<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <title>DSpace Collection:</title>
  <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/8034" />
  <subtitle />
  <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/8034</id>
  <updated>2026-04-09T08:14:16Z</updated>
  <dc:date>2026-04-09T08:14:16Z</dc:date>
  <entry>
    <title>Pola Peresepan Anak dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)  Non Pneumonia di Klinik</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/8070" />
    <author>
      <name>Handayani, Rini Sasanti</name>
    </author>
    <author>
      <name>Sari, Ida Diana</name>
    </author>
    <author>
      <name>Prihartini, Nita</name>
    </author>
    <author>
      <name>Yuniar, Yuyun</name>
    </author>
    <author>
      <name>Gitawati, Retno</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/8070</id>
    <updated>2024-11-19T03:49:43Z</updated>
    <published>2021-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Pola Peresepan Anak dengan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)  Non Pneumonia di Klinik
Authors: Handayani, Rini Sasanti; Sari, Ida Diana; Prihartini, Nita; Yuniar, Yuyun; Gitawati, Retno
Abstract: Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan penyakit yang banyak diderita masyarakat. Menurut Riskesdas 2018, prevalensi ISPA 4,4%, tertinggi pada usia 1-4 tahun sebesar 8,0%. Sistem pembayaran kapitasi untuk klinik yang bekerja sama dengan BPJS membuat dokter menuliskan resep seefisien dan seefektif mungkin. Selain itu ada anggapan bahwa besaran kapitasi yang diterima klinik dianggap terlalu rendah sehingga dikhawatirkan pengelola klinik akan melakukan pembatasan peresepan yang dapat menyebabkan ketidakrasionalan. Penelitian ini merupakan analisis lanjut tentang pola peresepan dan rasionalitas peresepan anak dengan ISPA di klinik dikaitkan jenis pembiayaannya. Penelitian didesain secara potong lintang dengan data dikumpulkan secara retrospektif. Sumber data berasal dari 409 rekam medik dan atau resep pasien umur pasien 1-12 tahun dengan diagnosis ISPA non pneumonia pada periode waktu 1 Januari sampai dengan 30 November 2019. Hasil analisis menunjukkan bahwa pasien ISPA lebih banyak pada anak umur 1–5 tahun (56,0%) dan pada anak laki laki (54,3%). Rerata jumlah obat pada pasien BPJS 3,45 item, persentase peresepan obat generik mencapai 2 kali lipat (63,94%), persentase obat esensial 63,96%, dan persentase penggunaan antibiotik lebih rendah (48,50%). Kesesuaian dosis pada pasien BPJS sebesar 70,80% sedikit lebih tinggi daripada pasien non BPJS. Secara umum indikator peresepan dan kesesuaian dosis pada pasien BPJS lebih baik daripada pasien non BPJS.</summary>
    <dc:date>2021-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Profil Distribusi Apotek di Kabupaten Banyumas berdasarkan Sistem Informasi Geografi dan Korelasinya dengan Jumlah Kunjungan dan Resep Tahun 2019</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/8069" />
    <author>
      <name>Manan, Abdul</name>
    </author>
    <author>
      <name>Utami, Pri Iswati</name>
    </author>
    <author>
      <name>Siswanto, Agus</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/8069</id>
    <updated>2024-11-19T03:51:11Z</updated>
    <published>2021-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Profil Distribusi Apotek di Kabupaten Banyumas berdasarkan Sistem Informasi Geografi dan Korelasinya dengan Jumlah Kunjungan dan Resep Tahun 2019
Authors: Manan, Abdul; Utami, Pri Iswati; Siswanto, Agus
Abstract: Distribusi apotek masih menjadi masalah di Indonesia. Apotek terpusat di sekitar unit layanan kesehatan seperti rumah sakit, sektor jasa, perdagangan, transportasi, dan ruas jalan utama. Jarak apotek yang terlalu dekat ataupun terlalu jauh dapat berdampak pada pelayanan kefarmasian. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui profil distribusi apotek hasil analisis Sistem Informasi Geografi (SIG), hubungan antara profil distribusi apotek dengan jumlah kunjungan konsumen dan resep. Penelitian dilakukan di 27 kecamatan di Kabupaten Banyumas-Jawa Tengah, menggunakan software Arc Gis 3.10.2 untuk pemetaan apotek. Data profil apotek, angka kunjungan konsumen, dan jumlah resep di setiap apotek diperoleh melalui penyebaran kuesioner penelitian kepada Apoteker Penanggung Jawab Apotek. Hasil penelitian menunjukkan persebaran apotek di Kabupaten Banyumas dari visualisasi SIG di wilayah perkotaan adalah 55% dengan rerata radius jarak antar apotek 2,34 km. Distribusi apotek di 27 Kecamatan yang diteliti menunjukkan bahwa apotek di tiga (3) kecamatan (11,1%) berpola mengelompok, sementara apotek di 24 kecamatan lainnya (88,9%) berpola menyebar. Disimpulkan bahwa persebaran apotek di Kabupaten Banyumas berdasarkan visualisasi SIG masih dominan di wilayah perkotaan dan khususnya di Kecamatan sekitar ibu kota Kabupaten Banyumas yaitu Purwokerto. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat hubungan antara rerata jarak antar apotek dan jumlah unit layanan kesehatan dengan jumlah kunjungan konsumen. Selain itu, terdapat hubungan antara rasio jumlah penduduk:jumlah apotek, kepadatan penduduk, dan jumlah sarana layanan kesehatan dengan jumlah resep</summary>
