<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <title>DSpace Collection:</title>
  <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6802" />
  <subtitle />
  <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6802</id>
  <updated>2026-04-22T22:08:53Z</updated>
  <dc:date>2026-04-22T22:08:53Z</dc:date>
  <entry>
    <title>Keamanan Penggunaan Antikoagulan Pada Pasien Rawat Inap Stroke Iskemik Dengan Atrial Fibrilasi</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6834" />
    <author>
      <name>Mende, Juniarto</name>
    </author>
    <author>
      <name>Rahmawati, Fita</name>
    </author>
    <author>
      <name>Puspita Sari, Ika</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6834</id>
    <updated>2024-10-28T04:37:28Z</updated>
    <published>2022-09-16T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Keamanan Penggunaan Antikoagulan Pada Pasien Rawat Inap Stroke Iskemik Dengan Atrial Fibrilasi
Authors: Mende, Juniarto; Rahmawati, Fita; Puspita Sari, Ika
Abstract: ABSTRAKAtrial   fibrilasi   dapat   menyebabkan  stroke   akibat   stasis   darah  di   atrium   kiri   yang   memicu pembentukan  trombus  dan  embolisasi  ke  otak.  Pemberian  antikoagulan  digunakan  untuk  pencegahan pembentukan  gumpalan  sehingga mencegah  kejadiaan  stroke,  namun  disisi  lain  berhubungan  dengan risiko terjadinya efek samping perdarahan. Penelitian bertujuan melakukan evaluasi terhadap keamanan antikoagulan pada pasien stroke iskemik dengan atrial fibrilasi. Penelitian menggunakan rancangan cross sectional. Data retrospektif diambil dari rekam medis RSUP Dr. Sardjito, Yogyakarta periode Januari 2018 sampai  Desember  2020.  Subjek  penelitian  adalah  pasien  stroke  iskemik  dengan  atrial  fibrilasi.  Evaluasi keamanan antikoagulan meliputi angka kejadian perdarahan baik mayor maupun minor pada tiap jenis antikoagulan   serta   faktor-faktor   yang   mempengaruhi   terjadinya   perdarahan.   Sejumlah   70   pasien memenuhi  kriteria  inklusi  penelitian.  Perdarahan  terjadi  pada  41  kasus  (58,57%).  Perdarahan  mayor sejumlah  28  pasien  (40%)  dan  minor  sejumlah  13  pasien  (18,57%).  Antikoagulan  yang  paling  banyak menyebabkan perdarahan adalah warfarin. Faktor yang berpengaruh terhadap kejadian perdarahan gagal ginjal  (OR  =  5,990;  95%  Cl  2,002-17,920;  p  =  0,001).  Pemantauan efek  samping  antikoagulan  terutama warfarin  sangat  diperlukan.  Farmasis  dapat  berperan  penting  dalam  monitoring  maupun  mencegah kejadian perdarahan dengan memperhatikan faktor resiko terutama gagal ginjal. Kata Kunci:antikoagulan; atrial fibrilasi; perdarahan;stroke iskemik</summary>
    <dc:date>2022-09-16T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Cost Effectiveness Analysis(CEA) Strategi Terapi Anemia Pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6828" />
    <author>
      <name>Dian K, Nurfina</name>
    </author>
    <author>
      <name>Andayani, Tri Murti</name>
    </author>
    <author>
      <name>Endarti, Dwi</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6828</id>
    <updated>2024-10-28T04:27:05Z</updated>
    <published>2022-09-22T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Cost Effectiveness Analysis(CEA) Strategi Terapi Anemia Pada Pasien Penyakit Ginjal Kronis
Authors: Dian K, Nurfina; Andayani, Tri Murti; Endarti, Dwi
