<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <title>DSpace Collection: 784 - 886</title>
  <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6472" />
  <subtitle>784 - 886</subtitle>
  <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6472</id>
  <updated>2026-04-20T09:23:55Z</updated>
  <dc:date>2026-04-20T09:23:55Z</dc:date>
  <entry>
    <title>Persepsi pasien terhadap peran keluarga sebagai pengawas menelan obat (PMO) dengan kepatuhan minum obat pada pasien tuberkulosis paru</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6496" />
    <author>
      <name>Purba, Eva Dewi Rosmawati</name>
    </author>
    <author>
      <name>Sudirman, Muhammad Seto</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6496</id>
    <updated>2024-09-26T04:37:40Z</updated>
    <published>2024-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Persepsi pasien terhadap peran keluarga sebagai pengawas menelan obat (PMO) dengan kepatuhan minum obat pada pasien tuberkulosis paru
Authors: Purba, Eva Dewi Rosmawati; Sudirman, Muhammad Seto
Abstract: Pendahuluan: Tuberkulosis merupakan suatu penyakit yang sifatnya kronis dengan karakteristik terbentuknya tuberkel granuloma pada paru yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis. Pengawas Minum Obat (PMO) merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam strategi program Directly Observed Treatment Shortcourse (DOTS). Tujuan: Untuk mengetahui ada atau tidaknya hubungan peran pengawas menelan obat tuberkulosis paru dan tingkat kepatuhan pasien di Puskesmas Gerunggang Kota Pangkalpinang. Metode: Penelitian observasional deskriptif dengan desain penelitian cross sectional. Pengumpulan data menggunakan data primer yang diperoleh dari hasil jawaban kuesioner responden pasien tuberkulosis paru dengan cara membagikan kuesioner kepada responden dan data sekunder yang diperoleh dari sumber-sumber yang telah ada seperti pencatatan dan pelaporan tuberkulosis paru. Hasil: Menunjukkan hubungan antara peran pengawas yang baik bahwa 2 orang mempunyai kepatuhan minum obat yang termasuk kategori patuh. Sedangkan 1 orang mempunyai kepatuhan minum obat dalam kategori tidak patuh sehingga dapat diketahui bahwa pasien dengan peran PMO yang baik cenderung mempunyai kepatuhan minum obat dalam kategori patuh. Pada pasien dengan peran PMO yang kurang 10 orang diketahui bahwa mempunyai kepatuhan minum obat yang termasuk kategori patuh, sedangkan 8 pasien mempunyai kepatuhan minum obat yang termasuk kategori tidak patuh. Hasil uji Chi Square diperoleh nilai R2hitung = 0.719. Simpulan: Tidak ada hubungan yang bermakna antara peran pengawas menelan obat dan tingkat kepatuhan pasien dalam meminum obat TB Paru.</summary>
    <dc:date>2024-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Perbandingan efektivitas kompres hangat serai dan musik gamelan terhadap intensitas nyeri rheumatoid arthritis pada lansia</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6493" />
    <author>
      <name>Andriati, Riris</name>
    </author>
    <author>
      <name>Prakasa, Juansah Satya</name>
    </author>
    <author>
      <name>Yudhiatama, Muh Firman</name>
    </author>
    <author>
      <name>Pratiwi, Rita Dwi</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6493</id>
    <updated>2024-09-26T04:33:55Z</updated>
    <published>2024-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Perbandingan efektivitas kompres hangat serai dan musik gamelan terhadap intensitas nyeri rheumatoid arthritis pada lansia
Authors: Andriati, Riris; Prakasa, Juansah Satya; Yudhiatama, Muh Firman; Pratiwi, Rita Dwi
