sebagian besar responden adalah perempuan sebanyak 134 responden atau 70.2% dan sebanyak 63 responden atau 33.0% memiliki resiko kecenderungan body dysmorphic disorder kategori sedang, dan sebanyak 62 responden atau 32.5% memiliki resiko kecenderungan body dysmorphic disorder kategori tinggi. Hasil analisis dengan Uji Chi-Square didapatkan nilai 0,000&lt;0,05 sehingga dapat disimpulkan H0 ditolak dan H1 diterima. Simpulan: Ada hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dengan resiko kecenderungan body dysmorphic disorder pada remaja akhir.</description>
    <dc:date>2023-07-01T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
</rdf:RDF>

