<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rdf:RDF xmlns:rdf="http://www.w3.org/1999/02/22-rdf-syntax-ns#" xmlns="http://purl.org/rss/1.0/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <channel rdf:about="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3869">
    <title>DSpace Collection:</title>
    <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3869</link>
    <description />
    <items>
      <rdf:Seq>
        <rdf:li rdf:resource="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3953" />
        <rdf:li rdf:resource="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3952" />
        <rdf:li rdf:resource="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3951" />
        <rdf:li rdf:resource="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3950" />
      </rdf:Seq>
    </items>
    <dc:date>2026-04-09T06:03:11Z</dc:date>
  </channel>
  <item rdf:about="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3953">
    <title>Household Factors Associated with Underweight in Children 24-59 Month in Urban and Rural in Indonesia</title>
    <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3953</link>
    <description>Title: Household Factors Associated with Underweight in Children 24-59 Month in Urban and Rural in Indonesia
Authors: Yunitasari, Andini Retno; Sartika, Ratu Ayu Dewi; Setiarini, Asih; Ruswandi, Raden Bagus Irwan
Abstract: The underweight still remains a public health problem for toddlers in Indonesia. The purpose of the study to identify the factors related to the underweight incident for toddlers at 24-59 months in urban and rural areas of Indonesia. This research used cross-sectional study design. This study used secondary data on the Total Diet Study-Individual Food Consumption Survey of 2014. The sample size in this study was 5165 toddlers from 24-59 months and distinguished by urban and rural areas. Bivariate Analysis used chi square. This study estimates that 20.3% of children aged 24-59 months were underweight with a greater proportion in rural areas 22.5%. Significant factors related to the underweight incidence in the urban and rural areas were the father's education level (urban; p = 0.02 and rural; p = 0.005) and mother’s education level (urban; p = 0.001 and rural; p = 0.005), number of household members (urban; p = 0.03 and rural; p = 0.012), and energy adequacy level (urban; p = 0.012 and rural; p = 0.005). The factor that was estimated to be significantly related to the underweight incidence just in rural areas as children’s age (p = 0.012), the total number of children in one house (p = 0.047). Multisectoral collaboration is needed to reduce nutritional problems, especially in rural areas. The efforts to improve community nutrition by improving the socio-economic condition of the community should be based on regional capabilities and local wisdom in the region.</description>
    <dc:date>2020-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3952">
    <title>Akses Sanitasi, Merokok dan Annual Parasite Incidence Malaria sebagai Prediktor Stunting Baduta di Indonesia</title>
    <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3952</link>
    <description>Title: Akses Sanitasi, Merokok dan Annual Parasite Incidence Malaria sebagai Prediktor Stunting Baduta di Indonesia
Authors: Wardani, Zenderi; Sukandar, Dadang; Baliwati, Yayuk F.; Riyadi, Hadi
Abstract: Proporsi stunting baduta berada diatas 20%, mengindikasikan bahwa masih terjadinya masalah gizi kronis dan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Dampak stunting bukan saja berpengaruh terhadap perawakan dengan segala konsekuensi gangguan tumbuh kembang, akan tetapi berpengaruh terhadap produktifitas ekonomi suatu negara. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model prediksi responsif stunting pada baduta di Indonesia. Desain pengembangan model menggunakan formulasi matematis menggunakan data aggregate dari metadata indikator TPB/SDGs dan indikator harga pangan (beras dan telur). Data deret waktu dipilih sebanyak 16 variabel dari 34 provinsi di Indonesia dalam rentang waktu 4 tahun (2015–2018). Analisis data menggunakan metode regresi backward dengan perangkat lunak IBM SPSS Statistics version 22. Hasil penelitian menunjukkan rumah tangga yang memiliki akses terhadap layanan sanitasi layak (X9), kebiasaan merokok penduduk umur ≥15 tahun (X14) dan Annual Parasite Incidence (API) malaria per 1000 penduduk (X12) merupakan prediktor yang responsif terhadap stunting baduta di Indonesia. Model prediksi dinyatakan dengan persamaan dengan nilai R2 sebesar 49,9% dan nilai Radj sebesar 44,9%, yang berarti akses sanitasi, merokok dan API malaria cukup baik digunakan untuk menduga prevalensi stunting baduta di Indonesia. Penelitian ini merekomendasikan pemenuhan akses fasilitas sanitasi rumah tangga, terutama pada wilayah endemis malaria dan rumah tangga memiliki anggota keluarga perokok.</description>
