<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <title>DSpace Collection:</title>
  <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/8217" />
  <subtitle />
  <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/8217</id>
  <updated>2026-04-09T08:17:19Z</updated>
  <dc:date>2026-04-09T08:17:19Z</dc:date>
  <entry>
    <title>Analisis Efektifitas Biaya Terapi Pengobatan Pasien Diabetes Mellitus  Tipe 2 terhadap Kontrol Glukosa Darah</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/8268" />
    <author>
      <name>Ulfa, Ninik Mas</name>
    </author>
    <author>
      <name>Fandinata, Selly Septi</name>
    </author>
    <author>
      <name>Puspitasari, Indra</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/8268</id>
    <updated>2024-11-20T07:59:49Z</updated>
    <published>2023-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Analisis Efektifitas Biaya Terapi Pengobatan Pasien Diabetes Mellitus  Tipe 2 terhadap Kontrol Glukosa Darah
Authors: Ulfa, Ninik Mas; Fandinata, Selly Septi; Puspitasari, Indra
Abstract: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kronis dengan kadar glukosa darah melebihi normal. Lamanya terapi menyebabkan besarnya biaya pengobatan yang dikeluarkan. Hal ini dikarenakan pasien harus mengkonsumsi obat seumur hidup. Beban pembiayaan pada pasien DM di Indonesia yang ditanggung oleh BPJS di tahun 2021 diperkirakan sekitar Rp. 6 triliyun. Hal ini memerlukan analisis biaya obat yang dihubungkan dengan outcome terapi agar diperoleh pemilihan obat yang efektif dengan biaya minimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis Average Cost Effectiveness Ratio (ACER) terapi pasien DM Tipe 2 di salah satu Rumah Sakit wilayah Surabaya Selatan. Penelitian ini merupakan penelitian diskriptif dengan pengamatan retrospektif. Sampel yang digunakan adalah dokumen rekam medis pasien DM tipe 2 dengan atau tanpa penyakit penyerta dari poli interna rawat jalan periode April – Desember 2021. Analisis ACER menggunakan data laboratorium GDP pre-post dan GD2PP pre-post serta harga obat oral antidiabetes, insulin dan obat penyertan. Hasil penelitian diperoleh 30 pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Pasien mendapatkan terapi tunggal Sulfonilurea sebanyak 4 pasien dan 26 pasien mendapatkan terapi kombinasi oral antidiabetes dengan insulin. Berdasarkan analisis cost effectiveness diperoleh bahwa penggunaan penggunaan 3 kombinasi obat oral antidiabetes (golongan Sulfonilurea, Thiazolidinedion dan Biguanid) memberikan nilai ACER yang paling rendah Rp. 6668,4 dengan efektivitas 100% dalam menurunkan kadar glukosa darah dibandingkan pemberian tunggal maupun kombinasi lainnya. Meskipun demikian pemberian kombinasi oral antidiabetes dengan insulin juga memberikan hasil efektivitas yang baik (100%) tetapi dengan biaya ACER yang tinggi.</summary>
    <dc:date>2023-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Evaluasi Penggunaan Ramipril dan Candesartan pada Pasien Rawat Inap COVID-19 dengan Komorbid Hipertensi di RSUD Dr. Moewardi</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/8267" />
    <author>
      <name>Azizah, Deva Yolanda Dwi Nur</name>
    </author>
    <author>
      <name>Wijayanti, Tri</name>
    </author>
    <author>
      <name>Cahyo, Lukito Mindi</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/8267</id>
    <updated>2024-11-20T07:55:07Z</updated>
    <published>2023-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Evaluasi Penggunaan Ramipril dan Candesartan pada Pasien Rawat Inap COVID-19 dengan Komorbid Hipertensi di RSUD Dr. Moewardi
