<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<feed xmlns="http://www.w3.org/2005/Atom" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
  <title>DSpace Community:</title>
  <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3491" />
  <subtitle />
  <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/3491</id>
  <updated>2026-04-09T04:03:21Z</updated>
  <dc:date>2026-04-09T04:03:21Z</dc:date>
  <entry>
    <title>KELAYAKAN FINANSIAL ROLLER BLIND DARI KAIN TENUN AKAR WANGI</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4271" />
    <author>
      <name>Thoriq, Ahmad</name>
    </author>
    <author>
      <name>Hasta Pratopo, Lukito</name>
    </author>
    <author>
      <name>Devanni Fajriyanti, Desviana</name>
    </author>
    <author>
      <name>Arip, Muhamad</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4271</id>
    <updated>2023-04-01T03:56:38Z</updated>
    <published>2022-12-14T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: KELAYAKAN FINANSIAL ROLLER BLIND DARI KAIN TENUN AKAR WANGI
Authors: Thoriq, Ahmad; Hasta Pratopo, Lukito; Devanni Fajriyanti, Desviana; Arip, Muhamad
Abstract: ABSTRAK&#xD;
 &#xD;
Roller blind kain tenun akar wangi merupakan inovasi tirai penutup jendela ramah lingkungan yang dapat&#xD;
memberikan wangi aromaterapi yang dihasilkan oleh kain tenun akar wangi. Penelitian ini bertujuan untuk&#xD;
melakukan analisis kelayakan finansial usaha produksi roller blind kain tenun akar wangi. Tahapan awal yang&#xD;
dilakukan pada penelitian ini adalah persiapan bahan baku akar wangi, pembuatan kain tenun akar wangi,&#xD;
pembuatan roller blind kain tenun akar wangi, dan analisis finansial roller blind kain tenun akar wangi yang telah&#xD;
dibuat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapasitas pembuatan kain tenun akar wangi menggunakan alat tenun&#xD;
bukan mesin adalah 101,3 cm²/menit atau setara dengan 72 m x 70 cm per bulan dan diperoleh roller blind kain&#xD;
tenun akar wangi dengan ukuran 120 cm x 70 cm sebanyak 60-unit perbulan. Biaya yang harus dikeluarkan untuk&#xD;
memproduksi roller blind kain tenun akar wangi sebanyak 60-unit adalah Rp16.988.299,00 per bulan dan diperoleh&#xD;
HPP sebesar Rp283.138,00 per unit. Pada harga roller blind kain tenun akar wangi Rp3.600,00 per cm&#xD;
 atau&#xD;
Rp302.400,00 per unit maka diperoleh nilai NPV sebesar Rp38.000.874,00, BCR sebesar 1,05, IRR sebesar 9,16%,&#xD;
dan PBP pada bulan ke-11.&#xD;
&#xD;
Kata kunci: roller blind, akar wangi, kain tenun, kelayakan finansial, aromaterapi</summary>
    <dc:date>2022-12-14T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>PEMANFAATAN MIKROALGA AMOBIL SEBAGAI ADSORBEN PADA PENYISIHAN ZAT WARNA REACTIVE BLUE 4 (RB4) DAN REACTIVE RED 120 (RR120) DALAM LIMBAH CAIR TEKSTIL</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4270" />
    <author>
      <name>Kardena, Edwan</name>
    </author>
    <author>
      <name>Syifa Yusharani, Malinda</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4270</id>
    <updated>2023-04-01T03:49:44Z</updated>
    <published>2022-12-15T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: PEMANFAATAN MIKROALGA AMOBIL SEBAGAI ADSORBEN PADA PENYISIHAN ZAT WARNA REACTIVE BLUE 4 (RB4) DAN REACTIVE RED 120 (RR120) DALAM LIMBAH CAIR TEKSTIL
Authors: Kardena, Edwan; Syifa Yusharani, Malinda
Abstract: ABSTRAK&#xD;
 &#xD;
Pengolahan limbah zat warna dapat dilakukan dengan proses adsorpsi, namun mengalami keterbatasan biaya&#xD;
akibat harga adsorben yang mahal. Salah satu bahan baku adsorben potensial yang dapat digunakan adalah&#xD;
mikroalga. Penelitian ini menjelaskan proses pemanfaatan mikroalga dalam bentuk amobil sebagai adsorben untuk&#xD;
penyisihan Reactive Blue 4 (RB4) dan Reactive Red 120 (RR120). Alga yang digunakan berupa alga blooming dari&#xD;
Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) Bojongsoang yang dilakukan proses imobilisasi menggunakan silika.&#xD;
Adsorben diuji menggunakan FTIR, pH pzc, BET, dan SEM-EDS. Proses adsorpsi dilakukan dalam sistem batch&#xD;
(variasi perlakuan awal, pH, massa adsorben, dan waktu kontak) dan dalam reaktor kolom (variasi konsentrasi&#xD;
awal). Parameter yang diukur yaitu efisiensi penyisihan, model isoterm (Langmuir/Freundlich), kinetika reaksi (orde&#xD;
satu semu/orde dua semu), dan model kurva breakthrough. Hasil sistem batch menunjukkan kondisi adsorpsi terbaik&#xD;
terjadi menggunakan mikroalga-NaOH saat kondisi larutan pada pH 2 selama 4 jam dengan massa adsorben&#xD;
RB4=2,5 gram dan RR120=2 gram. Efisiensi penyisihan RB4 dan RR120 mencapai 98,58% dan 98,56%. Model&#xD;
isoterm cenderung mengikuti isoterm Langmuir dengan kinetika reaksi orde dua semu. Hasil sistem kolom&#xD;
menunjukkan adanya kenaikan konsentrasi awal memberikan waktu breakthrough yang lebih cepat dan kurva&#xD;
breakthrough paling sesuai dijelaskan menggunakan model Thomas dan Yoon-Nelson. Hasil adsorpsi RB4 dan&#xD;
RR120 menggunakan mikroalga amobil memberikan hasil yang lebih baik bila dibandingkan dengan karbon aktif&#xD;
dalam kondisi yang serupa. &#xD;
&#xD;
Kata kunci: adsorpsi, mikroalga amobil, imobilisasi, pewarna, reactive blue, reactive red</summary>
    <dc:date>2022-12-15T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>PENGGUNAAN BIO-FABRIC HASIL FERMENTASI LIMBAH AGRIKULTUR SEBAGAI GARNITURE BUSANA READY TO WEAR</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4269" />
    <author>
      <name>Oktariani, Eka</name>
    </author>
    <author>
      <name>Ibrahim Makki, Ahmad</name>
    </author>
    <author>
      <name>Pramesvari, Ursae</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4269</id>
    <updated>2023-04-01T03:46:03Z</updated>
    <published>2022-12-09T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: PENGGUNAAN BIO-FABRIC HASIL FERMENTASI LIMBAH AGRIKULTUR SEBAGAI GARNITURE BUSANA READY TO WEAR
Authors: Oktariani, Eka; Ibrahim Makki, Ahmad; Pramesvari, Ursae
Abstract: ABSTRAK&#xD;
 &#xD;
Bio-fabric merupakan material yang berasal dari hasil metabolit makhluk hidup, seperti jamur dan bakteri.&#xD;
Karakteristik bio-fabric bergantung pada biomassa pembentuknya. Bio-fabric yang berasal dari bakteri genus&#xD;
Acetobacter memberikan kenampakan seperti kulit hewan, sehingga dapat dimanfaatkan sebagai material pengganti&#xD;
kulit hewan. Kulit hewan merupakan material yang masih digemari penikmat fashion untuk dijadikan sebagai bahan&#xD;
pelengkap busana (garniture), tetapi penggunaannya memberikan dampak negatif bagi lingkungan dan pelestarian&#xD;
hewan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan imitasi material kulit yang ramah lingkungan dengan&#xD;
memanfaatkan selulosa bakterial yang ditumbuhkan dengan bakteri Acetobacter. Penggunaan substrat yang berbeda&#xD;
sebagai medium tumbuh memberikan karakteristik selulosa bakterial yang berbeda, maka pada penelitian ini&#xD;
digunakan campuran limbah agrikultur (buah nanas dan mangga) dengan teh pada variasi perbandingan 1:1, 1:5, 1:10,&#xD;
5:1, dan 10:1 (w/w) untuk mendapatkan selulosa bakterial dengan karakteristik terbaik. Dari hasil penelitian,&#xD;
didapatkan bahwa kultur media yang memberikan yield paling baik pada medium limbah mangga adalah pada&#xD;
perbandingan limbah mangga : teh 1:5 dengan yield 1,35 g/g, sementara untuk medium dari limbah nanas adalah pada&#xD;
perbandingan limbah nanas : teh 1:10  dengan yield 1,194 g/g. Berdasarkan hasil uji karakteristik, selulosa bakterial&#xD;
yang ditumbuhkan dengan limbah nanas : teh 1:10 memberikan nilai ketebalan dan kekuatan tarik terbaik, yakni&#xD;
masing-masing sebesar 0,52 mm dan 6890 g. Selulosa bakterial ini kemudian dijahit menjadi garniture pada busana&#xD;