Abstract: Pendahuluan: Rheumatoid arthritis merupakan gangguan peradangan kronis autoimun yang sering dialami oleh lansia. Untuk mengurangi kelumpuhan dan meningkatkan kualitas hidup lansia ada 2 macam pengobatan yaitu farmakologi disease modifying anti rheumatic drugs (DMARDs) dan pengobatan non-farmakologi yaitu dengan kompres hangat serai. Pengobatan tersebut berguna untuk menghangatkan sendi, anti peradangan, dan dapat memperlancar aliran darah. Teknik relaksasi dapat menggunakan musik, musik yang digunakan yaitu musik gamelan, pada umumnya musik gamelan sinkron dengan usia dan kondisi lansia. Tujuan: Untuk mengetahui efektivitas kompres hangat serai dan musik gamelan terhadap intensitas nyeri rheumatoid arthritis pada lansia di wilayah panti Werdha Melania. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain quasi eksperimental menggunakan pendekatan one group pretest postest Penelitian dilakukan di wilayah panti Werdha Melania dan dilaksanakan pada bulan April-Juni 2023. Populasi dalam penelitian ini sebanyak 42 orang lansia yang dibagi menjadi dua kelompok yakni, 21 orang kompres hangat serai dan 21 orang musik gamelan. Teknik pengumpulan menggunakan non-probability sampling dengan metode total sampel. Terdapat dua variabel independen yaitu kompres hangat serai dan terapi musik gamelan. Variabel dependen yaitu intensitas nyeri rheumatoid arthritis. Hasil: Berdasarkan uji Wilcoxon di dapatkan hasil p-value 0.00 &lt; 0.05 untuk kedua kelompok yaitu kompres hangat serai dan musik gamelan. Hal ini terlihat adanya perbedaan nilai rata rata sebelum dan sesudah antara kelompok kompres hangat serai 3.10 turun menjadi 1.14 dan kelompok musik gamelan 3.10 turun menjadi 1.76. Simpulan: Kompres hangat serai dan musik gamelan sama-sama dapat mengurangi intensitas nyeri rheumatoid arthritis pada lansia. Namun kompres hangat serai lebih efektif karena mengandung minyak atsiri yang bermanfaat untuk meredakan nyeri terutama bagian sendi dan merenggangkan kejang otot. Saran: Kedua terapi ini dapat diterapkan oleh penderita rheumatoid arthritis untuk menangani nyeri. Selain itu, agar penderita menjaga pola makan, istirahat yang cukup, dan olahraga rutin untuk menjaga kesehatan. Kepada penelitian selanjutnya agar menyertakan variabel lain yang belum diteliti yang berhubungan dengan nyeri rheumatoid arthritis.</summary>
    <dc:date>2024-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak prasekolah di Kabupaten Ende</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6490" />
    <author>
      <name>Owa, Khrispina</name>
    </author>
    <author>
      <name>Tokan, Pius Kopong</name>
    </author>
    <author>
      <name>Bedho, Martina</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6490</id>
    <updated>2024-09-26T04:27:04Z</updated>
    <published>2024-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak prasekolah di Kabupaten Ende
Authors: Owa, Khrispina; Tokan, Pius Kopong; Bedho, Martina
Abstract: Pendahuluan: Indonesia merupakan salah satu negara endemik soil transmitted helminths (STH) dengan jumlah anak usia 1-14 tahun terbanyak ketiga di dunia setelah India dan Nigeria yaitu sekitar 7% di tahun 2012 dan diperkirakan lebih dari 1.5 miliar orang atau 24% dari populasi dunia terinfeksi cacing yang ditularkan melalui tanah. Diperkirakan lebih dari dua miliar orang dengan infeksi STH di dunia mengalami morbiditas berat. Infeksi tersebut menyebabkan 9-135 ribu kematian per tahun. Prevalensi infeksi cacingan di Indonesia terutama pada penduduk dengan sosio-ekonomi rendah, masih relatif tinggi yaitu sebesar 45-65%. Kelompok ini mempunyai risiko tinggi terjangkit penyakit kecacingan karena kurang menjaga kebersihan dan sanitasi lingkungan tempat tinggalnya. Tujuan: Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak prasekolah di Kabupaten Ende. Metode: Jenis penelitian dengan rancangan mixed metode yang menggunakan non experiment yaitu penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah anak-anak berusia 12-72 bulan yang berada di desa Gheoghoma Kabupaten Ende dengan pengambilan simple random sampling dilakukan secara acak. Jumlah responden dengan pertimbangan sampel yang representatif dilakukan dalam waktu 3 bulan sesuai kriteria inklusi sehingga didapatkan sampel sebanyak 82 responden. Hasil: menunjukkan bahwa pengetahuan ibu terhadap kecacingan mayoritas berada pada kategori baik tidak terjadi stunting sebanyak 55 (69.6%) dan tidak ada yang mengalami stunting, sedangkan ibu dengan tingkat pengetahuan buruk sebanyak 24 (30.4%) tidak mengalami stunting namun juga mengalami stunting sebanyak 3 (100%). Hasil uji Chi-Square diketahui bahwa pengetahuan ibu yang buruk mengenai penyebab, pencegahan dan penanggulangan kecacingan mempunyai pengaruh terhadap stunting pada anak dengan OR 1.125 (95% CI: 0.985-1.285 p-value = 0.01 (p&lt;0.05). Simpulan: Faktor yang berpengaruh terhadap stunting yakni rendahnya pengetahuan orangtua tentang manfaat pemberian obat cacing pada anak. Meskipun Infeksi cacing dalam penelitian ini kurang berpengaruh terhadap status gizi pada anak, tetapi kemungkinan bisa memberi dampak di masa depan jika tidak ada pencegahan dan penanganan segera. Saran: Bagi tenaga kesehatan agar senantiasa memberikan dukungan pelaksanaan program pencegahan kecacingan dan stunting dengan meningkatkan peran masyarakat dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Bagi peneliti selanjutnya agar menambahkan faktor risiko terjadinya stunting dengan variabel berbeda dan jumlah sampel yang lebih banyak.</summary>
    <dc:date>2024-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>Faktor-faktor yang mempengaruhi kelengkapan vaksinasi dasar pada balita usia 9-24 bulan</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6486" />
    <author>
      <name>Rahmandini, Hafizhah Harjiati</name>
    </author>
    <author>
      <name>Lukman, Iing</name>
    </author>
    <author>
      <name>Amirus, Khoidar</name>
    </author>
    <author>
      <name>Samino, Samino</name>
    </author>
    <author>
      <name>Riyanti, Riyanti</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/6486</id>
    <updated>2024-09-26T04:21:11Z</updated>
    <published>2024-01-01T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: Faktor-faktor yang mempengaruhi kelengkapan vaksinasi dasar pada balita usia 9-24 bulan
Authors: Rahmandini, Hafizhah Harjiati; Lukman, Iing; Amirus, Khoidar; Samino, Samino; Riyanti, Riyanti
Abstract: Pendahuluan: Vaksinasi dasar merupakan jenis vaksinasi pertama yangg harus diberikan pada bayi sejak lahir untuk melindungi tubuhnya dari penyakit tertentu. Program vaksinasi termasuk dalam upaya untuk menurunkan angka kesakitan, kecatatan dan kematian pada bayi dan balita. Pada tahun 2019-2020 awal pencapaian vaksinasi dasar 95% sesuai target, dan pertengahan tahun 2020 sampai akhir tahun 2021 menjadi hanya 76% dan pada tahun 2022 mengalami kenaikan sekitar 85%. Tujuan: Untuk mengetahui determinan kelengkapan vaksinasi dasar pada balita usia 9-24 bulan di UPTD Puskesmas Rawat Inap Mampu Poned Dayamurni Tulang Bawang Barat tahun 2023. Metode: Penelitian analitik kuantitatif dengan rancangan Cross-Sectional. Teknik pengambilan jumlah sampel purposive sampling, dan yang memenuhi kriteria inklusi sebanyak 108 orang. Analisa data menggunakan uji chi square dan analisa multivariat menggunakan regressi logistic ganda. Hasil: Analisis diperoleh bahwa ibu berpendidikan rendah (51.9%), mendapat dukungan keluarga (54.6%), aksesibilitas pelayanan vaksinasi yang terjangkau (75.9%), mendapatkan dukungan peran petugas kesehatan (63.9%). Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan (p–value=0.026), dukungan keluarga (p–value=0.000), Aksesibilitas Pelayanan Vaksinasi (p–value= 0,000),dukungan peran petugas kesehatan(p–value=0,000) dengan kelengkapan vaksinasi dasar. Analisa multivariate dukungan keluarga merupakan variabel dominan terhadap kelengkapan vaksinasi dasar pada anak dibandingkan dengan peran petugas kesehatan dan akses pelayanan kesehatan ( p–value=0.000). Simpulan: Faktor berpengaruh yang paling dominan terhadap kelengkapan vaksinasi dasar adalah faktor dukungan keluarga dibandingkan dengan faktor pendidikan ibu, faktor akses pelayanan, dan faktor dukungan peran petugas kesehatan. Saran: Perlu ditingkatkan lagi penyuluhan dan edukasi tentang pentingnya vaksinasi dasar untuk kesehatan dan kekebalan tubuh bayi agar terhindar dari penyakit berbahaya, untuk meningkatkan pengetahuan kepada masyarakat khususnya ibu-ibu dan keluarganya sehingga bisa mengerti apa tujuan dan manfaat dari vaksinasi untuk kesehatan balitanya.</summary>
    <dc:date>2024-01-01T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
</feed>