Abstract: ABSTRAKPenyakit  ginjal  kronik  (PGK)  merupakan  kondisi  dimana  ginjal tidak  mampu  mempertahankan keseimbangan  cairan  sisa  metabolisme  yang  bersifat  progresif, irreversibledan  berlangsung  secara lambat. Anemia sebagai komplikasi pada PGK berkontribusi pada morbiditas, mortalitas, kualitas hidup pasien, serta biaya perawatan yang lebih besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi perbedaan efektivitas  dan  biaya  terapi  anemia  dengan  epoetin  pada  pasien  penyakit  ginjal  kronis.  Penelitian dilakukan  secaraobservasional-analitik  dengan  desain cohortretrospektif  dari  perspektif  provider. Sampel yang digunakan yaitu pasien PGK dengan anemia yang memenuhi kriteria inklusi periode Januari -Desember 2020, data diambil dari catatan medis dan rekap keuangan pasien. Dilakukan analisis statistik pada efektivitas terapi anemia denganepoetin berdasarkan ketercapaian outcomeklinis peningkatan nilai Hb dalam waktu 3 bulan dan pembiayaan yang dihitung berdasarkan biaya medis langsung. Sebanyak 113 pasien  yang  memenuhi  kriteria  inklusi,  terdiri  atas  96  pasien  kelompok  epoetin  alfa  dan  17pasien kelompok epoetin beta. Persentase ketercapaian target terapi pada kelompok epoetin beta lebih tinggi (11,76%) dibandingkan kelompok epoetin alfa (10,42%). Rata-rata kenaikan Hb kelompok epo beta lebih tinggi dibandingkan kelompok epo alfa. Biaya epoetin pada terapi pengobatan anemia kelompok epoetin beta  (Rp 1.005.365) lebih  rendah  dibandingkan  kelompok  epoetin  alfa  (Rp 1.017.188).  Nilai  ICER  yang diperoleh  sebesar  Rp -125.966  menunjukkan  penghematan  biaya Rp 125.966  untuk  meningkatkan  1% ketercapaian target terapi nilai Hb &gt;10 g/dl.  Biaya terapi dengan epo beta lebih rendah dibandingkan epo alfa dan ketercapaian target terapi Hb lebih baik pada epo beta dibandingkan epo alfa.Kata Kunci:anemia; cost effectiveness analysis(CEA); penyakit ginjal kronik</summary>
    <dc:date>2022-09-22T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Identifikasi Potentially Inappropriate MedicationsMenggunakan  Kriteria  Beers  2019  di Rumah  Sakit Rujukan Sekunder di Jakarta</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6823" />
    <author>
      <name>Nurhasnah, Nurhasnah</name>
    </author>
    <author>
      <name>Viviandhari, Daniek</name>
    </author>
    <author>
      <name>Nur Sakinah, Riska</name>
    </author>
    <author>
      <name>Wulandari, Desi</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6823</id>
    <updated>2024-10-28T04:19:43Z</updated>
    <published>2022-08-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Identifikasi Potentially Inappropriate MedicationsMenggunakan  Kriteria  Beers  2019  di Rumah  Sakit Rujukan Sekunder di Jakarta
Authors: Nurhasnah, Nurhasnah; Viviandhari, Daniek; Nur Sakinah, Riska; Wulandari, Desi
Abstract: ABSTRAKInformasi mengenai  obat-obat  yang  masuk  kriteria Potentially  Inappropriate  Medications(PIMs) pada  pasien  lansia  rawat  inap  berdasarkan  Beers  2019  masih  terbatas  di  Indonesia.  Penelitian  ini bertujuan untuk mengidentifikasi kejadian PIMs dengan menggunakan kriteria Beers 2019 pada pasien lansia  dan  menentukan  faktor-faktor  yang  berhubungan  dengan  kejadian  PIMs.  Penelitian  ini  bersifat observasional dengan desain cross sectional.  Pengambilan data dilakukan di bagian rekam medis sebuah rumah sakit rujukan sekunder di Jakarta selama bulan Agustus dan September 2019. Data diperoleh dari rekam   medis   pasien   rawat   inap   periode Januari   2018-Desember   2018.Jumlah   sampel   dihitung menggunakan sample size calculatordan pengambilan sampel secara non-probability samplingdengan teknik purposive sampling. Kriteria inklusi adalah rekam medis pasien rawat inap dengan usia 60 tahun atau  lebih.  Kriteria  eksklusi  adalah  rekam  medis  pasien  dengan  data  tidak  lengkap. Kriteria  Beers  2019 digunakan  untuk  mengidentifikasi  PIMs.  Hasil  penelitian  menunjukkan  dari  325  rekam  medis  yang dianalisis, PIMs ditemukan pada 122 (37,5%) pasien lansia dengan jumlah kejadian PIMs sebanyak 181. Furosemid (25,4%) adalah obat yang masuk kategori PIMs terbanyak, diikuti spironolakton (18,2%) dan ranitidin (16%).  Penggunaan obat dengan jumlah 10 atau lebih p&lt;0,001, OR 4,26 95%CI (2,4-7,5) dan lama rawat  lebih  dari  lima  hari  p=0,043  OR  1,65  95%CI  (1,0-2,6)  dikaitkan  dengan  kejadian  PIMs  yang  lebih tinggi.  Namun,  usia,  jenis  kelamin  dan  jumlah  diagnosis  tidak  berhubungan  signifikan  dengan  kejadian PIMs. Tenaga kesehatan disarankan untuk melakukan pemeriksaan kreatinin serum pada semua pasien lansia rawat inap dan meminimalkan jumlah obat yang digunakan.Kata Kunci:Kriteria Beers; Lansia; PIMs</summary>
