<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <channel rdf:about="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4222">
    <title>DSpace Collection:</title>
    <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4222</link>
    <description />
    <items>
      <rdf:Seq>
        <rdf:li rdf:resource="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4230" />
        <rdf:li rdf:resource="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4229" />
        <rdf:li rdf:resource="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4228" />
        <rdf:li rdf:resource="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4227" />
      </rdf:Seq>
    </items>
    <dc:date>2026-04-29T19:17:06Z</dc:date>
  </channel>
  <item rdf:about="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4230">
    <title>APLIKASI BENANG SLUB UNTUK PEMBUATAN BAHAN WINDOW COVERING</title>
    <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4230</link>
    <description>Title: APLIKASI BENANG SLUB UNTUK PEMBUATAN BAHAN WINDOW COVERING
Authors: Siregar, Yusniar; Sukardan, M. Danny; Suantara, Dermawati; Fahruroji, Rizal
Abstract: ABSTRAK&#xD;
Pada penelitian ini telah dilakukan pembuatan benang fancy slub dengan beberapa variasi rangkapan yaitu 40 Tex (single slub), 82 Tex (rangkap 2), 124 Tex (rangkap 3), dan 162 Tex (rangkap 4) untuk bahan pembuatan kain gorden sebagai salah satu produk interior window covering. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perangkapan benang terhadap performa benang slub pada kain tenun yang akan digunakan untuk kain gorden. Mutu bahan kain untuk window covering dari benang fancy slub ini kemudian dibandingkan dengan syarat mutu kain gorden sesuai SNI 08-1275-2002. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa bertambahnya jumlah rangkapan pada benang slub berbanding lurus dengan Tpi dan kekuatan tariknya. Selain itu performa benang slub 162 Tex yang memiliki diameter benang paling besar dan twist paling tinggi yaitu 4,38 Tpi, menghasilkan efek slub yang cenderung samar, jika dibandingkan dengan benang slub 124 Tex dan 82 Tex yang terlihat lebih jelas. Berat kain untuk ketiga variasi benang slub tersebut masing-masing adalah 170,34 g/m2, 203,09 g/m2 , 235,84 g/m2 dan ketiganya masih sesuai dengan persyaratan mutu kain gorden (minimum 135 g/m2). Hasil uji ketahanan luntur terhadap sinar terang hari pada ketiga variasi benang juga telah memenuhi persyaratan mutu yaitu minimum 4-5.&#xD;
Kata kunci: benang slub, hias, gorden, tenun, kapas</description>
    <dc:date>2019-12-28T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4229">
    <title>PENYEMPURNAAN FUNGSIONAL ANTI ULTRAVIOLET PADA KAIN POLIESTER MENGGUNAKAN SENG OKSIDA DENGAN METODE IMPREGNASI</title>
    <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4229</link>
    <description>Title: PENYEMPURNAAN FUNGSIONAL ANTI ULTRAVIOLET PADA KAIN POLIESTER MENGGUNAKAN SENG OKSIDA DENGAN METODE IMPREGNASI
Authors: Sugiyana, Doni; Nugraha, Jakariya; Surya Mulyawan, Agus; Septiani, Wulan; Wahyudi, Tatang
Abstract: ABSTRAK&#xD;
Proteksi terhadap pengaruh negatif radiasi ultraviolet (UV) matahari dapat dicapai melalui aplikasi functional apparel anti UV berbasis kain sintetik poliester. Dalam kegiatan penelitian ini telah dilakukan penyempurnaan kain poliester menggunakan suspensi seng oksida (ZnO) dengan metode impregnasi (padding) untuk memperoleh sifat anti-ultraviolet. Studi ini bertujuan untuk mengembangkan suspensi ZnO dan metode immobilisasinya pada kain poliester untuk memperoleh performa proteksi UV dan ketahanan yang optimum. Metodologi penelitian meliputi optimasi konsentrasi zat pendispersi polietilen glikol (PEG), ZnO dan binder poliakrilat dalam suspensi yang digunakan dalam proses penyempurnaan kain menggunakan proses pad-dry-cure. Evaluasi dilakukan terhadap diameter partikel ZnO dalam suspensi, pengaruh konsentrasi ZnO dan binder pada morfologi kain dan performa anti-UV kain serta ketahanannya. Preparasi suspensi menunjukkan penambahan PEG 0,1% signifikan menghindari aglomerasi partikel ZnO, sehingga memungkinkan immobilisasi ZnO hingga konsentrasi 4,0% tanpa memberi efek perubahan warna pada kain. Penyempurnaan kain poliester menggunakan suspensi ZnO 4,0% dengan konsentrasi binder 5,0% dan dapat meningkatkan nilai ultraviolet protection factor (UPF) hingga 51,6% dengan tingkat ketahanan (durability) hingga 10 kali pencucian pada konsentrasi ZnO 1,0%.&#xD;
Kata kunci: kain fungsional, poliester, seng oksida, ultraviolet, impregnasi.</description>
    <dc:date>2019-12-28T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4228">
