<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <title>DSpace Collection:</title>
  <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4237" />
  <subtitle />
  <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4237</id>
  <updated>2026-04-14T20:44:46Z</updated>
  <dc:date>2026-04-14T20:44:46Z</dc:date>
  <entry>
    <title>KAJIAN KARAKTERISTIK GEOTEKSTIL DARI LIMBAH KAIN DENIM</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4244" />
    <author>
      <name>Fahruroji, Rizal</name>
    </author>
    <author>
      <name>Marlina, Rini</name>
    </author>
    <author>
      <name>Widiana, Ineu</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4244</id>
    <updated>2023-03-31T04:56:45Z</updated>
    <published>2020-12-26T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: KAJIAN KARAKTERISTIK GEOTEKSTIL DARI LIMBAH KAIN DENIM
Authors: Fahruroji, Rizal; Marlina, Rini; Widiana, Ineu
Abstract: ABSTRAK&#xD;
Limbah kain denim yang dihasilkan dari beberapa industri tekstil berjumlah sekitar 40 ton per tahun belum&#xD;
termanfaatkan secara optimal. Bahan dasar dari kain denim tersebut adalah kapas. Kapas dikenal bersifat&#xD;
higroskopis dan memiliki moisture regain yang tinggi sehingga dapat mempertahankan kelembaban. Limbah kain&#xD;
denim dipilih sebagai bahan dasar geotekstil karena serat kapas yang terkandung dalam limbah kain denim ini dapat&#xD;
mempertahankan kelembaban geotekstil sehingga karakteristik struktur yang dilindungi oleh geotekstil ini akan&#xD;
terjaga bahkan lebih baik. Untuk memanfaatkan dan meningkatkan nilai tambah limbah kain denim, maka dilakukan&#xD;
penelitian pembuatan geotekstil nir tenun (non woven) campuran dari limbah kain denim dengan PET recycle dan&#xD;
low melt fiber, dengan memvariasikan gramasi dan komposisi untuk mendapatkan nilai optimum. Hasil uji&#xD;
menunjukkan bahwa geotekstil dengan dengan kode sampel C1, C2, dan C3 memiliki kualitas kekuatan tarik dan&#xD;
kekuatan sobek lebih tinggi dibanding sampel lainnya. Sampel C1, C2, dan C3 memiliki komposisi geotekstil terdiri&#xD;
dari 85% limbah kain denim dan 15% low melt fiber.&#xD;
Kata kunci: kain denim, kapas, geotekstil, kekuatan tarik, kekuatan sobek</summary>
    <dc:date>2020-12-26T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>APLIKASI POLIETILENA GLIKOL SEBAGAI PHASE CHANGE MATERIAL (PCM) PADA KAIN CAMPURAN POLIESTER/CATIONIC DYEABLE POLYESTER DAN POLIESTER/RAYON</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4243" />
    <author>
      <name>Nugraha, Jakariya</name>
    </author>
    <author>
      <name>Sugiyana, Doni</name>
    </author>
    <author>
      <name>Wahyudi, Tatang</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4243</id>
    <updated>2023-03-31T04:43:04Z</updated>
    <published>2020-12-18T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: APLIKASI POLIETILENA GLIKOL SEBAGAI PHASE CHANGE MATERIAL (PCM) PADA KAIN CAMPURAN POLIESTER/CATIONIC DYEABLE POLYESTER DAN POLIESTER/RAYON
Authors: Nugraha, Jakariya; Sugiyana, Doni; Wahyudi, Tatang
Abstract: ABSTRAK&#xD;
Pada saat ini pengembangan produk tekstil fungsional cukup pesat, salah satunya adalah produk tekstil fungsional yang memiliki sifat thermo-regulating. Untuk maksud tersebut, pada penelitian ini telah dilakukan penerapan phase change material (PCM) yang berbasis polietilena glikol (PEG) pada kain campuran poliester/cationic dyeable polyester (CDP) dan campuran poliester/rayon (T/R) dengan cara pad-dry-cure. Formula PCM yang digunakan merupakan campuran PEG (berat molekul 1000) 5%/ N-metiloldihidroksietilenurea (N-MDHEU) 3%/ katalis MgCl2 0,3 % dalam suasana asam. Karakterisasi dan pengujan kain hasil percobaan dilakukan dengan menggunakan fourier transform infrared (FTIR), scanning electron microscope (SEM) dan differential scanning calorimeter (DSC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kain poliester/CDP yang diberi perlakuan memiliki aktivitas termal dengan nilai T(m)= 36,95°C, ΔHf = 4,98 J/g dan T(c)= 20,06°C, ΔHc = 5,30 J/g, sedangkan kain T/R yang juga diberi perlakuan mempunyai aktivitas termal dengan nilai T(m)= 34,56°C, ΔHf = 0,079 J/g, dan T(c)= 19,49°C, ΔHc = 0,024 J/g. Hasil uji pencucian terhadap kain hasil percobaan menunjukkan hasil yang belum optimal, dimana pada uji pencucian yang setara dengan 1 kali pencucian rumah tangga menunjukkan PCM masih terdegradasi dari permukaan kain.</summary>