ready to wear. &#xD;
&#xD;
Kata kunci: Acetobacter, selulosa bakterial, tekstil, garniture, bio-fabric</summary>
    <dc:date>2022-12-09T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
  <entry>
    <title>PENGARUH pH PADA PENCELUPAN BENANG AKRILAT DENGAN ZAT WARNA DISPERSI</title>
    <link rel="alternate" href="http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4268" />
    <author>
      <name>Hardianto, Hardianto</name>
    </author>
    <author>
      <name>Berliana Azzachra, Viera</name>
    </author>
    <id>http://localhost:8080/xmlui/handle/123456789/4268</id>
    <updated>2023-04-01T03:40:00Z</updated>
    <published>2022-12-09T00:00:00Z</published>
    <summary type="text">Title: PENGARUH pH PADA PENCELUPAN BENANG AKRILAT DENGAN ZAT WARNA DISPERSI
Authors: Hardianto, Hardianto; Berliana Azzachra, Viera
Abstract: ABSTRAK&#xD;
 &#xD;
Di industri tekstil, benang akrilat biasanya diwarnai menggunakan zat warna basa. Beberapa literatur&#xD;
menyebutkan bahwa selain oleh zat warna basa, serat akrilat dapat juga diwarnai dengan zat warna dispersi. Namun&#xD;
kenyataannya sangat sulit mendapatkan informasi tentang resep dan kondisi terbaik untuk mewarnai serat akrilat&#xD;
menggunakan zat warna dispersi. Referensi-referensi terdahulu hanya menjelaskan mengenai pencelupan serat akrilat&#xD;
dengan zat warna dispersi dalam suasana asam, belum ada yang membahas pengaruh pH dari asam hingga basa &#xD;
terhadap ketuaan warna. Oleh karena itu, artikel ini memaparkan hasil penelitian mengenai proses pencelupan benang &#xD;
akrilat menggunakan zat warna dispersi dalam suasana asam hingga alkali. Temperatur pencelupan yang digunakan&#xD;
adalah 100°C dan waktu selama 45 menit menggunakan mesin celup jenis tertutup. pH pencelupan divariasikan pada&#xD;
pH 5; 6; 7; 8; dan 9 dengan penambahan asam asetat atau natrium karbonat untuk mengetahui kondisi pH yang tepat. &#xD;
Evaluasi yang dilakukan pada sampel yang dicelup yaitu ketuaan warna (K/S), kerataan warna, dan ketahanan luntur&#xD;
warna terhadap pencucian. Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan, diketahui bahwa pH larutan celup sangat&#xD;
mempengaruhi ketuaan warna (K/S) hasil pencelupan benang akrilat menggunakan zat warna dispersi. Untuk warna&#xD;
merah dan kuning, ketuaan warna paling tinggi diperoleh pada kondisi pencelupan pH 7 dengan nilai K/S berturutturut&#xD;
3,6652&#xD;
dan&#xD;
7,7632.&#xD;
Untuk&#xD;
warna&#xD;
biru,&#xD;
warna&#xD;
paling&#xD;
tua&#xD;
diperoleh&#xD;
pada&#xD;
sampel&#xD;
yang&#xD;
dicelup&#xD;
pada&#xD;
pH&#xD;
5&#xD;
dengan&#xD;
&#xD;
nilai&#xD;
K/S&#xD;
yaitu&#xD;
1,4530.&#xD;
Kondisi&#xD;
pH&#xD;
larutan&#xD;
pencelupan&#xD;
yang&#xD;
semakin&#xD;
tinggi&#xD;
memberikan&#xD;
kerataan&#xD;
warna&#xD;
yang&#xD;
semakin&#xD;
&#xD;
baik.&#xD;
Benang&#xD;
akrilat&#xD;
yang&#xD;
dicelup&#xD;
dengan&#xD;
zat&#xD;
warna&#xD;
dispersi&#xD;
memiliki&#xD;
ketahanan&#xD;
luntur&#xD;
warna&#xD;
terhadap&#xD;
pencucian&#xD;
&#xD;
yang&#xD;
cukup&#xD;
baik&#xD;
dengan&#xD;
rentang&#xD;
nilai&#xD;
sekitar&#xD;
4&#xD;
sampai&#xD;
4-5.&#xD;
Dari&#xD;
hasil&#xD;
penelitian&#xD;
ini,&#xD;
dapat&#xD;
disimpulkan&#xD;
bahwa&#xD;
benang&#xD;
&#xD;
akrilat&#xD;
dapat&#xD;
dicelup&#xD;
menggunakan&#xD;
zat&#xD;
warna&#xD;
dispersi&#xD;
pada&#xD;
suasana&#xD;
asam&#xD;
(pH&#xD;
5-6)&#xD;
dan&#xD;
netral&#xD;
(pH&#xD;
7).&#xD;
Hasil&#xD;
penelitian&#xD;
&#xD;
ini&#xD;
&#xD;
dapat memberikan sumber referensi ilmu pengetahuan mengenai pengaruh pH larutan pencelupan zat warna&#xD;
dispersi pada serat akrilat.&#xD;
&#xD;
Kata kunci: Pencelupan, benang akrilat, ketuaan warna (K/S), kerataan warna, zat warna dispersi, pH, suasana asam&#xD;
dan basa</summary>
    <dc:date>2022-12-09T00:00:00Z</dc:date>
  </entry>
</feed>