    <dc:date>2022-08-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Pemanfaatan  Sistem  Informasi  Geografis  untuk  Analisa  Pola Distribusi Apotek di Kota dan Kabupaten Malang</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6816" />
    <author>
      <name>Monica, Eva</name>
    </author>
    <author>
      <name>Rega Prilianti, Kestrilia</name>
    </author>
    <author>
      <name>Lestar, Indah</name>
    </author>
    <author>
      <name>Caesarika, Endhirayanti</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6816</id>
    <updated>2024-10-28T04:05:53Z</updated>
    <published>2022-09-21T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Pemanfaatan  Sistem  Informasi  Geografis  untuk  Analisa  Pola Distribusi Apotek di Kota dan Kabupaten Malang
Authors: Monica, Eva; Rega Prilianti, Kestrilia; Lestar, Indah; Caesarika, Endhirayanti
Abstract: ABSTRAKSarana  pelayanan  kesehatan,  khususnya  apotek  berperan  penting  untuk  memenuhi  kebutuhan masyarakat  akan  penunjang  kesehatan.  Banyaknya  jumlah  apotek  yang  ada  di  Kotadan  KabupatenMalang saat ini dinilai dapat menyebabkan tingginya kompetisi antar apotek sehingga sistem informasi geografis dipilih untuk melihat bagaimanakah persebaran apotek ditinjau berdasarkan jumlah penduduk pada  tiap  kecamatan  dan  banyaknya  fasilitas  kesehatan yang  tersebar  di  Malang.Tujuan  penelitian  ini adalah untuk mengetahui pola sebaran apotek dan rasionya terhadap jumlah kepadatan penduduk dan fasilitas kesehatan yang ada di Kota dan Kabupaten Malang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah  dengan  mengumpulkan  data  berupa  titik  koordinat  apotek  dan  fasilitas  kesehatan,  dilanjutkan dengan  proses  pengolahan  data   berupa   indeks  T  dan  menggunakan software  Arcgis  10.3untuk memvisualisasikannya  dalam  bentuk  peta. Pada  analisa  distribusi  apotek di  Kota Malang,  kelima kecamatan menunjukkan hasil seragam atau tersebar secara meratasedangkan pada Kabupaten Malang dari 33 kecamatan yang ada, hanya 17 kecamatan memiliki pola seragam. Berdasarkan rasio apotek dan jumlah  penduduk  Kecamatan  Kedungkandang dapat dikatakan  mempunyai  aksesibilitas  terbaik, yaitu1:1.010  (14:100.000),  yang   manatelah  memenuhi  persyaratan  yang  ditetapkan  oleh  Kementrian Kesehatan  dan  WHO.  Sedangkan  4  kecamatan  lainnyadi  Kota  Malang telah  memenuhi  ketentuan kebutuhan  apoteker  menurut Kementrian  Kesehatan  namun  belum  memenuhi  ketentuan  kebutuhan apoteker   menurut   WHO. Pada   Kabupaten   Malang   standar   pelayanan   apotek   ditinjau   dari   rasio ketersediaan apotek terhadap jumlah penduduk belum terpenuhi, hanya 4 Kecamatan mempunyai rasio yang  memenuhi  ketentuan  kebutuhan  Kementerian  Kesehatan  namun  belum  memenuhi  kebutuhan WHO. Hasil rasio apotek yang ditinjau berdasarkan jumlah fasilitas kesehatan menunjukkan bahwa dari 5 kecamatan  di  Kota  Malang  4  kecamatan  lain  yakni  Kedungkandang,  Blimbing,  Lowokwaru  dan  Klojen memiliki  rasio  dengan  kategori  baik, sedangkan  Kecamatan  Sukun  memiliki  rasio  sangat  baik.  Di Kabupaten Malang, 17 kecamatan memiliki rasio sangat baik, 3 kecamatan menunjukkan nilai rasio baik, 12 Kecamatan  memiliki nilai rasio 0-0,9, menunjukkan jumlah apotek yang berada di Kecamatan tersebut kurang dari jumlah fasilitas kesehatan. Kata Kunci:distribusi apotek; nearest neighbour statistics; rasio apotek; SIG</summary>
    <dc:date>2022-09-21T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
</feed>