    <dc:date>2020-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3951">
    <title>Karakterisasi DNA Mikrobiota Usus Bayi pada Persalinan Normal yang diberi ASI dan Susu Formula</title>
    <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3951</link>
    <description>Title: Karakterisasi DNA Mikrobiota Usus Bayi pada Persalinan Normal yang diberi ASI dan Susu Formula
Authors: Kamaruddin, Mudyawati; Triananinsi, Nurhidayat; Sampara, Nurqalbi; Sumarni; Minarti; RA, A. Maya
Abstract: Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber nutrisi paling baik karena mengandung berbagai senyawa sehat dan dapat menjaga serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh bayi. Terkait peran dan fungsi ASI pada sistem imun, beberapa penelitian tentang mikrobiota usus juga membuktikan peran pentingnya dalam perkembangan sistem imun tersebut. Penelitian ini bertujuan mengkarakterisasi DNA mikrobiota usus bayi yang dilahirkan dengan persalinan normal yang diberi ASI dan Susu Formula (Sufor). Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan teknik purposive sampling. Sampel yang digunakan adalah bayi yang dilahirkan dengan persalinan normal sebanyak 30 orang yang masing-masing dibagi menjadi kelompok bayi yang diberi ASI (15 orang) dan bayi yang diberi ASI+susu formula (15 orang). Sampel feses diambil dengan teknik penyekaan, DNA diekstraksi menggunakan kit DNA yang diamplifikasi pada primer 16S rRNA pada PCR dilanjutkan dengan sekuensing. Data sekuensing dianalisis dengan MEGA5dan BLAST yang diproses melalui link NCBI. Hasil penelitian kelompok bayi yang diberi ASI+susu formula menunjukan mikrobiota ususnya lebih bervariasi dibandingkan dengan mikrobiota pada kelompok bayi yang hanya diberi ASI. Kesimpulan penelitian ini adalah mikrobiota usus yang mendominasi usus bayi yang diberikan ASI dapat menjadi probiotik dalam pertumbuhan bayi dan perkembangan sistem imunnya.</description>
    <dc:date>2020-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
  <item rdf:about="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3950">
    <title>Prevalensi dan Faktor yang Berhubungan dengan Terjadinya Beban Gizi Ganda pada Keluarga di Indonesia</title>
    <link>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3950</link>
    <description>Title: Prevalensi dan Faktor yang Berhubungan dengan Terjadinya Beban Gizi Ganda pada Keluarga di Indonesia
Authors: Astuti, Nur Fitri Widya; Huriyati, Emy; Susetyowati
Abstract: Perkembangan urbanisasi dan ekonomi pada negara berkembang menyebabkan terjadinya nutrition transition. Hal ini mengakibatkan munculnya fenomena beban gizi ganda pada keluarga dimana terdapat anggota rumah tangga yang memiliki status gizi kurang dan lebih tinggal dalam satu keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan faktor-faktor yang berhubungan dengan fenomena beban gizi ganda pada keluarga di Indonesia. Penelitian cross-sectional ini menggunakan data Indonesian Family Life Survey (IFLS) tahun 2014 dengan jumlah sampel sebesar 6468 keluarga. Indikator beban gizi ganda keluarga ditunjukkan dengan adanya status gizi lebih dan kurang tinggal dalam satu keluarga yang diwakili oleh ibu dan anak. Analisis statistik dengan metode chi-square digunakan untuk menguji variabel yang memiliki hubungan dengan terjadinya beban gizi ganda keluarga. Hasil menunjukkan prevalensi beban gizi ganda keluarga di Indonesia adalah 8,27% dan persentase tertinggi terdapat pada regional Kalimantan dan Indonesia Timur. Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian beban gizi ganda secara signififikan (p&lt;0,05) pada keluarga di Indonesia adalah usia ibu (p = 0,001), pendidikan ibu (p = 0,022), jumlah anak (p = 0,001) dan jumlah anggota rumah tangga (p = 0,001). Penelitian lanjutan dengan metode longitudinal diperlukan untuk mengetahui prediktor beban gizi ganda pada keluarga di Indonesia sehingga dapat dirumuskan intervensi yang tepat untuk pencegahan masalah tersebut.</description>
    <dc:date>2020-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </item>
</rdf:RDF>