    <title>APLIKASI EKSTRAK BIJI PINANG (Areca Catechu L) SEBAGAI ZAT ANTIBAKTERI PADA KAIN KAPAS</title>
    <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4228</link>
    <description>Title: APLIKASI EKSTRAK BIJI PINANG (Areca Catechu L) SEBAGAI ZAT ANTIBAKTERI PADA KAIN KAPAS
Authors: Gustiani, Srie; Septiani, Wulan; Kasipah, Cica
Abstract: ABSTRAK&#xD;
Kepedulian masyarakat mengenai kesehatan semakin berkembang, dibuktikan dengan banyaknya penelitian mengenai antibakteri khususnya pada material tekstil. Penambahan finishing agent antibakteri pada kain kapas akan mencegah tumbuhnya bakteri yang akan menimbulkan bau, gatal, dll pada kulit yang bersentuhan langsung dengan kain. Pada penelitian ini dilakukan penambahan zat aktif antibakteri dari ekstrak biji pinang pada kain kapas. Kain kapas antibakteri ini dibuat dari kain kapas yang dilapisi larutan ekstrak biji pinang (variasi konsentrasi 1 g/l, 5 g/l dan 10 g/l) dan binding agent (variasi jenis agent polivinil alkohol, poliuretan dan binder 722). Proses pelapisan dilakukan menggunakan metoda rendam peras-pemanasawetan (pad-dry-cure) dan hasil proses dibandingkan dengan kain kapas blanko. Karakterisasi pada kain hasil proses meliputi pengamatan morfologi (SEM), analisa gugus fungsi (FTIR) dan uji aktivitas antibakteri. Hasil penelitian menunjukan bahwa pinang dapat digunakan sebagai antibakteri pada kain kapas, berdasarkan hasil uji antibakteri. Binder 722 merupakan crosslinking agent yang paling baik untuk mengikat pinang pada kain, hal ini dapat dilihat dari efektivitas dan durabilitasnya dalam mencegah pertumbuhan bakteri. Setelah 9 kali pencucian rumah tangga, efisiensi pencegahan pertumbuhan bakteri E. coli hanya menurun dari 99,5% menjadi 97,4% dan S. aureus menurun dari 95,1% menjadi 92,2%. Dari hasil SEM kain tanpa pinang terlihat tidak ada partikel yang menempel. Semakin besar konsentrasi ekstrak pinang, maka makin banyak pinang yang menempel pada kain. Dari hasil uji FTIR dapat dilihat adanya puncak serapan pada pangan gelombang 1579 dan 1502 cm-1, yang menunjukkan adanya pinang yang menempel pada kain yang telah diproses.&#xD;
Kata Kunci: Tekstil, antibakteri, kain kapas, pinang</description>
    <dc:date>2019-12-31T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4227">
    <title>PENYEMPURNAAN TAHAN API DAN ANTIBAKTERI PADA KAIN KAPAS DENGAN N-METILOL DIMETILFOSFONOPROPIONAMIDA (PYROVATEX CP NEW) DAN KITOSAN MENGGUNAKAN PLASMA LUCUTAN KORONA</title>
    <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4227</link>
    <description>Title: PENYEMPURNAAN TAHAN API DAN ANTIBAKTERI PADA KAIN KAPAS DENGAN N-METILOL DIMETILFOSFONOPROPIONAMIDA (PYROVATEX CP NEW) DAN KITOSAN MENGGUNAKAN PLASMA LUCUTAN KORONA
Authors: Widodo, Mohamad; Nuhiyah, Siti; Umam, Khairul; Muhlisin, Zaenul; Nur, Muhammad
Abstract: ABSTRAK&#xD;
Plasma lucutan korona dengan konfigurasi elektroda multi titik-bidang telah digunakan pada studi ini untuk proses penyempurnaan tahan api dan antibakteri pada kain kapas menggunakan N-metilol dimetilfosfonopropionamida (MDFPA, Pyrovatex CP New) dan kitosan. Kain kapas diberi perlakuan dengan campuran Pyrovatex CP New 400 g/L, asam fosfor 80% 20 g/L, dan kitosan 10 g/L menggunakan metode benam peras-plasma, plasma-benam peras dan plasma-perendaman dengan variasi waktu pajanan plasma 5 – 30 menit. Ketiga metode tersebut menghasilkan kain kapas yang tidak meneruskan pembakaran dengan panjang arang bervariasi antara 9,5 – 12,2 cm tergantung waktu pemajanan. Sebagai perbandingan, kain kapas yang tidak diberi perlakuan memiliki waktu nyala dan bara masing-masing 7 dan 20 detik serta panjang arang 30 cm, sedangkan cara benam peras-pemanaswetan menghasilkan kain yang juga tidak meneruskan pembakaran tapi dengan panjang arang 16 cm. Hingga batas tertentu, arang yang tersisa semakin pendek dengan semakin lamanya waktu pajanan plasma karena waktu pemajanan yang terlalu lama justru menambah panjang arang. Cara plasma-perendaman menghasilkan aktifitas antibakteri yang relatif lebih tinggi dengan diameter daya hambat sebesar 14 mm daripada plasma-benam peras dan benam peras-plasma yang hanya menghasilkan daya hambat sebesar 13 mm. Meskipun belum maksimum, perlakuan kain kapas dengan Pyrovatex CP New dan kitosan menggunakan plasma lucutan korona telah memberikan sifat tahan api dan antibakteri yang cukup signifikan dan menjanjikan.&#xD;
Kata kunci: plasma lucutan korona, tahan api, antibakteri, N-metilol dimetilfosfonopropionamida, kitosan</description>
    <dc:date>2019-12-28T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
</rdf:RDF>