    <dc:date>2020-12-18T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>PREPARASI DAN KARAKTERISASI MEMBRAN SERAT NANO POLIVINIL ALKOHOL/GELATIN DENGAN ANTIBIOTIKA TOPIKAL MENGGUNAKAN METODE ELECTROSPINNING</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4242" />
    <author>
      <name>Mutia, Theresia</name>
    </author>
    <author>
      <name>Novarini, Eva</name>
    </author>
    <author>
      <name>Gustiani, RR. Srie</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4242</id>
    <updated>2023-03-31T04:39:16Z</updated>
    <published>2020-12-16T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: PREPARASI DAN KARAKTERISASI MEMBRAN SERAT NANO POLIVINIL ALKOHOL/GELATIN DENGAN ANTIBIOTIKA TOPIKAL MENGGUNAKAN METODE ELECTROSPINNING
Authors: Mutia, Theresia; Novarini, Eva; Gustiani, RR. Srie
Abstract: ABSTRAK&#xD;
Pada penelitian ini dilakukan proses electrospinning membran serat nano dari polivinil alkohol (PVA) dan gelatin dengan penambahan antibiotika topikal (Bacitracin dan Neomycin). Membran serat nano ini berpotensi untuk dijadikan sebagai produk pembalut luka atau media penghantar obat. Membran serat nano paling optimum diperoleh pada konsentrasi larutan PVA 10% (w/w) dan gelatin 5% (w/w) dengan rasio komposisi berat 70/30. Kondisi ini menghasilkan serat nano dengan ukuran ≤300 nm dan keseragaman serat yang cukup baik berdasarkan analisis morfologi menggunakan SEM. Penambahan antibiotika topikal dilakukan pada kondisi pembuatan membran serat nano paling optimum. Berdasarkan hasil analisis gugus fungsi menggunakan FTIR, pada grafik terlihat gabungan antara spektra PVA, gelatin, dan antibiotika topikal. Hal ini menandakan adanya interaksi antara molekul PVA, gelatin, dengan antibiotika topikal.&#xD;
Kata kunci: electrospinning, serat nano, PVA, gelatin, antibiotika topikal</summary>
    <dc:date>2020-12-16T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>PENGARUH KETEBALAN KAIN TERHADAP MOTIF BATIK PADA KAIN TENUN SUTRA SAMIA</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4241" />
    <author>
      <name>Kurnia Syabana, Dana</name>
    </author>
    <author>
      <name>Ekarini, Novita</name>
    </author>
    <author>
      <name>Satria, Yudi</name>
    </author>
    <author>
      <name>Hardjanto, Pandji</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4241</id>
    <updated>2023-03-31T04:24:01Z</updated>
    <published>2020-11-06T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: PENGARUH KETEBALAN KAIN TERHADAP MOTIF BATIK PADA KAIN TENUN SUTRA SAMIA
Authors: Kurnia Syabana, Dana; Ekarini, Novita; Satria, Yudi; Hardjanto, Pandji
Abstract: ABSTRAK&#xD;
Hasil akhir suatu produk batik dapat dipengaruhi oleh jenis kain dan kontruksinya. Salah satu jenis kain yang umum digunakan untuk produk batik adalah sutra. Sutra Samia dihasilkan dari ulat Samia cynthia ricini sutra yang memakan daun jarak atau daun singkong karet. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh ketebalan kain sutra Samia terhadap motif batik yang dihasilkan. Metode kualitatif digunakan dengan mengukur interpretasi responden dengan skala Likert terhadap motif dan parameter malam batik. Kain sutra Samia diperlakukan dalam kondisi kering dan lembab dengan 1 kali dan 2 kali pencapan, pencelupan sebanyak 5 kali dengan pewarna alam tingi (Ceriops tagal) dan fiksasi kapur dan tunjung. Hasil yang didapatkan kain A dengan kondisi lembab 2 kali pencapan dan fiksasi tunjung (Ab2t) memiliki nilai kesempurnaan motif “sangat baik”. Kain B kondisi lembab dengan 2 kali pencapan dan fiksasi tunjung (Bb2t) memiliki nilai ketegasan tapak klowong dan tapak isen “baik”. Kain C kondisi kering dengan 2 kali pencapan dan fiksasi tunjung (Ca2t) memiliki nilai daya tembus “cukup baik”, sedangkan kain A kondisi lembab dengan 2 kali pencapan dan fiksasi tunjung (Ab2t) memiliki nilai kerataan pelekatan malam batik “baik”. Ketebalan kain, kondisi perlakuan awal, proses pencapan, serta fiksasi yang berbeda akan berpengaruh terhadap kesempurnaan motif, ketegasan tapak klowong, tapak isen, daya tembus, serta kerataan malam batik yang dihasilkan pada kain tenun sutra Samia.&#xD;
Kata kunci: sutra samia, tebal kain, motif batik</summary>
    <dc:date>2020-11-06T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
</feed>