Authors: Azizah, Deva Yolanda Dwi Nur; Wijayanti, Tri; Cahyo, Lukito Mindi
Abstract: Hipertensi adalah komorbid yang paling sering ditemui pada pasien terinfeksi COVID-19. Obat yang sering diberikan untuk terapi hipertensi yaitu ramipril dan candesartan diduga dapat meningkatkan perkembangan COVID-19 karena golongan angiotensin converting enzyme inhibitors (ACEI) dan angiotensin receptor blockers (ARB) meningkatkan ekspresi ACE-2 yang merupakan binding site SARS-CoV-2. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efek penggunaan ramipril dan candesartan terhadap kesembuhan pada pasien rawat inap penderita COVID-19 dengan hipertensi di RSUD dr. Moewardi tahun 2020. Penelitian ini dilakukan secara retrospektif hasil disajikan secara deskriptif, dan menggunakan data rekam medik pasien rawat inap penderita COVID-19 dengan komorbid hipertensi di RSUD dr. Moewardi tahun 2020. Efek penggunaan ramipril dan candesartan terhadap kesembuhan pasien ditinjau dari length of stay (LOS), sembuhnya gejala, dan hasil tes RT-PCR. Analisis data penelitian ini menggunakan SPSS dengan uji korelasi spearman. Uji korelasi spearman menunjukkan ada hubungan yang cukup kuat antara penggunaan ramipril dan candesartan pada pasien penderita COVID-19 dengan komorbid hipertensi terhadap LOS, sembuhnya gejala, dan hasil tes RT-PCR. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan ramipril dan candesartan dapat meningkatkan kesembuhan pasien penderita COVID-19 dengan komorbid hipertensi. Penggunaan obat golongan ACEI dan ARB belum terbukti memperburuk kondisi pasien sehingga penggunaannya dapat dilanjutkan.</summary>
    <dc:date>2023-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pengaruh Pemberian Kombinasi Ekstrak Etanol Piper crocatum dan Ekstrak Akuades Elaeocarpus ganitrus pada Kadar Gula Tikus</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/8266" />
    <author>
      <name>Lestari, Apriani</name>
    </author>
    <author>
      <name>Kiromah, Naelaz Zukruf Wakhidatul</name>
    </author>
    <author>
      <name>Fitriyati, Laeli</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/8266</id>
    <updated>2024-11-20T07:54:34Z</updated>
    <published>2023-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Pengaruh Pemberian Kombinasi Ekstrak Etanol Piper crocatum dan Ekstrak Akuades Elaeocarpus ganitrus pada Kadar Gula Tikus
Authors: Lestari, Apriani; Kiromah, Naelaz Zukruf Wakhidatul; Fitriyati, Laeli
Abstract: Diabetes melitus merupakan penyakit yang ditandai dengan hiperglikemik. Penelitian antidiabetes menggunakan bahan alam telah banyak dilakukan salah satunya dengan memanfaatkan dauh sirih merah dan daun ganitri. Kombinasi dua tanaman perlu dilakukan untuk meningkatkan efek antihiperglikemik dan dapat menurunkan efek toksik dari keduanya. Tujuan penelitian ini untuk mendapatkan variasi dosis yang paling efektif pada kombinasi tanaman yang lebih aman dan efek lebih baik sehingga dapat dijadikan alternatif pengobatan. Metode penelitian pengukuran kadar gula darah dilakukan secara in vivo terhadap tikus putih galur wistar yang diinduksi menggunakan streptozotosin dan diukur dengan glukometer. Hasil penelitian menunjukan bahwa ekstrak tunggal daun sirih merah 100 mg/kg BB dan ekstrak tunggal daun ganitri 100 mg/kg BB mempunyai prosentase penurunan kadar gula darah sebesar 27% dan 10%. Sedangkan kombinasi ekstrak dengan rasio 100:100, 50:50, 100:50, dan 50:100 mg/kg BB mempunyai prosentase penurunan kadar gula darah berturut-turut yaitu 50%, 42%, 33%, dan 19% setelah 21 hari pengamatan. Hasil