    <dc:date>2021-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Penentuan Aktivitas Antioksidan dan Antidiabetes Ekstrak Daun Matoa (Pometia pinnata J.R. Forst. &amp; G. Forst.) secara In Vitro</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/8066" />
    <author>
      <name>Wulandari, Lestyo</name>
    </author>
    <author>
      <name>Nugraha, Ari Satia</name>
    </author>
    <author>
      <name>Himmah, Ulfa Aliyatul</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/8066</id>
    <updated>2024-11-19T03:48:58Z</updated>
    <published>2021-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Penentuan Aktivitas Antioksidan dan Antidiabetes Ekstrak Daun Matoa (Pometia pinnata J.R. Forst. &amp; G. Forst.) secara In Vitro
Authors: Wulandari, Lestyo; Nugraha, Ari Satia; Himmah, Ulfa Aliyatul
Abstract: Matoa (Pometia pinnata J.R. Forst. &amp; G. Forst.) merupakan salah satu tanaman yang digunakan sebagai obat tradisional pada penyakit diabetes melitus akibat terjadinya ketidakseimbangan antara jumlah Reactive Oxygen Species (ROS) dan antioksidan di dalam tubuh. Oleh karena itu dilakukan penelitian secara in vitro  untuk mengetahui aktivitas antioksidan dan antidiabetes pada ekstrak daun matoa. Ekstraksi daun matoa dilakukan menggunakan metode ultrasonikasi selama 30 menit dengan pelarut metanol, etanol, dan etil asetat. Aktivitas antioksidan diamati melalui hambatan radikal bebas DPPH, sedangkan potensi antidiabetes diukur melalui penghambatan kerja enzim α-amilase. Hasil uji fitokimia menunjukkan adanya metabolit sekunder berupa flavonoid, polifenol, tanin, alkaloid dan terpenoid. Hasil penelitian ekstrak metanol, etanol, dan etil asetat daun matoa menunjukkan adanya aktivitas antioksidan yang tinggi dengan nilai IC50 berturut-turut sebesar 6,416±0,176 ppm, 8,622±0,066 ppm, dan 170,637±4,441 ppm, namun masih kurang potensial dibandingkan vitamin C sebagai pembanding yaitu sebesar 1,646 ± 0,015 ppm. Penghambatan enzim αamilase menunjukkan nilai IC50 sebesar 91,037±0,750 ppm, 105,166±2,423  ppm, dan 785,436±11,740 ppm pada masing-masing ekstrak metanol, etanol, dan etil asetat, sedangkan nilai IC50 akarbosa sebagai pembanding adalah sebesar 23,479±0,347 ppm. Analisis data statistika korelasi pearson menunjukkan adanya korelasi atau hubungan yang positif antara aktivitas antioksidan dan antidiabetes ekstrak daun matoa yang dilihat dari nilai R yaitu sebesar 0,998. Semakin tinggi aktivitas antioksidan, maka potensi hambatan terhadap enzim α-amilase juga semakin tinggi</summary>
    <dc:date>2021-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Formulasi dan Uji Aktivitas Antibakteri Sediaan Emulgel Minyak  Biji Jintan Hitam (Nigella sativa L.) terhadap Bakteri  Staphylococcus epidermidis</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/8055" />
    <author>
      <name>Agistia, Nesa</name>
    </author>
    <author>
      <name>Oktaviani, Melzi</name>
    </author>
    <author>
      <name>Mukhtadi, Wildan Khairi</name>
    </author>
    <author>
      <name>Ariska, Della</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/8055</id>
    <updated>2024-11-19T03:24:05Z</updated>
    <published>2021-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Formulasi dan Uji Aktivitas Antibakteri Sediaan Emulgel Minyak  Biji Jintan Hitam (Nigella sativa L.) terhadap Bakteri  Staphylococcus epidermidis
Authors: Agistia, Nesa; Oktaviani, Melzi; Mukhtadi, Wildan Khairi; Ariska, Della
Abstract: Jerawat merupakan masalah kulit yang sering terjadi, salah satu penyebabnya adalah bakteri Staphylococcus epidermidis. Minyak biji jintan hitam (Nigella sativa L.) dapat dimanfaatkan sebagai antibakteri karena mengandung thymoquinone dan α-pinen. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh sediaan emulgel minyak biji jintan hitam yang memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus epidermidis. Sediaan dibuat dengan  konsentrasi 3% (FI), 5% (FII), dan 7% (FIII). Evaluasi sediaan dilakukan selama delapan minggu meliputi uji organoleptis, daya sebar, tipe emulsi, pH, viskositas, homogenitas. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan dengan metode difusi sumuran. Hasil evaluasi ketiga formula menunjukkan konsistensi semi padat, berwarna coklat muda, berbau khas minyak biji jintan hitam, stabil, tipe emulsi M/A, homogen, tidak mengiritasi, pH FI = 4,51-4,95, FII = 4,72-4,99, FIII = 4,57-4,87, daya sebar FI = 3,2-3,8 cm, FII = 3,3-3,9 cm, FIII = 3,4-3,9 cm, viskositas FI = 10,7-26,1 Ns/m2, FII = 11,232,0 Ns/m2, FIII = 11,5-34,1 Ns/m2. Uji aktivitas antibakteri menunjukkan daya hambat FI 11,66±0,09 mm, FII 14,48±0,03 mm, FIII 17,35±0,08 mm, lebih rendah dibandingkan dengan kontrol positif (klindamisin). Ketiga sediaan emulgel minyak biji jintan hitam yang diperoleh memenuhi persyaratan secara fisik dan memiliki daya hambat bakteri (p&lt;0,05) dimana daya hambat paling besar ditunjukkan oleh formula FIII dengan kategori daya hambat sedang.</summary>
    <dc:date>2021-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
</feed>