penelitian juga memperlihatkan bahwa kontrol positif glimepirid 0,036 mg mempunyai penurunan kadar gula 36%. Analisis statistik membuktikan bahwa efek penurunan kadar gula darah pada hari ke-0 hingga ke-21 terdapat perbedaan tiap kelompok perlakuan dengan p&lt;0,05. Kesimpulan dari penelitian bahwa kombinasi ekstrak daun sirih merah dan daun ganitri lebih efektif dibandingkan dengan ekstrak tunggal masing-masing tanaman terhadap kadar gula darah tikus putih jantan galur wistar. Prosentase penurunan kadar gula darah kombinasi ekstrak dengan rasio dosis 50:50 mg/kg BB dan 100:100 mg/kg BB menghasilkan aktivitas antidiabetes lebih baik daripada kontrol positif glimepirid. Rasio kombinasi ekstrak 100:100 mg/kg BB mempunyai aktivitas antidiabetes paling baik dibandingkan dengan kelompok perlakuan ekstrak yang lain.</summary>
    <dc:date>2023-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Efek Ekstrak Etanol Daun Kelor terhadap Kadar Kreatinin Serum  dan Superoksida Dismutase Tikus Model 5/6 Subtotal Nefrektomi</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/8265" />
    <author>
      <name>Kuncorojati, Raden Alif</name>
    </author>
    <author>
      <name>Afifaningrum, Haniy Thri</name>
    </author>
    <author>
      <name>Swastika, Anis</name>
    </author>
    <author>
      <name>Swastika, Anis</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/8265</id>
    <updated>2024-11-20T07:50:16Z</updated>
    <published>2023-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Efek Ekstrak Etanol Daun Kelor terhadap Kadar Kreatinin Serum  dan Superoksida Dismutase Tikus Model 5/6 Subtotal Nefrektomi
Authors: Kuncorojati, Raden Alif; Afifaningrum, Haniy Thri; Swastika, Anis; Swastika, Anis
Abstract: Penyakit Ginjal Kronik (PGK) masih menjadi masalah utama dalam bidang kesehatan di dunia, termasuk Indonesia. Salah satu patomekanisme utama pada PGK adalah stres oksidatif. Superoksida dismutase (SOD) merupakan enzim yang berperan melawan stres oksidatif. Stres oksidatif dapat diatasi dengan antioksidan baik dari dalam tubuh maupun dari luar yang didapatkan dari bahan alam. Daun kelor (Moringa oleifera L.) berpotensi mencegah progresivitas PGK karena kandungan flavonoidnya yang mempunyai efek sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh ekstrak etanol daun kelor (EEDK) terhadap kadar kreatinin serum dan SOD pada tikus model 5/6 subtotal nefrektomi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan post-test only with control group design. Sebanyak 30 ekor tikus putih jantan secara acak dibagi menjadi 5 kelompok. Kelompok A: kontrol sham, B: subtotal nefrektomi, C, D, dan E: kelompok perlakuan dengan EEDK masing-masing 200, 400, 800 mg/kgBB. Hari ke-15 setelah pemberian ekstrak atau aquades dilakukan operasi sham pada kelompok A, dan 5/6 subtotal nefrektomi pada kelompok B, C, D, dan E dilanjutkan pemberian ekstrak dan aquades sampai hari ke-21. Sampel darah diambil pada hari ke-22 setelah operasi, diperiksa kadar kreatinin serum dan SOD. Data dianalisis menggunakan one-way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna rerata kadar kreatinin serum (p&lt;0,001) dan SOD (p&lt;0,001) antar kelompok. Kelompok perlakuan menunjukan tingkat kreatinin serum yang lebih rendah dan SOD yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok subtotal nefrektomi. Pemberian EEDK selama 35 hari dapat mencegah peningkatan kadar kreatinin serum dan penurunan kadar SOD pada tikus model 5/6 subtotal nefrektomi.</summary>
    <dc:date>2023-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
</feed>

